Awal Ramadan bakal Serempak hingga 2021

JAKARTA—Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1439 Hijriah/2018 jatuh pada Kamis (17/5), berdasarkan Sidang Isbat di Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Selasa (15/5) malam.
Penentuan awal Ramadan itu serempak atau sama dengan maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang jauh-jauh hari sudah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Kamis. Kebersamaan itu bakal berlanjut hingga 2021. Rukyat yang dilakukan pemerintah dan metode hisab yang dipedomani Muhammadiyah akan menemui titik temu lantaran kriteria ketinggian derajat hilal terakomodasi.
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, mengatakan hingga 2021 mayoritas organisasi Islam akan melaksanakan puasa secara bersamaan.

”Setidaknya ormas-ormas besar itu sudah terakomodasi kita tahu bahwa sampai 2021 awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah itu berpotensi seragam karena posisi bulan itu masih berada di bawah ufuk seperti awal Ramadan ini atau di atas dua derajat seperti nanti Syawal,” ujar Thomas di Kantor Kemenag, Selasa.
Selepas 2021, Thomas mengatakan penentuan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah kembali berbeda. Ini disebabkan kriteria derajat hilal setiap ormas Islam berbeda. Thomas menuturkan derajat hilal Muhammadiyah setinggi 0 derajat, Nahdlatul Ulama setinggi 2 derajat, sementara Persatuan Islam (Persis) 3 derajat.
”Pasca-2021 potensi itu akan terjadi lagi perbedaan ketika posisi bulan berada di kriteria-kriteria berbeda di antara 0 kriteria Muhammadiyah, 2 derajat kriteria NU oleh karenanya kalau kriteria hilal wujud derajatnya di wilayah Indonesia dan 2 derajat NU dipakai pasca 2021 kita akan mengalami perbedaan lagi,” katanya.
Kendati demikian, ia mengatakan agar pemerataan bisa terealisasikan maka rukyat Jakarta sedianya bisa menjadi patokan secara nasional. Tentunya rukyat dilakukan tidak hanya sekadar melihat hilal melainkan juga mempertimbangkan aspek astronomi sehingga mampu dipertanggungjawabkan. ”Kementerian Agama akan mengupayakan supaya rekomendasi Jakarta itu bisa diimplementasikan di tingkat nasional, regional, dan global  kalau kita bisa menyepakati kriteria ini maka insya Allah kita bisa mempunyai kalender Islam tunggal,” ujar Thomas.
Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, bersyukur penentuan awal Ramadan bisa ditetapkan serentak. Karena itu, menurut Lukman, anugerah ini harus dijaga dan dipelihara bersama. ”Tentu sebagaimana yang disampaikan MUI [Majelis Ulama Indonesia], ini berkah dari Allah. Ini anugerah dari Tuhan bahwa tahun ini kita kembali bersama-sama mengawali puasa di bulan Ramadan,” kata Lukman saat konferensi pers di Kantor Kemenag, Selasa.
Sidang Isbat dimulai sekitar pukul 18.15 WIB seusai salat magrib. Sidang dihadiri Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, perwakilan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, ormas-ormas Islam, Lapan, dan lain-lain.
Sebelumnya, Menag telah menerima paparan posisi hilal dari pemantau di 32 provinsi. Metode yang digunakan pemerintah adalah rukyat. ”Dari pelaku rukyatul hilal yang tersebar di 95 titik seluruh Tanah Air, maka sampai dengan Isbat tadi berlangsung kita menerima 32 pelaku rukyatul hilal kita menerima laporan kesaksian mereka. Dari 32 yang melaporkan, tidak satu pun yang berhasil melihat hilal. Maka dengan dua hal tadi, perhitungan hisab dan hasil rukyatul hilal yang tidak melihat hilal, sebagaimana ketentuan selama ini yang kita pegangi, sebagaimana fatwa MUI, maka bulan Syakban saat ini kita sempurnakan menjadi 30 hari. Malam hari ini adalah tanggal 30 Syakban, dengan demikian maka 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 17 Mei 2018,” ujar Menag.
Metode yang digunakan pemerintah untuk menentukan awal Ramadan adalah rukyat dengan melihat posisi hilal. Sementara itu, Muhammadiyah sudah lebih dulu menentukan awal Ramadan, Syawal, hingga Zulhijah tahun ini. Muhammadiyah akan mulai berpuasa pada Kamis dan merayakan Idul Fitri pada 15 Juni 2018. Sedangkan 10 Zulhijah pada 13 Agustus 2018.
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan tahun ini pada Kamis. Dalam rilis, Senin (12/3), ijtimak akhir Syakban terjadi pada Selasa (15/5) atau 29 Syakban 1439 Hijriah pukul 18.50 lewat 28 detik WIB. Pada tanggal tersebut, tinggi hilal di Yogyakarta saat matahari terbenam -00°, 02’, 50 atau hilal belum terlihat. (JIBI/Detik/Liputan6.com)