Tren Pemudik Pilih Tol dan Angkutan Umum

MACET: Lalu lintas terlihat macet memasuki Kota Solo di Jl. Slamet Riyadi, Kerten, Laweyan, Solo, Selasa (12/6). Kondisi tersebut akibat banyaknya kendaraan pemudik yang melintas di Kota Solo menjelang Lebaran 1439 H.

PEKALONGAN—Jalan tol dan angkutan umum menjadi favorit para pemudik pada Lebaran tahu ini. Hal itu mengakibatkan jalur nasional atau jalur Pantura mengalami penurunan hingga 20 persen ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
”Frekuensi roda empat gunakan jalan tol, sedangkan roda dua jalur nasional. Secara menyeluruh baik roda empat maupun roda dua menurun. Namun, kecepatan itu naik dan kepadatan turun,” kata Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, saat memantau jalur Pantura di Kota Pekalongan, Selasa (12/6).
Menurutnya, pemudik yang menggunakan jalur nasional lebih banyak pemudik dengan kendaraan roda dua. Itupun, jumlahnya menurun bila dibandingkan tahun-tahun lalu. ”Tadi saya melihat di beberapa spot, pengemudi motor masih ada, tapi menurun 12 persen yang prediksi kita naik 30 persen,” jelasnya.
Namun, secara keseluruhan pengguna jalur nasional menurun. ”Beralih ke jalur tol dan angkutan umum. Pesawat udara naik 14 persen, biasanya cuma 4 persen. Kapal laut juga ada mudik gratis,” jelasnya.
Menhub memastikan arus mudik tahun ini lancar dan aman. ”Tahun ini mudiknya lancar, setelah kita menunggu besok hari karena prediksi hari puncak.”
“Sedangkan untuk arus balik diprediksi tanggal 19-20 [Juni] mendatang,” katanya.
Dia menyatakan indikator yang membaiknya arus mudik Lebaran tahun ini adalah meningkatnya kecepatan, menurunnya kepadatan, dan kecelakaan. Polri juga menyebut hingga H-3 Lebaran, Selasa, jumlah kecelakaan turun hingga 40% bila dibandingkan dengan tahun lalu.
Asisten Operasi Kapolri Irjen Pol. Deden Juhara saat meninjau pantauan arus mudik di Cirebon, Jawa Barat, menyatakan penurunan jumlah kecelakaan lalu lintas karena panjangnya libur Lebaran. ”Pemudik tidak terburu-buru, liburnya cukup panjang sejak Jumat kemarin. Tahun lalu itu libur lebaran hanya tiga hari, pasti mereka ingin cepat sampai,” kata Deden.
Jalur tol yang menjadi pilihan utama pemudik juga terlihat dari terus meningkatnya pengguna tol Solo-Ngawi. Tol yang dibuka fungsional 24 jam dari dua arah ini pada Selasa pagi sampai siang dilintasi 22.794 kendaraan dengan perincian 13.300 kendaraan masuk dan 9.494 kendaraan keluar.
Berdasarkan pantauan Koran Solo di gerbang tol Ngemplak, Boyolali, Selasa siang, jumlah kendaraan yang masuk melalui pintu tol ini rata-rata masih 50-an per jam. Kendaraan-kendaraan yang melintasi didominasi kendaraan berpelat nomor Jakarta, Jogja, Bandung, maupun Bogor.
Jumlah kendaraan yang melintas di tol Solo-Ngawi di atas 20.000 unit/hari ini sesuai dengan prediksi PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN). Jumlah itu melonjak bila dibandingkan tahun lalu yang rata-rata 9.000 unit/hari. Saat arus mudik dan balik Lebaran 2017, tol Solo-Ngawi juga dibuka fungsional, namun hanya pada siang hari dan satu arah yaitu saat mudik dari arah Solo ke Ngawi dan saat arus balik sebaliknya.
Tol Solo-Ngawi ini di sisi barat terhubung dengan tol fungsional Salatiga-Solo dan di sisi timur menyambung dengan tol Ngawi-Kertosono. Di wilayah Ngawi masih ada lima perlintasan tol dengan jalan kampung. Perlintasan ini dijaga 24 jam oleh petugas PT Waskita Karya bersama TNI/Polri.
Penjelasan itu disampaikan Pejabat Humas PT Waskita Karya Sragen-Ngawi, Eko Jayanto, saat dihubungi Koran Solo, Selasa. ”Perlintasan di wilayah Ngawi itu ada lima lokasi sedangkan di Sragen tidak ada. Lima perlintasan jalan kampung itu diberlakukan buka tutup selama 24 jam. Petugasnya bergantian untuk tiga sif. Kalau warga kampung menyeberang, jalan tol ditutup. Kalau jalan tol dibuka maka jalan perlintasan ditutup,” ujar dia.
Darmawan, 45, petugas perlintasan asal Losari, Kedungharjo, Mantingan, Ngawi, mengatakan jumlah petugas dari PT Waskita Karya sebanyak empat orang per sif. Dia mengatakan petugas jaga perlintasan itu bekerja dengan honor cukup tinggi yakni Rp150.000/sif. ”Kami bertugas sejak Jumat lalu. Sebelumnya kami bekerja sebagai petugas kebersihan jalan tol,” tutur dia.
Di ruas tol Jakarta-Cikampek dan Cikopo-Palimanan (Cipali) kepadatan lalu lintas terjadi pada Selasa pagi dan malam. Kepolisian sempat menerapkan sisitem lawan arus atau contraflow di tol Cikampek. Di tol Cipali hingga Pejagan kemacetan sempat terjadi hingga kendaraan antre sepanjang empat kilometer. Salah satu penyebab kemacetan adalah adannya kecelakaan dan truk mogok.
Kecelakaan di tol Cipali bahkan menyebabkan dua petugas tol meninggal. Kendaraan pemudik menabrak dua petugas yang tengah mengevakuasi kendaraan mogok. ”Kronologinya kedua petugas itu lagi evakuasi kendaraan mogok. Terus datang mobil yang diduga sopirnya mengantuk hingga akhirnya menabrak. Akibatnya petugas terpental,” kata Panit PJR Tol Cipali, Iptu Heri.
Kedua petugas yang meninggal tertabrak ialah petugas patroli Tol Lintas Marga Sedaya (LMS) dan seorang petugas derek. Perempuan yang jadi penumpang mobil yang menabrak kedua petugas itu juga mengalami luka. Setelah evakuasi kendaaran selesai, arus lalu lintas kembali mengalir.
Perjalanan pemudik yang melintasi tol diprediksi akan kian mudah pada Rabu ini karena Jembatan Kali Kutho di Kendal telah rampung dikerjakan. Jembatan itu akan dibuka mulai hari ini.
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol. Royke Lumowa mengatakan jembatan akan dibuka hari ini sesuai prediksi Menteri Pekerjan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.
Royke mamastikan jembatan itu akan sangat memperlancar arus lalu lintas karena pemudik langsung lurus lurus tanpa harus belok masuk jalur pantura. Bila ruas tol itu lancar, dia memprediksi kepadatan akan bergeser ke pintu tol Manyaran, Semarang. ”Tapi di sana cukup bangus manuver jalannya untuk akses elvated-nya sudah diatur walaupun fungsi masih fungsional. Akan lebih baik penangannya daripada disinilah,” kata dia.
Sementara itu, pemudik yang menggunakan kereta api terus stabil selama arus mudik. Kepala Stasiun Gambir Rizki Afrida menuturkan lonjakan penumpang pada arus mudik tahun ini datar dengan jumlah penumpang sekitar 20.000 orang/hari.
”Di Gambir sebenarnya tidak bisa dilihat puncak arus mudik. H-3 juga sebenarnya bukan puncak arus mudik. Kami sudah tahu angkanya. Dari kemarin flat dan stabil angkanya,” tutur Rizki.
Secara keseluruhan, total penumpang KA di Stasiun Gambir hingga Selasa mencapai 138.882 orang. Rizki menjelaskan bahwa tidak ada kemungkinan jumlah penumpang yang naik drastis. PT KAI sudah mampu memprediksi jumlah penumpang sesuai dengan kapasitas tempat duduk (seat) keretanya.
Sementara itu, untuk angkutan umum berupa bus juga menyiapkan armada tambahan guna mengantisipasi lonjakan pemudik. Kepala Terminal Kampung Rambutan Emiral August menyebut pada H-5 Lebaran sudah ada 29 bus bantuan yang diberangkatkan karena jumlah penumpang meningkat signifikan
Bus cadangan tersebut diberangkatan ke kota wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Puncak arus mudik di terminal itu terjadi pada Minggu lalu yang 15.184 orang. ”Kalau pun bus cadangan habis juga, kami berkoordinasi dengan bus pariwisata untuk membantu mengangkut saudara-saudara kita yang mau mudik,” kata dia. (Aries Susanto/Tri Rahayu/Detik/JIBI/Antara/Liputan6.com)