SELAMA RAMADAN DAN LEBARAN Optimistis Jaga Inflasi

JAKARTA—Pemerintah optimistis inflasi selama Ramadan dan Lebaran
tak akan mengalami gejolak seperti tahun lalu yang terkoreksi menjadi paling rendah sejak periode 2014.

Pada 2014, Ramadan dan Lebaran juga jatuh pada periode Mei dan Juni. Secara berurutan inflasi tercatat 0,39% dan 0,69% atau berjumlah 1,08%.
Sementara periode Ramadan dan Lebaran 2014 hingga 2016 jatuh pada Juni dan Juli. Pada 2014 inflasi mencapai 1,36% dengan perincian Juni 0,43% dan Juli 0,93%.
Pada 2015 tercatat 1,47% dengan perincian Juni 0,54% dan Juli 0,93%. Selanjutnya, pada 2016 1,35% dengan perincian Juni 0,66% dan Juli 0,69%.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan inflasi pada periode April sudah cukup membaik, apalagi secara periode tahunan berada di kisaran 3,41%. Sudah menunjukkan arah yang semakin turun.
Menurut Darmin, meski inflasi sudah telanjur tinggi pada awal tahun, tetapi dengan hasil saat ini sudah menunjukkan perubahan yang bagus.
”Intinya kita terus jaga di bawah 0,3%, jika itu dikali 12 bulan kan 3,6%. Sekarang volatile food-nya juga sudah negatif pada 0,26% itu akibat yang tinggi awal tahun,” ujar dia di Jakarta, Rabu (2/5).
Darmin menjelaskan ke depan kecenderungan pasar diproyeksi terus berusaha mendorong naik. Namun, pemerintah sudah memiliki langkah-langkah untuk mengendalikan harga. Sehingga beras arahnya pasti akan lebih turun lagi, dan yang utama juga daging.
Pemerintah, lanjut Darmin, memiliki kebijakan khusus untuk mendorong harga turun utamanya pada beras dan daging. Dengan hal ini, dipercaya masih menjadi jurus jitu dalam pengendalian inflasi ke depan.
”Jadi mestinya Ramadan dan Lebaran inflasi tidak tinggi atau sama seperti bulan sekarang,” imbuh dia.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi April 2018 mencapai 0,10% atau lebih rendah dibandingkan inflasi Mei sebesar 0,20%. Adapun, inflasi tahunannya sebesar 3,41% dan inflasi tahun kalender mencapai 1,09%.
Dari tujuh kelompok pengeluaran, inflasi terbesar terjadi pada kelompok sandang 0,29% dengan andil 0,02%. Posisi kedua ditempati makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,24% dengan andil sebesar 0,05%.
Bahan makanan mengalami deflasi 0,26% didorong komoditas beras yang mengalami deflasi 0,08% dan ikan segar deflasi sebesar 0,03% serta cabai merah sebesar 0,03%. Namun, pada kelompok bahan makanan tetap ada yang mengalami inflasi di antaranya bawang merah 0,07% dan daging ayam ras 0,03%. (JIBI)

IPAK AYU H.N.
redaksi@koransolo.co