Warning: Parameter 1 to wp_default_scripts() expected to be a reference, value given in /home/dotcom/www/koran-o/wp-includes/plugin.php on line 580

GEGER KERATON SOLO BELUM USAI Rumbai Melapor Lagi, Konflik Kian Pelik

Muhammad Ismail

SOLO—Konflik di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat masih jauh dari kata selesai. Putri Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi, G.K.R. Timoer Rumbai Dewayani Kusuma yang merasa dirampas kemerdekaannya melaporkan Satgas Panca Narendra atau Tim Lima ke Polresta Solo, Jumat (28/4).
Terkait pelaporan itu, perwakilan dari Tim Lima, K.P. Bambang Pradotonagoro, mengatakan tindakan Rumbai mengada-ada. Sebelum mela­porkan kasus kemarin, Rumbai juga menggugat PB XIII di Pengadilan Negeri (PN) Solo pada 15 Maret de­ngan materi gugatan melawan hu­kum setelah membentuk Tim Lima.
“Dia [Rumbai] tertahan di salah satu kamar di keputren atau kompleks kediaman putri raja Keraton. Penyegelan di dalam kamar dilakukan atas perintah K.R.Ay. Pradapaningsih,” ujar Kuasa Hukum Rumbai, Muhammad Taufiq, kepada Koran Solo, Jumat.
Taufiq menjelaskan Pradapaningsih adalah istri Sinuhun yang membentuk Tim Lima. Keraton, lanjut dia, memiliki aturan atau paugeran tentang Kerabat Keraton. Aturan tersebut menyebutkan keraton wajib menghidupi dan mencukupi kebutuhan kerabat keraton yang berstatus janda atau orang tua tunggal. Selain itu, kerabat tersebut juga berhak untuk tinggal di Keputren.
“Kami menilai apa yang dilakukan Tim Lima tidak mencerminkan rasa kemanusiaan dan melanggar HAM [hak asasi manusia],” kata dia.
Kasatreskrim Polresta Solo, Kompol Agus Puryadi, mewakili Kapolresta Solo, AKBP Ribut Hari Wibowo, mengatakan dalam waktu dekat akan memanggil sejumlah saksi dari pelapor untuk dimintai keterangan. “Kami masih mendalami isi materi laporan tersebut. Pekan depan akan memintai keterangan saksi dari pelapor di Mapolresta,” kata Agus.
Terpisah, kubu Tim Lima membantah merampas hak Rumbai. Mereka mengklaim tak pernah menghalang-halangi Rumbai bertemu anaknya maupun menyegel tempat tinggal dia.
Bahkan, beberapa waktu lalu Rumbai telah dipertemukan dengan anaknya diantar langsung oleh Kapolsek Jebres, Kompol Juliana. Sejak awal penutupan Keraton Solo oleh polisi pun, polisi membantu Rumbai mengirim makanan. “Mana yang disebut menghalangi itu? Jadi mengada-ada kalau disebut meng­halang-halangi,” kata K.P. Bambang Pradotonagoro, anggota Bidang Eksternal Satgas Panca Narendra, melalui telepon, Jumat (28/4).
Bambang justru mempertanyakan apakah Rumbai memenuhi kewa­jibannya meminta izin kepada Sinuhun untuk tinggal di keraton. Sinuhun selaku raja memiliki hak sebagai pihak yang mendapatkan kewenangan dari undang-undang untuk mengatur keraton.
Ia menyarankan jika Rumbai ingin berkumpul dengan anaknya, silakan keluar dari keputren. Hal serupa juga dilakukan para sentana dalem dan adik-adik Sinuhun lainnya termasuk para janda untuk tinggal di luar keraton. “Mereka enggak ada masalah. Kalau mau masuk keraton ya harus mengikuti adatnya keraton. Saya juga kalau enggak dipanggil Sinuhun ya enggak bisa masuk,” beber dia.
Ia meminta Rumbai jangan memutarbalikkan fakta seakan-akan terjadi pelanggaran. Ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi Rumbai. Rumbai dinilai hanya menuntut haknya tanpa pernah memenuhi kewajibannya. “Jadi ya mohon untuk kuasa hukumnya agar memahami karena ada kewajiban kliennya yang tidak pernah dilakukan [kewajiban meminta izin kepada Sinuhun],” imbuh Bambang. (Cahyadi Kurniawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>