Burung Lovebird Jadi Maskawin Pernikahan

JAKARTA—Di media sosial sedang viral potongan video prosesi ijab-kabul pengantin. Mempelai pria menjadikan burung lovebird sebagai maskawin. Video ini viral di sejumlah medsos, seperti Facebook dan Instagram. Terlihat ada pengantin yang sedang menjalani prosesi ijab-kabul. ”Dengan maskawin burung lovebird dan uang seratus delapan puluh ribu rupiah dibayar tunai,” kata penghulu.
”Saya terima nikahnya Mara Elviesta binti Koko Asmara dengan maskawin uang seratus delapan puluh ribu rupiah dan sepasang burung lovebird dibayar tunai,” ujar mempelai pria dengan lancar.

Di meja penghulu tersebut tampak ada sangkar burung berisi sepasang burung lovebird yang dijadikan maskawin. Belum diketahui kapan dan di mana ijab-kabul yang viral ini. Di Facebook sendiri ada cukup banyak akun yang mengunggah potongan video ini, termasuk pemilik akun Ahmad Humaidi.
Video ijab-kabul dengan maskawin sepasang burung lovebird yang diunggah Ahmad viral dan dibagikan hingga 920 kali per pukul 12.00 WIB ini. Di medsos sendiri banyak yang berkomentar. Ada yang menilai ini unik, ada pula yang mempertanyakan kenapa maskawinnya tidak seperangkat alat salat.
Dimintai konfirmasi Detik, Ahmad tidak mengetahui kapan dan di mana kejadian tersebut. Dia mengaku mendapatkan video tersebut dari akun Facebook lainnya. ”Itu cuma ambil di grup burung teman-teman. Bukan video pribadi. Nggak tahu juga [kenapa video yang diunggahnya viral], padahal iseng-iseng,” kata Ahmad lewat sambungan telepon.
Wasekjen Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. Sholahudin Al-Ayub, menjelaskan segala sesuatu yang dimubahkan atau dibolehkan secara Islam bisa dijadikan mahar. Dengan catatan, pengantin perempuan dan walinya rida atau setuju. ”Pada prinsipnya, yang namanya maskawin itu adalah hak pengantin perempuan dan wali pengantin perempuan,” kata dia saat dihubungi Senin.
Sholahudin menilai tidak mempermasalahkan burung lovebird dijadikan mahar. Baginya, burung lovebird adalah burung yang dimubahkan, sama saja seperti burung dara. Baginya, burung kicau ini boleh dijadikan mahar. Ia menegaskan tiga hal penting terkait mahar, yaitu hak wali dan mempelai perempuan, tidak memberatkan, dan sesuatu yang mubah atau halal.
”Dalam Islam itu dianjurkan supaya mahar itu tidak mahal-mahal. Artinya, yang ringan, sehingga para pemuda yang menikah itu bisa menjalankannya. Ada beberapa adat istiadat yang mahar pernikahan itu sangat mahal sekali sehingga memberatkan,” sambungnya. (JIBI/Detik)