Sawah Tadah Hujan Kekeringan 50 Ha Gagal Panen, Petani Merugi

SRAGEN—Tanaman padi di lahan tadah hujan seluas 50 hektare di wilayah Kecamatan Mondokan gagal panen karena kekurangan air.

Ratusan pertani di kecamatan tersebut mengalami kerugian ratusan juta rupiah.
Rata-rata padi yang gagal panen sudah berumur dua bulan. Tak sedikit petani yang memanen dini meskipun hasilnya tak bisa diharapkan karena banyak gabah tak berisi. Tumiyem, warga Desa Kedawung, Mondokan, Sragen, saat ditemui Koran Solo di sawahnya, Minggu (6/5), mengaku tanaman padinya dipangkas sendiri dan dibawa pulang dengan menggunakan motor. Tumiyem rugi besar karena hanya menikmati hasil sepertiga dari panennya.
“Ini kekurangan air sehingga tanamannya mengering dan gabahnya banyak yang tidak berisi. Hal ini terjadi sejak dua bulan yang lalu. Banyak petani lain yang harus memangkas tanaman padi mereka untuk pakan ternak,” ujarnya.
Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Mondokan, Sragen, Nyono Hari, mengatakan secara umum selama tiga pekan terakhir tidak terjadi hujan di Mondokan. Dari luas tanaman padi 1.600 hektare di Mondokan, menurut dia, hanya 50 hektare yang gagal panen. Dia menjelaskan petani di Mondokan praktis hanya mengandalkan air hujan. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kata Nyono, pada April-Mei masih ada hujan yang diandalkan petani tetapi pada April-Mei 2018 nyaris tak ada hujan.
“Dampaknya ya tanaman padi yang menunggu panen tidak bisa panen. Selama bertahun-tahun, ya baru kali ini terjadi. Alam ini menunjukkan musim kemarau akan berlangsung panjang. Cuaca tahun ini di luar prediksi petani,” ujarnya.
Sebanyak 50 hektare tanaman padi itu tak ada yang diikutkan program asuransi tani. Nyono menyampaikan kalau kekeringannya setelah tanam tak banyak kerugian tetapi petani sudah tanam dan memupuk dua kali. Rata-rata biaya yang dikeluarkan, kata dia, mencapai Rp5 juta-Rp6 juta per hektare. “Jadi kerugiannya ya tinggal mengalikan, Rp5 juta kali 50 hektare. Sekitar Rp250 juta kerugian yang bisa dihitung. Kalau 20 tahun lalu ada kompensasi kekeringan dari pemerintah. Tetapi tahun ini tidak ada kompensasi itu,” terangnya.
Nyono berharap ada perhatian dari pemerintah agar ada solusi untuk petani Mondokan. Dikatakannya ada lima embung di Mondokan tetapi tidak ada airnya karena hanya mengandalkan tangkapan air hujan. Selain itu, Nyono juga mencatat ada dua sumur dalam tetapi hanya tinggal satu sumur yang berfungsi. “Sumur itu disedot dengan generator sehingga membutuhkan beban biaya tinggi,” tuturnya.

 

Tri Rahayu
redaksi@koransolo.co.id