ABORSI BOYOLALI Penggugur Orok Divonis 1 Tahun Penjara

BOYOLALI—Reni Eka Saputri, 19, wanita asal Dukuh Tegalsari, Desa Canden, Kecamatan Sambi, Boyolali yang menggugurkan orok dalam kandungannya Januari lalu divonis 1 tahun penjara.

Putusan tersebut dijatuhkan dalam sidang perkara tersebut di kantor Pengadilan Negeri (PN) Boyolali, Senin (14/5). Majelis hakim PN Boyolali yang ketuai Tuty Budhi Utami serta beranggotakan Agung Wicaksono dan Imelda menyatakan Reni terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana. Perempuan itu dengan sengaja melakukan aborsi yang tak sesuai dengan ketentuan indikasi kedaruratan medis.
Agung yang juga menjabat humas PN menambahkan, hal yang memberatkan perbuatan terdakwa karena ketidakpantasan saja. “Perbuatan terdakwa merupakan perbuatan yang tidak pantas dilakukan seorang ibu terhadap anak yang dikandungnya,” kata Agung, Selasa (15/5).
Sedangkan hal yang meringankan adalah selama proses persidangan terdakwa bersikap sopan dan terdakwa menyesali perbuatannya. “Terdakwa belum pernah dihukum dan terdakwa juga berinisiatif menyerahkan dirinya kepada pihak kepolisian,” terang Agung.
Sementara itu, vonis hakim ini sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Boyolali.
Sebelumnya, Arin Sugesti, 33, bidan yang mengaborsi janin yang dikandung Reni terlebih dahulu menerima vonis 1 tahun penjara. Selain itu, tenaga medis yang bekerja di salah satu rumah sakit di Solo itu juga harus membayar denda senilai Rp100 juta.
Vonis tersebut dijatuhkan majelis hakim dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Boyolali, Senin (30/4). “Terdakwa melanggar Pasal 194 UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan junto pasal 75 ayat 2. Hukuman yang dijatuhkan satu tahun penjara dengan denda Rp100 juta dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar diganti dengan kurungan selama sebulan,” ujar Ketua Majelis Hakim Tuty Budhi Utami saat membacakan amar putusannya.
Dalam sidang dengan hakim anggota Adityo Danur Utomo dan Nalfrijhon itu, majelis hakim menilai sebagai seorang bidan, Arin tidak seharusnya melakukan praktik aborsi.
Sementara itu, hal yang memberatkan untuk dipertimbangkan majelis hakim adalah perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat dan terdakwa menghilangkan nyawa manusia.
Sedangkan hal yang meringankan adalah terdakwa bersikap sopan dalam persidangan dan terdakwa berterus terang.
Vonis terhadap Reni maupun Arin itu menjadi puncak dari kasus penemuan orok di belakang rumah Reni di Dukuh Tegalsari, Desa Canden, Kecamatan Sambi, Boyolali, 3 Januari 2018. Belakangan diketahui orok itu adalah anak kandung Reni yang digugurkan dengan bantuan Arin.
Sedangkan aborsi yang dilakukan Reni dilatarbelakangi rasa kecewa. Dia mengaku janin yang dia aborsi merupakan hasil hubungannya dengan sang pacar yang tidak ia ungkapkan jati dirinya.

 

Akhmad Ludiyanto
redaksi@koransolo.co