KASUS BOM SURABAYA Didoktrin di Rumah, Anak Terduga Teroris Tak Sekolah

Nicolous Irawan
dimakamkan di solo: Keluarga beserta kerabat mengangkat peti jenazah korban bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Sri Pudji Astutik, saat akan dimakamkan di TPU Bonoloyo, Solo, Selasa (15/5).

JAKARTA—Pelaku pengeboman tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya, Dita Oepriarto, 48, dan Tri Murtiono, 50, mengajak istri dan anak-anaknya turut serta dalam aksi bunuh diri tersebut. Kisah anak-anak Dita mengenaskan. Mereka tak disekolahkan, didoktrin di rumah, hingga akhirnya disabuki bom pipa.

Meski tak memerinci anak yang mana, polisi mengungkap anak-anak para teroris ini tak disekolahkan. Tujuannya menghindari interaksi dengan lingkungan dan demi penanaman doktrin.
Pelaku pengeboman, kata polisi, selalu menjawab anaknya menjalani sekolah rumah (homeschooling) saat ditanya oleh orang lain. Anak-anak juga diarahkan orang tua mereka untuk menyatakan mereka menjalani homeschooling bila ada orang lain yang menanyakan soal pendidikannya.
”Homeschooling kalau ditanya. Padahal enggak,” kata Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol. Machfud Arifin, dalam jumpa pers di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Selasa (15/5).
Anak-anak korban paham radikal orang tuanya itu tidak diberi pendidikan yang layak. Mereka hanya diberi indoktrinasi oleh orang tuanya. ”Ya hanya bapak-ibunya yang memberikan doktrin terus, dengan video-videonya, dengan ajaran-ajaran yang diberikan,” ujar Machfud.
Keempat anak Dita dan istrinya, Puji Kuswati, 43, berinisial YF, 18, FA, 16, FS, 12, dan FR, 9. Sedangkan anak-anak Tri belum diketahui inisialnya. Seperti diketahui, YF dan FA mengendarai sepeda motor ke Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya. Mereka meledakkan diri di gereja itu, yang mengakibatkan lima orang meninggal, termasuk dua anak-anak. FS, 12, dan FR, 9, diajak ibunya meledakkan diri di GKI, Jl. Diponegoro. Mereka bertiga meninggal di tempat. Tidak ada korban jiwa selain para pelaku di GKI.
Dalam aksi pengeboman Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5), Tri Murtino bersama istri dan anak-anaknya datang menggunakan dua motor. Tri membonceng anak perempuannya dan seorang anak laki-lakinya. Sementara motor yang lain dikendarai anak laki-laki Tri bersama istrinya. Tri beserta istri dan dua putranya meninggal di tempat. Sementara itu anak bungsu mereka diketahui terpental, tapi tidak sampai meninggal dunia. Bocah tersebut diselamatkan oleh polisi bernama AKBP Roni. Hingga kini, bocah tersebut masih dirawat secara intensif.
14 Terduga Teroris
Upaya pemberantasan terorisme di beberapa daerah terus dilakukan oleh tim Densus 88 Antiteror. Terakhir, Densus menembak mati seorang terduga teroris di sebuah rumah di Manukan Kulon, Surabaya, Jawa Timur, Selasa sore. Terduga teroris itu ditembak karena melakukan perlawanan.
”[Penembakan] di dalam rumah,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol. Frans Barung Mangera, di Mapolda Jatim, Surabaya, Selasa malam.
Seusai baku tembak, Densus 88 membawa istri dan tiga anak terduga teroris tersebut. ”Anak-anak tiga orang dan istrinya satu. Mereka sudah diamankan, rencananya mau dibawa ke Ditreskrimum atau Brimob,” terangnya.
Baku tembak antara Densus 88 dan terduga teroris ini terjadi sekitar pukul 17.15 WIB. Diduga terduga teroris yang tewas tersebut berusia 39-41 tahun.
Sebelum baku tembak terjadi, Mabes Polri menggelar jumpa pers di Jakarta dan mengungkapkan Densus telah menangkap 13 terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya pascateror bom bunuh diri di tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya. Dua orang di antaranya tewas dalam penangkapan tersebut.
Dengan demikian, hingga Selasa malam, jumlah terduga teroris yang ditangkap bertambah menjadi 14 orang, dan tiga di antaranya dalam kondisi tewas. ”Ini yang ada kaitannya dengan kejadian di Jatim,” ujar Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Setyo Wasisto, di Mabes Polri, Selasa.
Dua terduga teroris yang tewas sebelumnya bernama Budi Satrio alias BS dan Wicang alias IF. ”BS ini perannya penampung dana yang digunakan kelompok JAD Surabaya. JAD Surabaya itu ketuanya Dita,” dia membeberkan.
Dita Oepriarto merupakan pelaku bom bunuh diri di Gereja Pantekosta, Surabaya. Sebelum melakukan misinya, Dita rupanya menitipkan sejumlah bom rakitan ke beberapa anggotanya. ”Dita menitipkan bom kepada IF alias Wicang. Ini juga yang meninggal. Dan diserahkan juga kepada Tri. Jadi diduga mereka ini sudah siap melakukan bom bunuh diri,” kata Setyo. Tri merupakan terduga pelaku bom bunuh diri di pintu masuk Mapolrestabes Surabaya, Senin pagi.
Dalam penangkapan di wilayah Jatim itu, Densus juga menyita barang bukti berupa bahan kimia dan perlengkapan yang digunakan untuk merakit bom. Selain itu, ada beberapa bom rakitan siap pakai. Setyo belum bisa memerinci berapa bom rakitan yang masih disita dan sudah didisposal (dimusnahkan dengan cara diledakkan). ”Kami tidak bisa mengatakan bomnya berapa karena masih ada komponen lain,” ucapnya.
Dimakamkan di Solo
Sementara itu, salah satu korban bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Jl. Arjuno, Surabaya, Sri Pudji Astutik, 67, dimakamkan di Tempat Permakaman Umum (TPU) Bonoloyo, Kadipiro, Banjarsari, Solo, Selasa.
Pudji dimakamkan di Solo atas permintaannya saat masih hidup. Pudji merupakan warga Mangkubumen yang sejak usia sekitar 20 tahun merantau ke Surabaya.
Keponakan Pudji Astuti, Tri Nuryanti, mengatakan jenazah Pudji dimakamkan di TPU Bonoloyo dekat dengan makam sanak keluarga lainnya. Dia menyebut Pudji Astuti tak memiliki suami maupun anak saat meninggal dunia. Pudji Astuti pernah menikah di Surabaya namun tidak lama kemudian bercerai.
Nuryanti mengenal sosok Pudji Astuti sebagai orang yang mandiri. Dia mampu bertahan dan mengembangkan usahanya seorang diri di Surabaya. Pudji diketahui memiliki satu rumah di Surabaya.
”Beliau sempat dirawat di RSAL dr. Ramelan. Sempat dilakukan tindakan operasi pengangkatan serpihan bom di wajah dan badan, tapi ternyata tak bisa diselamatkan. Beliau meninggal dunia pada pukul 24.00 WIB,” jelas Nuryani.
Jenazah Pudji tiba di TPU Bonoloyo pada pukul 12.30 WIB. Pelayan jemaat GPPS, Sri Purwanti, 66, menceritakan detik-detik saat terjadinya peristiwa bom bunuh diri di gereja tersebut, Minggu (13/5). Saat peristiwa bom bunuh diri terjadi, kata dia, Sri Pudji Astuti tengah berada di pelataran gereja. Pudji sedang menunggu penyelenggaraan misa kedua. Saat itu kebetulan Pudji Astuti sudah berkencan dengan Sri Purwanti untuk datang pada misa kedua.
Tapi Pudji Astuti berangkat lebih awal. Pudji tak langsung masuk ke gereja karena sedang ada misa pertama. ”Jarak antara dirinya dengan ledakan bom sekitar tiga meter. Sempat ada harapan dia bisa diselamatkan tapi Tuhan berkehendak lain,” kata Sri Purwanti saat ditemui Koran Solo di TPU Bonoloyo. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Detik/Liputan6.com)