PARIWISATA SOLO Turis Asing Kaget Solo Tanpa Jalur Sepeda

 

Ashley, 60, beserta istrinya, Jacqui, mendarat di Solo, Minggu (13/5). Pasangan asal Negeri Kanguru itu, sejak dari kampung halamannya mendamba tempat liburan yang tenang tanpa bising kendaraan. “Ya itulah Solo yang tadinya kami tahu,” ujar Ashley lewat sang pramuwisata sekaligus penerjemah, Dody Handoko.
Ini merupakan kali pertama Ashley tiba di Solo, sementara Jacqui pernah menjelajah Kota Bengawan dua puluh tahun lalu.
Pura Mangkunegaran menjadi tempat wisata pertama yang pasangan ini pilih pada Senin (14/5). Lewat jasa paket wisata yang ditawarkan di sana, mereka bertemu Dody yang kemudian menawarkan Bengawan Solo sebagai objek wisata selanjutnya.
Berbekal sepeda onthel sewaan dan topi koboi mereka bertiga menyusuri jalanan Solo dari Pura Mangkunegaran menuju Kelurahan Sewu. Dody mengatakan keduanya cukup kaget melihat lalu lintas di Solo. Ramai dan tak ada jalur sepeda. “Itu jamak terjadi, sebab kadang informasi yang wisatawan asing dapatkan dari jasa tur di negaranya tidak diperbarui,” ungkap Dody, pria yang sudah lima tahun bekerja sebagai pramuwisata di Pura Mangkunegaran itu.
Matahari hampir meninggi saat ketiganya memarkir sepeda di bantaran Bengawan Solo di Sewu. Jalan menanjak menaiki tanggul tetap dilalui dengan kayuhan, sejenak berhenti, sepeda mereka taruh begitu saja di rerumputan tanpa standard. Muka Ashley langsung berubah cerah. Senyum penasaran langsung menggulung lewat bibirnya disertai langkah kaki yang semakin lebar ke arah kali. Tampaknya Ashley sudah tidak sabar.
Langkahnya terhenti di dermaga Beton. Sejenak dahinya mengernyit, “Ternyata masih ada sampah di tepian,” katanya.
Mimik muka Ashley tak berubah sampai dia mengamati penduduk sekitar yang kala itu tengah asyik memancing.
Beberapa orang turun lewat dermaga kemudian mengayunkan batang pancingnya. Beberapa yang lain memilih berenang langsung ke tengah, lalu menebar umpan makanan. Cara ini akan membuat banyak ikan muncul ke permukaan. Sang pemancing tinggal menangkapnya dengan tangan kosong.
“Wow.., saya baru pertama kali melihat ini,” ujar Ashley berdecak kagum.
Bersantai
Baginya, selama ini sungai adalah tempat bersantai. Orang-orang biasanya memilih laut untuk memancing dengan cara yang lebih modern.
“Tidak ada yang seperti ini di Australia, kami akan ke sungai hanya untuk bersantai, biasanya di tepinya. Orang-orang Solo ke sungai untuk menangkap ikan. Ikan di Bengawan Solo ternyata cukup banyak,” kata Ashley.
Menurutnya, sangat disayangkan jika sungai Bengawan tidak dimanfaatkan secara optimal oleh warga. Ashley mengatakan jika sungai ini lebih terawat, seharusnya warga dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan ekonomi.
“Tapi tak masalah, secara umum lingkungan cukup bagus. Saya sangat senang melihat Bengawan Solo, walau saat airnya tidak terlalu banyak,” ungkapnya.
Masih dengan tatapan takjub, Ashley melayangkan pandangan ke seluruh sisi Bengawan. Dia kembali berdecak ketika melihat sebuah perahu tradisional menyeberangkan orang-orang yang menaiki sepeda motor. “Kalau ingin coba, bisa lewat jalan memutar di sebelah sana,” kata Dody sambil mengacungkan jarinya. Tanpa berpikir panjang, ketiganya bergegas pergi. Sebelum sampai menyentuh sepeda, Ashley dan Jacqui melihat sebuah acara lomba menghias apam di Joglo Apem Sewu, tak jauh dari tempat sepeda mereka diparkir.

 

Nadia Lutfiana Mawarni