Lawan Kekerasan, Tebarkan Toleransi

SOLO—Lisan Santri Camp yang diadakan oleh Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara (PKPPN) IAIN Surakarta memberikan pembekalan kepada para peserta tentang literasi Islam Santun di era milenial. Para peserta dibekali nilai-nilai Islam yang ramah dan santun serta bagaimana menyebarkannya di masyarakat dan media sosial.
Ketua Publikasi PKPPN IAIN Surakarta, Abdul Halim, mengatakan kegiatan ini menjadi penting karena akhir-akhir ini ada kejadian yang terkait dengan kekerasan yang melanda umat beragama. Paling mutakhir adalah peristiwa pengeboman terhadap beberapa Gereja di Surabaya yang terjadi pada Minggu pagi (13/5). Kejadian ini menunjukkan bahwa peristiwa kekerasan seperti bom bunuh diri maupun perusakan terhadap rumah ibadah masih menghantui kehidupan umat beragama di Indonesia.
“Sebelumnya, pada tanggal 12 Mei 2018, para peserta dikukuhkan sebagai Duta Lisan yang akan kembali ke sekolah dan kampus masing-masing untuk mengemban tugas menularkan ilmu yang didapatkan selama pelatihan kepada komunitasnya. Dalam acara pengukuhan tersebut, para peserta menampilkan bakat dan minat masing-masing di hadapan para hadirin seperti penampilan seni hadrah, tari sufi, musikalisasi puisi dan talkshow tentang pengalaman menjadi duta santri nasional oleh sebagian peserta. Semua penampilan menyampaikan pesan-pesan Islam yang penuh dengan cinta kasih dan perdamaian misalnya puisi-puisi dari Gus Mus yang diiringi dengan musik,” ujarnya kepada Espos seusai acara.
Setelah melaksanakan pelatihan selama tiga hari, tepatnya pada Minggu (13/5), tim Lisan Santri Camp mengadakan deklarasi Duta Lisan yang diadakan di Aula Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti-Klaten Jawa Tengah. Pembacaan deklarasi dipimpin langsung oleh ketua Yayasan Al Muttaqien Pancasila Sakti H. Achmad Choiri Saifudin Zuhri Alhady, SIP (Gus Zuhri) dan diikuti oleh semua peserta Duta Lisan dan tim PKPPN IAIN Surakarta.
Lima Poin
Ada lima poin kesepakatan dan komitmen bersama yang dibacakan dalam deklarasi ini, yakni menolak penggunaan agama sebagai sumber ujaran kebencian, menebarkan Islam santun di masyarakat dan media sosial, merawat perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memupuk kerukunan demi terwujudnya persaudaraan antar sesama, dan menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila.
Menurut M. Zainal Anwar, Direktur Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara (PKPPN) IAIN Surakarta, kegiatan ini tidak berhenti dalam deklarasi ini saja tetapi justru menjadi langkah awal dari seluruh peserta dan tim Lisan untuk senantiasa menciptakan suasana kedamaian dalam masyarakat setelah selesai mengikuti program ini. ”Kami berharap mereka menjadi tauladan santun bagi anak-anak muda yang lain sehingga masa depan wajah Islam Indonesia adalah santun dan toleran,” imbuh dosen IAIN Surakarta ini.
M. Endy Saputro, Manager program Lisan menambahkan kegiatan ini sejalan dengan cita-cita pendiri pesantren al-Muttaqien Pancasila K.H. Muslim Rifai Imam Puro (Mbah Liem) yang menjadi tuan rumah acara ini. Mbah Liem merupakan sosok yang terkenal sebagai pecinta sekaligus pencetus NKRI harga mati. “Lisan Santri Camp selain ingin menggali dan menebar nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin juga dimaksudkan untuk meneguhkan kecintaan para pemuda terhadap Indonesia,” imbuh Endy. (Damar Sri Prakoso)