Polisi Telusuri Pemasok Ayam

SOLO—Tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polresta Solo menyebarkan tim untuk mencari tahu penyebab mahalnya harga daging ayam di pasar. Pengusaha ayam potong dan peternakan ayam yang kedapatan mempermainkan harga akan ditindak.
“Kami menerima banyak keluhan dari pedagang dan konsumen terkait mahalnya harga daging ayam di pasar menjelang Lebaran. Setelah menerima keluhan tersebut langsung menindaklanjuti di lapangan,” ujar Ketua Satgas Pangan Polresta Solo, AKBP Andy Rifai, saat ditemui wartawan di Mapolresta Solo, Selasa (12/6).
Andy mengungkapkan konsumen dan pedagang di pasar tradisional merasa dirugikan dengan mahalnya harga daging ayam.
“Kami mendapatkan laporan harga daging ayam di pasar sekarang menembus Rp40.000 per kg. Harga tersebut jauh dari harga normal yang seharusnya tidak sampai di atas Rp30.000 per kg,” kata dia.
Pemkot Solo bersama Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan pengusaha ayam potong menggelar operasi pasar (OP) di Pasar Legi, Pasar Gede, Pasar Jongke, dan Pasar Harjodaksino. OP tersebut digelar selama dua hari Senin-Selasa (11-12/6).
“Kami akan kembali memantau harga daging di pasar setelah dilakukan OP. Tim Satgas Pangan berharap OP bisa menurunkan harga daging ayam di pasar menjelang Labaran,” kata dia.
Kapolresta Solo Kombes Pol. Ribut Hari Wibowo, mengungkapkan Polresta juga memiliki tugas dalam mengendalikan harga kebutuhan pokok menjelang Lebaran. Hasil pantauan tim Satgas Pangan harga kebutuhan pokok masih tekendali.
“Ada sejumlah kebutuhan harga pokok yang merangkak naik menjelang Lebaran seperti daging ayam dan telur. Kami berharap menemukan solusi penyebab mahalnya dua komoditas itu dalam waktu dekat  agar masyarakat tidak terbebani,” kata dia.
Protes
Sementara itu, belasan pedagang daging ayam di Pasar Jongke, Pajang, Laweyan, menggelar aksi demo di lokasi OP daging ayam di pasar itu, Selasa. Demo tersebut dipicu karena banyak daging ayam milik pedagang tidak laku terjual akibat OP yang digelar Kemendag bersama pengusaha ayam potong.
Informasi dihimpun Koran Solo, belasan pedagang ayam di Pasar Jongke menggelar aksi demo di lokasi OP daging ayam pada pukul 08.45 WIB. Dalam aksi demo tersebut pedagang menuntut agar OP segera dihentikan karena membuat daging ayam milik pedagang tidak laku terjual. Demo berakhir sekitar pukul 09.00 WIB setelah petugas OP memenuhi tuntutan pedagang.
Koordinator aksi demo, Suwanto, mengungkapkan pelaksanaan OP daging ayam di Pasar Jongke selama dua hari Senin-Selasa (11-12/6) tanpa ada koordinasi dengan pedagang ayam. Pedagang sudah telanjur membeli ayam hidup senilai Rp28.000 per ekor. Kemudian pedagang menggeluarkan ongkos memotong ayam hingga membersihkan bulu ayam. Harga kulak daging ayam di pasar senilai Rp38.000 per kg.
“Pedagang menjual daging ayam ke konsumen senilai Rp40.000 per kg. Kami hanya untung Rp2.000 per ekor setiap menjual ayam. Sementara harga daging ayam di OP dijual Rp33.000 per kg,” ujar Suwanto kepada wartawan di Pasar Jongke, Selasa.
Suwanto menjelaskan akibat harga daging ayam di OP lebih murah menjadikan daging ayam milik pedagang tidak laku terjual. Konsumen lebih memilih membeli daging ayam di OP dibandingkan membeli daging ayam milik pedagang.
“Saya meminta Pemkot Solo agar menghentikan OP daging ayam di Pasar Jongke. Seharusnya Kemendag melakukan intervensi harga daging ayam kepada pengusaha pemotongan ayam dan peternakan,” kata dia.
Ia mengungkapan selama ini harga daging ayam mahal karena pengusaha dan pemotogan ayam sudah mematok harga mahal. Pedagang membeli daging ayam sudah dalam kondisi mahal.
Kemudian ayam dijual kembali ke konsumen dengan harga mahal.
Pedagang daging ayam, Titik, mengaku setiap hari mendapatkan pesanan dari pemilik warung makan dari Boyolali menyediakan daging ayam sebanyak 50 kg. Namun, tiba-tiba Selasa pagi pemilik warung makan itu membatalkan pesanan dan memilih membeli daging ayam di OP dengan alasan harganya lebih murah.
“Saya sudah telanjur kulak daging ayam sebanyak 50 kg dengan harga Rp40.000 per kg. Total uang yang telah dikeluarkan senilai Rp2 juta. Sekarang ayam hasil kulak ini untuk apa, tidak ada yang mau membeli,” kata Titik.
Ia menjelaskan nasib sama juga dialami pedagang ayam lainnya. Pedagang berharap OP dihentikan dan Kemendag harus bertanggungjawab dengan membeli daging ayam milk pedagang yang tidak laku terjual.
Petugas OP daging ayam di Pasar Jongke, Rio Kurnia, membenarkan adanya protes yang dilakukan belasan pedagang daging ayam di Pasar Jongke. Protes dipicu karena daging ayam milik pedagang tidak laku terjual. “Saya terpaksa harus menutup OP lebih awal yakni pukul 10.00 WIB untuk menghindari konflik lebih besar. Seharusnya OP digelar sampai siang,” kata dia.
Ia menjelaskan OP yang digelar Selasa pagi membawa stok sebanyak 800 kg daging ayam beku. Sebanyak 400 kg daging ayam laku terjual dengan harga Rp33.000 per kg. (JIBI)

MUHAMMAD ISMAIL