Kemendag akan Buka Keran Impor Beras

JAKARTA—Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan membuka kembali keran impor beras untuk menjaga pasokan dalam negeri tercukupi.

Izin impor beras terhadap empat negara, yakni India, Pakistan, Vietnam, dan Thailand telah dimulai sejak Februari. Hingga akhir April beras yang masuk ke Indonesia mencapai 412.395 ton. Ditargetkan pada Mei beras impor sudah tiba seluruhnya.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemen­dag) Oke Nurwan mengatakan kemungkinan impor maupun tidaknya komoditas beras tergantung dari kondisi nasional. Namun, pihaknya tidak akan mengambil risiko untuk menyetop impor jika memang dibutuhkan.
“Masak harus dikorbankan rakyat. Kalau kemungkinan impor dengan tidak [impor] tergantung kondisi nasional. Kalau memang dibutuhkan masak harus dikorbankan rakyat. Ini kan baru [impor] segitu [500.000 ton beras],” kata Oke di Gedung Ali Wardhana Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (7/5).
Meski demikian, Oke tidak dapat berbicara banyak terkait peluang impor beras semester kedua mendatang. Kata dia, seluruh keputusan impor akan ditentukan dalam rapat dan tergantung kesepakatan dari seluruh pemangku kebijakan.
Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santosa meminta pemerintah memperhitungkan matang-matang rencana impor agar tidak terlambat bertindak sehingga mampu mengamankan produksi petani di masa panen panen.
Belajar dari impor beras yang diterapkan Februari lalu, pemerintah dinilai terlambat memutuskan rencana impor. Waktu impor beras sangat berdekatan dengan jadwal panen raya pertama petani yang berlangsung Maret – April.
”Saya kira pemerintah jangan malu-malu untuk impor beras. Kalau melihat tanda-tanda kekurangan, bisa dilihat dalam dua bulan ke depan,” kata Dwi Andreas.
Pasokan
Pemilihan waktu impor sangat me­nentukan pasokan dalam negeri dari petani. Jika im­por diputuskan Sep­tem­ber nanti di­­yakini tidak meng­­ganggu pa­nen kedua 2018 oleh petani.
Ketua Umum Persatuan Peng­gi­lingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Per­padi) DKI Jakarta Nellys Sukidi me­­maparkan ma­sa panceklik biasa­nya terjadi mu­lai November hing­ga Februari. Pe­merintah malah harus memas­tikan stok akhir tahun sebesar 2,5 juta ton agar harga tetap stabil di pasar.
Pemerin­tah, me­­nurut­ dia ha­­rus menjaga stok pe­nyang­ga yang cu­kup. Se­­­­men­tara pro­duk­tivitas petani baru dapat dilihat dalam September hingga November. “Kalau kurang harus diisi beras, idealnya dari dalam negeri. Namun jika harus tidak ada, harus menambah dari luar negeri. Kalau yang namanya kebutuhan pokok idealnya dari dalam negeri tapi kalau kurang, menangnya bisa ditunda kebutuhan beras,” jelas dia.
Terpisah, Badan Ketahanan Pangan optimistis menjelang Ramadan dan Lebaran, pasokan beras akan melebihi kebutuhan yang diperlukan masyarakat. Badan Ketahanan Pangan memperkirakan kebutuhan beras saat Ramadan dan Lebaran mencapai 2 juta ton. (Pandu Gumilar/JIBI)

 

Rayful Mudassir
redaksi@koransolo.co