Kekeringan, 251 Ha Tanaman Padi Puso

SRAGEN—Tanaman padi seluas 251 hektare dari 682 hektare tanaman padi yang terdampak kekeringan di delapan kecamatan mengalami gagal panen atau puso karena potensi panennya kurang dari 10%.

Sementara 143 hektare tanaman padi lainnya hanya bisa panen 25% dan sisanya bisa dipanen di atas 50%.
Data tersebut disampaikan Koordinator Pengendali Organisme Penanggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Salimin, saat ditemui Koran Solo di ruang kerjanya, Rabu (30/5). Salimin mewakili Kepala Dinas Pertanian Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari mengatakan dampak kekeringan itu menyebar di delapan kecamatan, yakni Kecamatan Gemolong, Miri, Sumberlawang, Kedawung, Kalijambe, Plupuh, Tanon, dan Mondokan. Dampak paling banyak terjadi di wilayah Gemolong, yakni 175 hektare tanaman padi puso.
“Banyaknya tanaman padi yang puso dan gagal panen itu disebabkan kekurangan air. Tanaman padi tersebut menempati areal sawah tanah hujan dan tegalan. Lahan yang mestinya ditanami palawija tetapi dipaksakan untuk tanaman padi untuk mengejar luas tambah panen pada 2018. Prediksi April-Mei masih ada hujan ternyata meleset,” ujar Salimin.
Tanaman padi yang puso dan gagal panen itu sudah berumur 58-88 hari sehingga tanaman padi sudah mulai berbunga dan berbuah sehingga membutuhkan asupan air, minimal sepekan sekali. Dia menjelaskan kondisi di delapan kecamatan itu ternyata selama tiga pekan tidak ada hujan kiriman. Dari hasil pendataan tim di lapangan, jelas dia, sebanyak 285 hektare tanaman padi hanya bisa panen 75%; tiga hektare tanaman padi bisa panen 50%, sebanyak 153 hektare terkena dampak kekeringan berat karena hanya bisa panen 25%; dan 251 hektare tanaman padi lainnya tidak bisa panen karena potensi hasilnya kurang dari 10%.
Salimin menyampaikan solusi ke depan perlu adanya sumber air dari sumur dalam di delapan wilayah itu. Dia mengatakan selama ini satu unit sumur dalam itu hanya bisa menjangkau kebutuhan air untuk 4 hektare. Dia pesimistis bila mengandalkan embung karena tidak ada hujan. “Untuk pembuatan sumur dalam bisa menggunakan teknologi alat yang bisa mendekati keberadaan air di dalam tanah,” tuturnya.
Kasi Usaha Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Suwarso, menyampaikan dari ratusan hektare tanaman padi yang terkena dampak kekeringan, hanya 80 hektare di wilayah Miri yang bisa mendapat klaim asuransi dari PT Jasindo karena masa asuransinya masih terpenuhi. Dia menjelaskan sementara untuk tanaman padi di Gemolong yang banyak yang puso tidak mendapat asuransi karena tidak ikut asuransi atau masa asuransinya sudah habis.

 

Tri Rahayu
redaksi@koransolo.co