Pemkab Siapkan Evakuasi Ribuan Ternak Pembuatan Kandang Terkendala Lahan

KLATEN—Penyiapan kandang untuk menampung seluruh ternak warga lereng Merapi ketika mereka harus diungsikan terkendala lahan. Penyiapan tempat itu dinilai penting lantaran jumlah ternak mencapai ribuan ekor.
Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Ahmad Wahyudi, mengatakan penyiapan tempat itu diutamakan untuk menampung ternak warga yang tinggal di wilayah kawasan rawan bencana (KRB) III. Kawasan itu meliputi tiga desa di Kecamatan Kemalang yakni Desa Balerante, Desa Sidorejo, dan Desa Tegalmulyo.
Berdasarkan data yang dihimpun dari BPBD Klaten, jumlah ternak warga yang tinggal di tiga desa itu yakni 4.669 sapi dan 1.338 kambing. Perinciannya, ternak jenis sapi di Desa Balerante sebanyak 1.165 sapi dan 207 kambing, Desa Sidorejo sebanyak 2.220 sapi dan 514 kambing, serta Dea Tegalmulyo 1.284 sapi dan 617 kambing.
Ahmad mengatakan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) mulai menginventarisasi kebutuhan ternak tersebut termasuk kandang. “Ada penyiapan kandang tetapi tidak menjadi satu tempat karena keterbatasan lahan. Penyiapan ini segera dilakukan. Yang penting itu dekat dengan warga pemilik ternak. Simulasinya, jarak kandang dengan pengungsian warga itu maksimal 2 km,” kata Ahmad saat ditemui seusai rapat klaster peternakan di BPBD Klaten, Sabtu (26/5).
Keterbatasan tempat menampung seluruh ternak warga yang mengungsi itu seperti di wilayah Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko. Di Demakijo terdapat selter pengungsian yang difungsikan untuk menampung warga di wilayah timur Kecamatan Kemalang seperti Tegalmulyo. Demakijo dan Tegalmulyo ditetapkan sebagai desa paseduluran.
“Dari hasil pertemuan tadi ternyata di Demakijo itu tempatnya tidak cukup. Segera ada rapat koordinasi lanjutan untuk mencari tempat. Untuk di wilayah sekitar selter pengungsian Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan dan selter pengungsian di Desa Menden, Kecamatan Kebonarum saya rasa tidak ada kendala untuk lahan,” kata dia.
Salah satu pelaksana Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Klaten, Indiarto, mengatakan untuk transportasi pengangkutan ternak sudah disiapkan di masing-masing desa termasuk transportasi pengangkutan warga. “Untuk satu truk itu perkiraan maksimal muat 20 ekor sapi,” kata Indiarto.
Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Bambang Giyanto, menjelaskan sejak status Merapi meningkat dari normal menjadi waspada sudah ada persiapan termasuk pembentukan 10 klaster yang dipersiapkan jika sewaktu-waktu status Merapi meningkat ke siaga. Klaster yang dibentuk meliputi klaster manajemen dan organisasi, keamanan, kesehatan, evakuasi dan transportasi, barak dan selter, komunikasi, informasi dan dokumentasi, pendidikan, logistik, serta dapur umum. Masing-masing klaster memetakan kebutuhan jika terjadi pengungsian.
Bambang mengatakan saat ini belum ada warga yang diungsikan menyusul status Merapi masih dalam tahap waspada. Ketika statusnya meningkat menjadi siaga, warga yang tinggal di kawasan lereng Merapi terutama di KRB III mulai diungsikan. “Klaster terdiri dari berbagai instansi dan OPD. Kami siapkan sejak awal agar ketika nanti status meningkat menjadi siaga semuanya sudah siap,” kata dia. (Taufiq Sidik Prakoso)