Seniman Sejati itu Telah Pergi

Jagat seni dan hiburan Tanah Air kembali berduka. Salah satu anggota Srimulat, Margono, meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Kota Bumi, Lampung, Selasa (15/5) pukul 05.00 WIB. Pelawak yang akrab disapa Gogon itu mengembuskan napas terakhir di usia 58 tahun. Gogon terkena serangan jantung seusai manggung acara kampanye di Lampung. Sahabat Gogon, Kadir yang ikut serta dalam acara bersama Didi Kempot itu menceritakan selama manggung, Gogon tampak pucat dan napasnya terdengar berat.
Jenazah Gogon yang dibawa dengan mobil ambulans tiba di rumah duka di Dukuh Bukur Ireng, Desa Bendan, Banyudono, Boyolali sekitar pukul 16.30 WIB.
Didi Kempot tampak ikut dalam rombongan pengantar jenazah Gogon. Didi mengaku sangat kehilangan salah satu teman terbaiknya. Baginya Gogon adalah seniman yang sulit ditiru artis lainnya. “Dia punya ciri yang sulit ditiru artis lain, terutama pada rambut jambul dan kumis ala Charlie Chaplin. Dia sangat khas,” ujar Didi.
Seniman lain, Kirun juga melayat Gogon di Banyudono. Kirun mengaku punya hubungan yang sangat erat dengan Gogon.  “Saya dengan Gogon sudah seperti sedulur,” ujarnya.
Menurut Kirun, Gogon pandai menyembunyikan penyakitnya. “Namanya pelawak, biarpun sakit ya tertawa terus. Bahkan pingsan saja dia tertawa. Tapi sebenarnya kasihan. Teman sudah mengingatkan agar Gogon memeriksakan penyakitnya ke dokter, tetapi sepertinya dia sudah merasa penyakit itu adalah bagian dari hidupnya,” ujar Kirun.
Pemain senior di Ketoprak Balekambang, Jarwo Eko Lelono, 57, saat berbincang dengan Koran Solo, Selasa (15/5), mengingat kembali kenangannya saat masih berjuang menghidupkan kesenian tradisi bersama Gogon dan kelompoknya, Srimulat. Seingatnya Gogon mulai aktif bermain Srimulat pada era 1980-an. Saat itu Gogon dan pemain lain seperti Mamiek, Timbul, Djujuk, dan Gepeng mendapat jatah pentas setiap hari di salah satu gedung pertunjukan Taman Balekambang.
Sementara Jarwo pentas ber­sama Kethoprak Cokro Jio di gedung pertunjukan satunya di Taman Balekambang. Sama halnya dengan Srimulat, Cokro Jio hampir setiap hari pentas dengan lakon berbeda.
Di beberapa acara khusus biasanya mereka pentas kolaborasi atau saling membantu menyukseskan acara.
Militansi seniman tradisi Srimulat maupun Balekambang secara umum, kata Jarwo, memang perlu diacungi jempol. Mereka serius dalam berkesenian. Bahkan ketika upahnya tidak sesuai ekspektasi pun mereka tetap bekerja masimal termasuk Gogon.
Sekitar era 1990-an ketika Gogon dan anggota Srimulat lain tenar di Jakarta, Jarwo mulai jarang berkomunikasi dengan mereka. Yang paling sering main ke Taman Balekambang biasanya mendiang Mamiek Prakosa.
Penyanyi campur sari Solo, Yan Velia, juga merasakan kese­dihan yang sama. Istri Didi Kempot ini menilai Gogon sebagai pejuang keluarga sejati. Selain itu, Gogon juga dianggap sebagai senior yang ramah dengan semua orang. (Ika Yuniati)

 

Akhmad Ludiyanto
redaksi@koransolo.co