Polri Cari Dalang Rusuh Mako Brimob

BOGOR—Polri menyelidiki dalang di balik tragedi penyanderaan anggota Polri oleh narapidana kasus terorisme di Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Salemba di Mako Brimob Depok, Jawa Barat, Selasa-Kamis (8-10/5). Polri membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk mencari dalang kerusuhan tersebut.
Kerusuhan dan penyanderaan yang berlangsung selama 38 jam itu menyebabkan lima polisi gugur dan empat polisi lainnya terluka. Smentara satu narapidana (napi) kasus terorisme dinyatakan tewas.
”Ini masih simpang siur siapa pelaku. Siapa yang diam, siapa yang melakukan. Ini masih dalam proses. Perlu waktu dua sampai tiga hari,” kata Wakapolri, Komjen Pol. Syafruddin, di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Kamis (10/5).
Selain mencari tahu otak pelaku, Polri menyelidiki jaringan teroris yang terlibat dalam kerusuhan ini. Terdapat 155 narapidana kasus terorisme yang akhirnya menyerah setelah diultimatum kepolisian. Dia menyatakan penanganan kerusuhan yang melibatkan napi terorisme karena ada penyanderaan terhadap polisi. Selain itu, di dalam rutan juga terdapat perempuan dan bayi.

Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian menyebut terdapat perpecahan di antara napi terorisme sehingga polisi tidak langsung mengambil tindakan penyerangan terhadap mereka. Kelompok pertama adalah kelompok yang setuju untuk melakukan kekerasan. Sedangkan kelompok kedua adalah kelompok yang tidak setuju dengan rusuh.
”Itu yang menjadi opsi kami agar jangan sampai ada korban yang banyak, padahal ada yang tidak ingin melakukan kekerasan,” tutur Tito di Mako Brimob. Tito baru tiba di Tanah Air dari tugas kunjungan di Yordania untuk menjadi pembicara dalam penanggulangan terorisme.
Dalam proses penyerahan diri itu tergambar kelompok yang pro kekerasan dan yang tidak. Sebanyak 145 orang langsung menyerahkan diri sedangkan 10 sisanya sempat melawan sehingga terpaksa diserang petugas. Sebanyak 10 orang itu akhirnya menyerah. Napi kasus terorisme yang berjumlah 145 orang kemudian dibawa ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, untuk ditempatkan di sejumlah lembaga pemasyarakatan (LP) di pulau itu.
Tito menyebutkan penanganan rusuh di rutan itu melibatkan sekitar 1.000 personel. Aparat gabungan mengepung Rutan Cabang Salemba yang berada di kompleks Mako Brimob. Polri menyatakan penanganan penyanderaan itu berakhir Kamis pukul 07.15 WIB.
Setelah itu, terdengar suara ledakan hingga lima kali dan rentetan tembakan dari dalam rutan. Komandan Korps (Dankor) Brimob, Irjen Pol. Rudy Sufahriadi, mengatakan para napi teroris yang melakukan pemberontakan di Rutan Cabang Salemba di Mako Brimob sempat menguasai bom. Bom itu merupakan barang bukti sitaan Polri yang belum digudangkan. Barang bukti dan senjata api sitaan itu berada di ruang penyidik Densus 88 Antiteror di area itu.
Wakapolri menyatakan para napi menjebol tembok di rutan untuk mengambil berbagai senjata. ”Senjata dia dapat dari mana-mana, kan dia jebol ini ke mana-mana. Dia dapat kaca dipecahkan, dia dapat besi, dia dapat apa, ini kan dijebol semua,” kata dia.
Mengenai adanya video dari napi yang siaran langsung melalui Instagram, Syafruddin menyebut ponsel yang digunakan merupakan ponsel yang dirampas dari personel Polri.
Dia menyatakan sembilan per­sonel Polri yang disandera lima di antaranya meninggal dunia. ”Lima orang anggota Polri gugur dengan cara pembunuhan sadis. Anda bisa melihat langsung hasil visum at repertum dan penjelasan dokter,” kata dia.
Kapolri menyebut ada kelemahan di Rutan Cabang Salemba di Mako Brimob yang akhirnya menyebabkan lima anggota Densus 88 Antiteror gugur. Lima anggota Densus 88 itu bukan anggota penindakan, namun tim pemberkasan. Dijelaskan Tito kelima polisi itu sehari-hari bertugas melakukan pemberkasan terhadap napi yang dipersiapkan untuk menjalani persidangan.
Di ruang pemeriksaan itu ada sejumlah senjata yang merupakan barang bukti yang biasa ditunjukkan ke napi saat pemberkasan. Saat para napi melakukan kerusuhan, mereka menyerang para polisi yang bertugas melakukan pemberkasan ini. Selain merampas senjata para sandera, mereka juga mengambil senjata dari ruang pemeriksaan tersebut yang merupakan barang bukti.
Dia juga menyebut menyebut rutan itu tidak layak dijadikan rutan untuk tahanan/napi terorisme. Tito menyebut rutan itu bukan masuk kategori pengamanan superketat. Sebab, rutan itu awalnya difungsikan untuk anggota Polri yang terlibat pidana.
Selain itu, jumlah napi atau tahanan melebihi kapasitas daya tampung rutan. Idealnya rutan menampung 64-90 orang. (Detik/Antara/Liputan6.com/JIBI)