Pelaksana Proyek Tol Penuhi Permintaan Tuntut Ganti Rugi, Warga Blokade Jalan

SRAGEN—Warga, tokoh masyarakat, perangkat desa, dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Toyogo, Sambungmacan, Sragen, memblokade jalan yang menghubungkan Tunjungan-Gondang, tepatnya di jalan milik warga Dukuh Karang­asem, Toyogo, Sabtu (26/5).

Mereka terpaksa memblokade jalan lantaran tuntutan warga 3 RT untuk pembangunan dua gapura dukuh dan gorong-gorong senilai Rp65 juta belum dikabulkan pelaksana pembangunan jalan tol Sragen-Ngawi, PT Waskita Karya.
Aksi blokade berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Warga yang ikut bergabung dalam aksi itu sebanyak 20 orang. Kepala Desa Toyogo Suwarno dan Ketua BPD Toyoga Suwoto dan anggota BPD Tri Hartono juga ikut bergabung mendukung upaya warga Karangasem untuk menuntut ganti rugi kepada PT Waskita Karya.
“Warga yang menuntut ganti rugi itu berada di lingkungan RT 002, RT 003, dan RT 004/RW 001 Karangasem. Mereka menuntut dua unit gapura dan gorong-gorong dikembalikan atau diberi ganti rugi sesuai permintaan warga,” ujar Tri Hartono saat ditemui Koran Solo di lokasi aksi, Sabtu siang.
Ketua RW 001, Sugiyanto, 42, menjelaskan warga tidak menghambat pembangunan karena jalan di sebelah barat jalan layang itu statusnya juga milik warga. Dia menyatakan warga hanya minta dua gapura di RW 001 dikembalikan beserta gorong-gorong sepanjang 35 meter. Dia menjelaskan dua gapura itu sudah tertimbun tanah urukan untuk jalan layang.
“Kalau tidak mau mengembalikan dalam bentuk gapura baru, warga minta ganti rugi untuk membangun gapura dan gorong-gorong kembali. Setiap gapura warga meminta ganti rugi Rp20 juta sehingga dua gapura Rp40 juta. Untuk gorong-gorong, warga minta Rp25 juta. Jadi total ganti rugi Rp65 juta,” ujarnya.
Kades Toyogo, Suwarno, mengatakan warga itu bukan demo tetapi hanya menuntut hak kepada pelaksana pembangunan jalan tol. Dia mempertanyakan masa satu gapura hanya diberi ganti rugi Rp3,5 juta sehingga masyarakat tidak terima. Ketua BPD Toyogo, Suwoto, menambahkan upaya warga untuk mendesak PT Waskita Karya sudah kali ketiga ini. Desakan kali kedua tidak direspons, kata dia, makanya warga melakukan upaya blokade jalan.
Musyawarah
Kapolsek Sambungmacan AKP Joko Widodo tiba-tiba datang dengan mengendarai mobil putih. Begitu turun, Kapolsek berbicara dengan nada tinggi dan mempertanyakan izin blokade jalan. “Izinnya mana blokade jalan? Ini jalan umum. Bongkar! Kalau ada masalah kami fasilitasi dengan musyawarah,” ujarnya.
Pada saat bersamaan Ketua DPRD Sragen Bambang Samekto juga datang. Dua orang perwakilan PT Waskita Karya, yakni Pejabat Administrasi dan Konstruksi PT Waskita Karya Lukas Prasetyo dan Pejabat Humas PT Waskita Karya Eko Jayanto juga hadir. Akhirnya, blokade jalan dibuka warga. Pihak-pihak terkait berkumpul di bawah jembatan layang untuk mencari solusi.
“Semua permintaan warga kami penuhi semua. Semua gapura dan gorong-gorong kami ganti semua. Kami perlu waktu untuk menyampaikan ke BPN [Badan Pertanahan Nasional] dan tim penaksir [appraisal]. Permintaan warga terkait nominal juga kami setujui. Kami mohon waktunya untuk memenuhi prosedur,” ujar Lukas seraya berkomitmen untuk mewujudkan tuntutan warga sebelum Lebaran.

 

Tri Rahayu
redaksi@koransolo.co