Warning: Parameter 1 to wp_default_scripts() expected to be a reference, value given in /home/dotcom/www/koran-o/wp-includes/plugin.php on line 580

JUMLAH NAPI DAN TAHANAN MEMBELUDAK Anggaran Rp6,4 Miliar hanya Cukup untuk 7 Bulan

MUHAMMAD ISMAIL

SOLO—Meski tahun ini mendapatkan dana senilai Rp6,4 miliar, Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IA Solo harus mencari utangan karena anggaran tersebut hanya cukup untuk tujuh bulan. Dana itu digunakan untuk makan dan minum warga binaan yang terdiri atas narapidana (napi) dan tahanan.
Kepala Rutan Solo, Oga Geofanni Darmawan, mengatakan setiap warga binaan mendapatkan jatah makan senilai Rp14.000 per hari atau untuk tiga kali makan. Jumlah warga binaan di Rutan Solo sebanyak 600 orang dengan perincian 300 napi dan 300 tahanan. Penghuni Rutan Solo melebihi kapasitas selama lebih dari sepuluh tahun. Kondisi ini berdampak pada membengkaknya uang makan warga binaan.
“Kapasitas Rutan Solo idealnya 223 orang. Kami menerima napi dari tiga daerah yakni Sukoharjo, Solo, dan Karanganyar,” kata dia kepada wartawan di Rutan Solo, Kamis (27/4).
Ia menjelaskan jumlah warga binaan yang menempati Rutan Solo fluktuatif. Jumlah warga binaan pada pertengahan April sebanyak 500 orang. Jumlah tersebut bertambah menjadi 600 orang sepekan kemudian.
“Kami hanya mendapatkan jatah makan napi senilai Rp6,4 miliar per tahun. Jumlah napi di Rutan Solo cenderung naik sehingga anggaran makan membengkak,” kata dia.

Pengelola rutan sudah bergerak mencari pinjaman senilai Rp2,4 miliar kepada pihak ketiga untuk membiayai makan napi selama lima bulan yakni Agustus sampai Desember. Oga mengatakan utang tersebut akan dibayar tahun depan begitu Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) kembali mengucurkan dana makan penghuni rutan.
Ia mengakui anggaran makan napi tahun lalu juga membengkak. Pengelola rutan mengutang Rp800 juta kepada pihak ketiga, yakni katering. Utang tersebut dilunasi pada akhir tahun lalu menggunakan sebagian anggaran dari sektor lain, seperti menggeser pagu anggaran jatah makan milik lem­baga pemasyarakatan (LP) di wilayah Soloraya.
“LP Boyolali memiliki jatah uang makan napi 200 orang tetapi jumlah napi hanya 100 orang. Kami menggunakan dana yang tidak terpakai itu untuk napi di Rutan Solo,” kata dia.
Oga mengatakan tiap semester rutan menggelar lelang penyedia makan napi yang diikuti katering-katering di soloraya. Lelang dilakukan tiap semester karena uang yang tersedia hanya cukup untuk enam bulan.
Sementara itu, salah seorang napi, Nonik, mengatakan makanan yang disediakan rutan terbilang mencukupi dari segi gizi. Dalam sehari ia mendapat tiga kali makan dengan lauk seperti tempe, daging ayam, dan telur. (JIBI)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>