3 Hari Roni Bolos Sekolah

Sudah tiga hari Roni tidak masuk sekolah tanpa izin. Bolos. Padahal Roni anak yang rajin. Arga, Sang Ketua Kelas, hanya menggelengkan kepala ketika Pak Sadali Wali Kelas V B, menanyakan bolosnya Roni. Karena itu, sepulang sekolah, Arga dan dua temannya, termasuk aku, datang ke rumah Roni.
Sebuah rumah megah. Kompleks real estat. Kami melapor petugas satpam sebelum seorang gadis kecil yang membawa boneka membukakan pintu. Mungkin dia adiknya Roni?
“Maaf…kami teman sekelas Roni. Apakah Roni ada?”
“Roni siapa sih?” Si gadis cilik bingung.
“Roni Kurniawan. Katanya alamatnya di sini.”
“Kulitnya putih. Hidungnya mancung. Rambutnya brekele.” Fais menjelaskan.
“O, mungkin Roron yang kalian cari.” Seorang wanita cantik muncul. Mama si gadis cilik. “Kalian sekolah di SD Bintang Pagi?”
Kami bertiga mengangguk. “Kami teman sekelas Roni.”
“Kami di sini biasanya memanggilnya Roron.”
“Sudah tiga hari Roni tidak masuk sekolah, Tante. Karenanya kami datang ke sini,” jelas Arga.
“Astaga! Saya sampai lupa tidak membuat surat izin tidak masuk sekolah.” Wanita ramah itu menggeleng-gelengkankan kepala.
“Apakah Roni sakit Tante?”
“Tidak. Dia baik-baik saja.”
“Di mana Roni Tante?” Aku bertanya.
“Kalian ikut Tante saja kalau ingin bertemu Roron. Kebetulan Tante juga ada keperluan yang sama.”
Mobil mewah Tante itu melaju di depan mobil kami. Kami menuju ke perkampungan di belakang perumahan mewah ini. Kami menyusur gang becek. Melewati rumah-rumah petak. Lalu berhenti di sebuah depan sebuah rumah kecil, sederhana, namun tampak bersih. Siapa pemiliknya?
Kami tertegun ketika mendapati seorang anak lelaki berpakaian lusuh menjereng jemuran. Dia sepantaran kami. Kami mengenalnya. Bukankah dia…
“Roni….!” Serempak kami memanggil dan menghampiri.
Roni tampak terkejut seperti kami. Memang benar…dia Roni. Namun, mengapa penampilannnya lain? Bila di sekolah pakaian Roni bagus. Tas dan sepatunya merek terkenal dan mahal. Roni suka bercerita tentang rumah yang megah. Ada kolam renangnya. Pembantunya lima orang. Kedua orang tuanya suka pergi ke luar negeri.
Melihat keadaan Roni kini, kami berpikir mungkinkah Roni bohong selama ini?
“Bagaimana keadaan Emak, Ron? Sakitnya sudah agak mendingan?” Wanita cantik itu bertanya. Gadis cilik bernama Cindy menemaninya.
“Sudah baikan sih Tante. Tapi Roni harus menjaga Emak yang masih lemah.”
Tante itu mengangguk dan memasuki rumah.
Emak Roni… sakit? Emak Roni? Selama ini Roni bilang mamanya suka menyetir mobil sendiri. Mama yang suka ke salon. Shooping ke Singapura dan Hong Kong. Kami memandang Roni, meminta penjelasan. Roni tertunduk.
“Maafkan teman-teman. Inilah keadaanku yang sebenarnya.” Roni mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca. Menahan tangis. “Selama ini aku telah membohongi kalian. Selama ini yang aku ceritakan sebenarnya adalah kemewahan hidup keluarga Om Kar dan Tante Tika. Di rumah mereka emak kerja jadi pembantu. Mereka menjadi orang tua asuhku. Menyekolahkanku, memenuhi semua keperluan sekolahku. Bahkan alamat rumah mereka yang tercantum di sekolah. Om Kar dan Tante Tika sangat baik padaku. Sementara bapakku? Sejak kecil aku tak tahu pernah tahu siapa bapak. Emak marah bila aku menanyakannya. Aku…”
Kami ditelan keharuan mendengar curhat Roni.
“Sudah sepekan ini emak sakit. Tiga hari emak opname di RSI. Ketika keadaannya membaik, emak minta pulang. Kini aku harus merawatnya.”
“Mengapa kamu tidak menulis surat atau menelepon ke sekolah, Ron?”
“Entahlah. Mungkin karena cemas memikirkan emak hingga lupa.”
“Tante Tika tadi juga bilang lupa bikin surat izin untukmu,” jelas Arga.
“Lupa kok janjian,” ledekku.
Roni tersenyum malu.
“Yang penting kami sudah tahu keadaanmu Ron,” kata Fais. “Kami pikir kamu sakit, atau terjadi hal buruk.”
“Ya, memang keadanku buruk, Is. Rumahku buruk. Pakaianku buruk. Perilaku pun buruk. Mengarang cerita dusta kepada kalian.”
“Sudahlah Ron. Setiap orang pernah berbuat khilaf, kan?” kata Arga. “Kamu
juga terlalu merendahkan diri, Ron. Siapa sih murid di sekolah kita yang jago
matematika. Yang pintar main bola. Juga langganan ranking pertama?”
“Iya, siapa sih yang diam-diam pinter ngarang?” Aku pura-pura menjotos bahu Roni.
Roni tersenyum mendengar penuturan kami.
“Aku mengarang cerita dusta karena aku minder kepada kalian. Kalian anak-anak orang kaya. Aku takut kalian tak mau bersahabat lagi kalau tahu keadaanku.”
“Siapa bilang, Ron? Selama ini kita bersahabat, tidak memandang miskin kaya.” .
Kami semua mengangguk setuju. Termasuk Roni. Kami pulang dengan membawa sebuah renungan tentang sahabat kami Roni….dan arti persahabatan kami ini. (Selesai/Dok/Solopos)

 

Oleh: Kartika Catur Pelita