Polisi Imbau Masyarakat Tak Gelar Tarling

SOLO—Polresta Solo mengimbau kepada warga Solo agar tidak menggelar takbir keliling (tarling) pada Kamis (13/6) malam.
Warga diminta menggelar takbir di dalam masjid atau musala di kampung masing-masing agar tidak mengganggu arus lalu lintas (lalin) di Kota Bengawan. “Kami tidak melarang warga menggelar takbiran. Alangkah baiknya takbiran digelar di masjid atau musala di kampung masing-masing,” ujar Kapolresta Solo Kombes Pol. Ribut Hari Wibowo, kepada wartawan di Mapolresta Solo, Rabu (13/6).
Ribut menjelaskan imbauan tersebut dikeluarkan Polresta untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Selain itu, juga untuk menjaga kondusivitas keamanan wilayah di Kota Solo pada malam takbiran. “Polresta Solo akan mengerahkan personel di lapangan pada malam takbiran untuk memastikan tidak ada warga yang menggelar takbir keliling di jalan utama mudik,” kata dia.
Polresta Solo, lanjut dia, akan mengarahkan warga yang nekat menggelar takbir keliling ke jalur utama mudik untuk kembali ke kampung. Ditanya mengenai personel yang akan diterjunkan saat malam takbiran, Ribut menjelaskan jumlahnya sama dengan personel yang disiagakan saat Operasi Ketupat Candi yakni sebanyak 1.100 personel.
Ribut menjelasan warga juga dilarang menyalakan petasan pada saat malam takbiran.
Petasan yang dinyalakan dapat mengganggu warga yang sedang beristirahat. Polresta akan melakukan razia untuk memastikan tidak ada warga yang menjual petasan.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo, Subari, mendukung imbauan Polresta Solo terkait takbiran keliling. Ia menjelaskan takbiran keliling boleh dilakukan asalkan tidak sampai masuk ke jalan utama mudik. “Takbiran keliling masih bisa dilakukan di jalan kampung atau di masjid. Tidak ada kewajiban menggelar takbiran keliling. Kami mengajak semua umat Islam pada malam takbiran nanti ikut menjaga Kamtibmas di Kota Bengawan,” kata Subari.
Terpisah, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo meminta masyarakat untuk tidak menyalakan petasan maupun kembang api yang dapat meledak saat perayaan Lebaran 2018. Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, meminta pengertian dari masyarakat maupun pemudik yang tengah berada di Kota Bengawan untuk tidak menyalakan petasan maupun kemban api yang dapat meledak saat perayaan Lebaran. Pasalnya, aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan atau gangguan bagi orang lain. Dia berharap kondisi Kota Solo pada perayaan Lebaran kali ini bisa serupa dengan perayaan malam tahun baru 2018 maupun Imlek 2018 lalu di mana masyarakat mau mendukung seruan Pemkot tersebut.
“Larangan menyalakan petasan dan kembang api yang dapat meledak ini sudah menjadi kesepakatan dalam rapat Muspida dan Muspida Koordinator,” kata Rudy, sapaan Wali Kota saat diwawancarai Koran Solo belum lama ini di Gelora Manahan. Rudy menyampaikan aktivitas menyalakan petasan jelas berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain yang kaget. Dia mempersilakan saja masyarakat menyalakan kembang api asal tidak meledak. Rudy menceritakan selama bulan Ramadan Pemkot melalui Satpol PP Solo telah rutin melakukan penertiban kepada para penjual petasan dan kembang api yang dapat meledak. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisir warga Solo menyalakan petasan dan kembang api saat Lebaran tiba.
“Suka tidak suka jika menyalakan petasan di sini, orang yang ada di sana jelas terkejut. Wong tidak tahu apa-apa kok tiba tiba mendengar ledakan. Kami melarang masyarakat menyalakan petasan bukan karena kami bicara yang begini begitu, tapi lebih untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang dan pemudik di Solo,” jelas Rudy.
Kepal Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Solo, Agus Sis Wuryanto, menyampaikan selama bulan puasa personel Satpol PP dibantu petugas linmas Kota Solo rutin menyisir jalanan kota Solo guna mengantisipasi keberadaan pedagang petasan. Jika mendapati adanya pedagang petasan, dia berkisah, personel Satpol PP dan linmas lantas memberikan pengertian atau pemahaman akan adanya kebijakan Wali Kota tersebut. Agus Sis memastikan personel Satpol PP dan Linmas tidak semena-mena langsung meminta PKL petasan pergi meninggalkan Solo.
“Kami tidak langsung melakukan penertiban kepada pedagang yang kedapatan menjual mercon di Solo. Kami beritahu baik-baik lebih dulu akan adanya kebijakan Pak Wali. Kami bersyukur rata-rata dari mereka mau memahami akan adanya kebijakan tersebut. Mereka kemudian tidak tampak lagi berjualan di Solo,” jelas Agus Sis, Rabu. Agus Sis menyebut kebijakan larangan menyalakan petasan dan kembang api yang dapat meledak bakal terus diberlakukan Pemkot termasuk pada hari biasa maupun hari besar lainnya demi menjaga kondusifitas kota. (Irawan Sapto Adhi/JIBI)

MUHAMMAD ISMAIL