Samudra Hindia Jalur Penting Dinamika Dunia

Pada 2015 lalu, pencarian terhadap pesawat terbang Malaysia Airlines MH370 di Samudra Hindia justru menemukan sejumlah kapal karam yang diketahui tenggelam pada abad 19. Ada yang berupa kapal besi dan ada pula yang berupa kapal kayu, yang tenggelam ketika melintasi Samudra Hindia, sebuah samudra yang menjadi jalur penting dalam dinamika dunia sejak berabad-abad lalu. Berikut laporan yang dihimpun wartawan JIBI (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia), Galih Eko Kurniawan, dari berbagai sumber.

Pesawat MH370 relasi penerbangan Kuala Lumpur – Beijing yang berpenumpang 227 dan berawak 12 orang itu, sudah hilang sejak 8 Maret 2014. Operasi pencarian multinasional, yang dipimpin oleh Australia serta melibatkan Malaysia dan Tiongkok, mencakup wilayah kawasan 120.000 kilometer persegi di Samudra Hindia selatan.
Australia secara resmi telah menghentikan pencarian pada Januari 2017 dan telah menyampaikan laporan akhir operasi pada Oktober 2017. Biro Keselamatan Transportasi Australia (ATSB) mengatakan misteri hilangnya Malaysia Airlines MH370 tak pernah terbayangkan dan tidak dapat diterima secara sosial dalam era penerbangan modern ini.
Dalam upaya pencarian pada 2015, secara tak sengaja tim pencari justru menemukan kapal karam di era abad 19. Gambar sonar dari puing kapal yang ditemukan pada 2015 sudah diidentifikasi sebagai kapal dari abad ke-19.
Sebanyak dua puing kapal yang ditemukan dalam proses pencarian Malaysia Airlines MH370 adalah kapal dagang yang tenggelam di Samudra Hindia pada abad ke-19. Kedua kapal yang ditemukan sekitar 2.300 kilomeer di lepas pantai Australia Barat sudah dipersempit oleh para ahli sebagai kapal Inggris yang membawa batu bara.
Para peneliti kelautan Australia secara tidak sengaja menemukan puing keduanya dalam upaya pencarian MH370 di Samudra India pada 2015. Mereka kemudian menggunakan pencitraan sonar dan catatan pelayaran untuk mengidentifikasi kapal tersebut.
Salah satu kapal yang ditemukan pada Desember 2015 tersebut adalah kapal besi. Ross Anderson, kurator arkeologi maritim di Museum Western Australian, mengatakan kapal tersebut kemungkinan merupakan satu dari tiga kapal berikut yang hilang, yakni West Ridge (hilang pada 1883), Kooringa (1894) atau Lake Ontario (1897).
Untuk West Ridge, yang hilang bersama 28 awaknya dalam pelayaran dari Inggris ke India, menjadi kapal yang tampak paling dekat kecocokannya. Ditambahkan, Anderson berat kapal mencapai 1.000 hingga 1.500 ton dan ditemukan relatif utuh dalam keadaan tegak di dasar laut dengan kedalaman 4 km dari permukaan air laut.
Untuk kapal yang satu lagi, yang ditemukan sekitar 36 km dari lokasi kapal tadi, ditemukan pada Mei 2015 dan merupakan kapal kayu. Menurut Anderson, kapal kayu itu mungkin adalah Magdala, yang berlayar dari Wales ke Indonesia namun hilang pada 1882, atau W. Gordon yang hilang dalam pelayaran dari Skotlandia ke Australia pada 1877. Awaknya diperkirakan sekitar 15 hingga 30 orang.
Kolonial Baru
“Bukti-bukti menunjukkan kapal itu tenggelam karena malapetaka besar, seperti ledakan, yang biasa terjadi dalam kapal-kapal barang yang membawa batu bara,” papar Anderson, seperti dikutip dari Detik, Minggu (6/5). Namun, tim tidak bisa mengidentifikasi kapal dengan pasti karena data sejarah yang tidak lengkap.
Kedua puing kapal ditemukan dalam proses pencarian resmi MH370 lewat kerja sama pemerintah Australia, Malaysia dan Tiongkok, yang diakhiri pada 2016 setelah 1.046 hari pencarian. Sebuah perusahaan swasta Amerika Serikat pada awal tahun ini kemudian mengusulkan untuk meneruskan pencarian dengan imbalan ekonomi jika behasil menemukan puing-puing MH370. Proses itu sudah memasuki pekan-pekan terakhir dan masih belum menemukan petunjuk apapun.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat sejarah kegiatan pelayaran dunia di Samudra Hindia yang telah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Sejarah mencatat bahwa Samudra Hindia memegang peranan penting dalam kegiatan pelayaran dunia sejak dahulu hingga saat ini. Kegiatan pelayaran negara-bangsa dari berbagai belahan dunia di Samudra Hindia terbagi menjadi beberapa peri- ode kejayaan serta berbagai interaksi yang terjadi di dalamnya. Berbagai penelitian terkait sejarah kegiatan pelayaran di Samudra Hindia dilakukan untuk memahami berbagai informasi terkait pelaku, motif/tujuan, periode dan wujud interaksi sosial-budaya, ekonomi serta politik di wilayah Samudra Hindia. Hofmeyr (2010) menyebutkan bahwa kegiatan pelayaran di Samudra Hindia melibatkan berbagai bangsa di belahan bumi Asia, Eropa, dan Afrika. Sharma (2014) melaku- kan penelitian khusus mengenai perdagang an laut dan pedagang Muslim di India Selatan
berikut berbagai interaksinya pada 1000–1500. Sementara itu, Wade (2009) melakukan penelitian terkait awal periode kegiatan perdagangan Asia Tenggara melalui Samudra Hindia berlangsung sejak 900–1300 berikut berbagai dinamika interaksi yang terjadi.
Selain motif perdagangan, kegiatan pelayaran di Samudra Hindia berperan dalam mengembangkan wilayah kolonial baru, khususnya bagi bangsa-bangsa Eropa. Sejalan dengan motif tersebut, negara-negara Eropa turut serta membawa ideologi dan sistem politik ekonominya masuk ke negara-negara Asia-Afrika yang menjadi tujuan pelayarannya. Akan tetapi, negara-negara di tepian Samudra Hindia, khususnya di wilayah Asia-Afrika, memiliki beragam ideologi, kebudayaan, dan sistem tatanan sosial masyarakatnya sendiri. (JIBI/Detik/Bisnis.com/LIPI)

 

redaksi@koransolo.co