FENOMENA SOSIAL Pelajar SMK Gantung Diri

SRAGEN—Seorang pelajar SMK negeri di Sragen asal Jurangjero, Karangmalang, NAS, 17, ditemukan dalam kondisi gantung diri dengan tali pramuka di kamar mandi rumah kakeknya, Rabu (9/5) petang.

Anak sulung dari empat bersaudara itu diduga bunuh diri lantaran depresi. Polisi belum mengetahui penyebab bunuh diri pelajar laki-laki tersebut.
Kapolsek Karangmalang, Sragen, AKP Mujiyono, mendapatkan laporan dugaan bunuh diri itu pada pukul 18.00 WIB. Ia bersama tim identifikasi Polres Sragen dan petugas Puskesmas Karangmalang langsung mendatangi lokasi kejadian. Empat hari yang lalu, Mujiyono juga menangani kasus bunuh diri di desa tersebut. Lokasi pelajar yang diduga bunuh diri dengan kasus yang sama pada Sabtu (5/5) hanya berbeda dukuh.
NAS tinggal di rumah orang tuanya yang berbeda RT tetapi masih satu RW dengan rumah kakeknya. NAS datang ke rumah kakeknya pukul 17.00 WIB. Saat itu, Sh, 60, kakek korban, sedang menonton televisi di ruang depan. NAS langsung masuk rumah dan menuju kamar mandi. Karena terlalu lama di kamar mandi, Sh mengetuk pintu kamar mandi dan akhirnya mendobrak. Sh kaget dan berteriak saat mendapati cucunya tergantung di kamar mandi dengan tali pramuka.
Beberapa tetangga yang datang sempat mengevakuasi korban ke ruang depan tetapi nyawa korban tidak terselamatkan. “Kami belum tahu penyebab pelajar itu gantung diri. Informasi dari warga, anak itu pintar tetapi pendiam dan agak tertutup. Tetapi menurut teman-teman di sekolah, anak itu ceria. Jenazah disemayamkan di rumah orang tuanya. Kami yang mengantar jenazah dengan mobil Ford Strada,” ujar Kapolsek AKP Mujiyono mewakili Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman saat dihubungi Koran Solo, Rabu malam.
Aktivis Perlindungan Anak Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Sragen, Dyah Nursari, menilai keluarga bisa menjadi benteng utama anak dalam menghadapi segala persoalan hidupnya. “Ketika anak mendapat masalah di luar maka si anak ini curhatnya ke siapa? Kalau keluarga bisa menerima curhatan si anak maka saya kira si anak tidak akan lari ke mana-mana,” ujarnya.
Dyah menekankan kadang-kadang orang tua lupa ketika anak bercerita tentang masalahnya, malah orang tua menasihati dan memarahinya bukan sebagai pendengar yang baik. Dia melanjutkan, akhirnya anak menjadi tidak nyaman di lingkungan keluarga. “Jadi orang tua harus cerdas dan berwawasan, sabar dan menjadi pendengar serta teman anak. Perkembangan anak sekarang berbeda dengan anak zaman dulu. Banyak pergeseran nilai di masyarakat, baik nilai fungsi keluarga atau nilai-nilai sosial. Kalau cara mendidiknya disamakan dengan yang dulu, ya bubar,” tuturnya seraya menyampaikan rencana sosialisasi tentang penguatan ketahanan keluarga.

 

Tri Rahayu
redaksi@koransolo.co