BUKBER BERSAMA NAPI Untuk Merasakan Berbuka Kolak Harus Menunggu 2 Hari Sekali

Koran Solo/Tri Rahayu
BUKA BERSAMA: Ratusan napi dan tahanan menengadahkan tangan saat bermunajat sebelum berbuka puasa bersama di Masjid LP Kelas IIA Sragen, Senin (11/6) petang.

Pintu gerbang Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Sragen tak seperti biasanya terbuka penuh pada Senin (11/6) sore. Pintu itu dibuka petugas saat rombongan Ketua DPRD Sragen Bambang Samekto bersama rombongan wartawan tiba di LP tersebut. Mobil pribadi Bambang Samekto dibiarkan memasuki areal dalam LP karena mobil itu mengangkut 600 paket nasi dan alakadarnya untuk berbuka puasa 507 orang narapidana (napi) dan tahanan.
Ya, sore itu Totok, sapaan Ketua DPRD Sragen, sengaja ingin berbuka puasa dengan para warga binaan LP tersebut. Aktivitas berbagi itu hampir setiap tahun dilakukan lelaki asal Gondang Baru, Gondang, Sragen itu. Kedatangan Totok sudah disambut ratusan napi dan tahanan yang duduk lesehan membentuk saf di depan masjid LP. Kepala LP Kelas IIA Sragen I Made Danarjaya juga sudah menunggu bersama K.H. Muh. Fadlan di dalam masjid. Eko Wijiyono, seorang napi pidana khusus yang mulai menjalani asimilasi menjelang bebas menjadi pemandu acara kegiatan tersebut.
Ratusan warga binaan terdiam mendengar pidato Ketua LP Kelas IIA Sragen. Demikian pula saat Bambang dan Muh. Fadlan berbicara pun didengarkan dengan baik, kendati ada 1-2 orang yang celometan. Murodi, 76, napi asal Kebupaten Kendal, duduk di saf paling depan di ujung selatan. Ia duduk berdekatan dengan tembok. Ia sudah lima bulan tinggal di LP. Ia divonis bersalah dalam kasus penganiayaan dan diganjar hukuman dua tahun.
“Selama Ramadan, ya baru kali ini ada buka puasa bersama. Sebelumnya tidak pernah ada buka bersama seperti ini. Buka dan sahur ya di dalam sel. Kebetulan saya di blok C. Kalau menu makanannya sederhana, kadang hanya dengan tempe. Kadang dengan telur dadar atau telur rebus. Untuk menikmati kolak saja harus menunggu dua hari sekali,” ujarnya saat berbincang dengan Koran Solo, Senin petang.
Humor
Hal senada juga disampaikan Prayitno, 49, seorang napi kasus narkoba asal Solo Baru yang divonis 2 tahun 10 bulan. Kini, Prayitno sudah menjalani 11 bulan. Ia tersandung kasus narkoba karena mengonsumsi sabu-sabu seberat 0,5 gram. Baik Prayitno maupun Murodi merupakan napi limpahan dari LP atau rumah tahanan (rutan) dari kota/kabupaten lain.
Mereka mendengarkan ceramah Muh. Fadlan yang kini menjadi Ketua Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sragen Kota. Ceramahnya yang singkat diselingi dengan humor membuat para warga binaan menjadi riuh senang. “Semua manusia itu pasti ada salahnya. Yang penting setelah berbuat salah harus bertaubat dan tidak mengulangi perbuatannya,” ujarnya.
Fadlan mengakhiri ceramah dengan berdoa bersama. Setelah berdoa mereka menikmati kolak bersama Ketua DPRD Sragen, Kepala LP Kelas IIA Sragen, dan Muh. Fadlan. Setelah habis meneguh kolak, para napi dan tahanan pun berhamburan dan kembali ke sel masing-masing. Hanya beberapa orang yang melanjutkan untuk Salat Magrib berjemaah. “Kegiatan ini rangkaian Ramadan. Kami hanya ingin memberi manfaat kepada penghuni LP. Orang yang tinggal di LP dan rumah sakit itu memang butuh uluran tangan kami,” ujar Bambang Samekto saat ditemui wartawan seusai buka bersama.

Tri Rahayu