produsen prosesor Qualcomm: Sumber Inti Semua Lini

Qualcomm merupakan pemasok utama buat para pembuat ponsel pintar. Bila Anda memiliki ponsel Android, kemungkinan besar Anda menggunakan prosesor dari Qualcomm. Sebagai pembuat SoC terbesar, Qualcomm menyediakan berbagai jenis produk untuk semua kelas ponsel, mulai dari yang paling murah sampai ponsel kelas atas.
Mengetahui jenis SoC Qualcomm yang menjadi otak suatu ponsel (dan tablet) bisa membantu calon pembeli. Sebagai contoh, suatu ponsel yang dijual dengan harga cukup mahal bisa saja memiliki SoC yang sebenarnya ditujukan untuk ponsel untuk kelas yang lebih terjangkau. Ini tidak berarti ponsel tersebut dihargai terlalu mahal, karena komponen seperti bodi ponsel bisa saja mendongkrak harga produk melebihi kompetitor yang memilki prosesor yang sama.
Prosesor Qualcomm terbaru sudah menggunakan teknologi proses 10 nanometer. Dari segi teknologi kita akan memusatkan perhatian pada seri 800, yang merupakan unggulan.
Seri 800
Qualcomm Snapdragon seri 800 merupakan produk yang ditujukan untuk ponsel kelas atas. Karena itu biasanya Qualcomm menjejalkan berbagai fitur unggulan ke dalam cipnya ini, agar bisa bersaing dengan kompetitornya.
Snapdragon 845 yang rencananya akan dirilis pada tahun 2018 ini menggunakan prosesor (CPU) yang terdiri dari 8 inti: 4 inti Kryo 385 Gold (2,85 GHz), yang merupakan turunan dari ARM Cortex A75 dan 4 inti Kryo Silver (1,8 GHz) yang merupakan turunan ARM Cortex A73.
Chip ini merupakan implementasi pertama DynamIQ. Sebelumnya pembuat cip menggunakan konfigurasi big.LITTLE, yang memasangkan kluster inti prosesor berkecepatan tinggi (yang relatif boros listrik) dengan klaster inti prosesor yang lebih lambat tetapi juga hemat memori. Penggunaan klaster yang berbeda ini bisa berpengaruh ke kinerja prosesor. Dengan DynamIQ semuanya bisa disatukan dalam satu kluster.
Qualcomm menyertakan memory cache L3 sebesar 2 MB, untuk pertama kalinya. Memory cache ini dibagi untuk semua inti.
Prosesor grafis untuk seri 800 ini adalah Adreno 630, sejauh ini belum ada informasi lebih lanjut. Namun, ini disebut akan meningkatkan kinerja sampai 30% dibandingkan Adreno 540, sementara menurunkan konsumsi daya 30%.
Pengolah isyarat digital yang digunakan, Hexagon 685, disebutkan akan unggul dalam hal tugas komputasi kecerdasan buatan (artificial intelligence). Namun, DSP di sini tidak dioptimasi untuk jaringan saraf tiruan, tidak seperti cip dari Huawei atau Apple yang memiliki cip khusus untuk itu.
Cip ini juga sudah mendukung headset realitas virtual, sehingga ponsel yang menggunakan Snapdragon 845 (seperti seri sebelumnya) bisa digunakan untuk aplikasi VR yang mendukung tampilan dengan resolusi 2.400 x 2.400 piksel.
Pengolah citra Spectra 280 mendukung pengurangan bising multibingkai (multiframe noise reduction) MFNR. Fitur ini menjepret banyak gambar berturut-turut dalam waktu singkat, dan baru kemudian melakukan pengurangan bising dengan kualitas lebih tinggi dibandingkan bila hanya mengambil gambar satu kali saja.
Seri 700: Sub-Premium
SoC seri ini tergolong baru, karena baru diperkenalkan pada Mobile World Congress 2018, bulan Maret lalu. Qualcomm tampaknya membidik pasar yang menginginkan ponsel dengan fitur dan kinerja maksimal, tetapi tanpa harus membayar harga berlebihan.
Untuk Snapdragon 710, yang merupakan SoC pertama dalam seri ini, Qualcomm menggunakan CPU dengan dua inti Kryo 360 (Cortex A75) 2,2 GHz dan 6 inti Kryo 360 Cortex A55 1,75 GHz, dan DSP Hexagon 685 seperti seri 800.
Seri ini merupakan chip Qualcomm kelas menengah pertama yang menggunakan GPU Adreno seri 600 (Adreno 616). Disebutkan kinerja GPU ini 35 persen lebih baik dibandingkan Adreno 512 (ditemukan pada Snapdragon 660).
Snapdragon 710 menggunakan pengolah citra (ISP) Spectra 250, yang mampu mendukung kamera tunggal 32 megapiksel, atau kamera ganda 20 megapiksel.
Seri 600
Sebelumnya seri 600 merupakan cip Qualcomm yang ditujukan untuk ponsel kelas menengah. Tampaknya penggolongan ini akan lebih kabur dengan munculnya seri 700, tetapi agaknya sekarang kita bisa memandangnya sebagai “cip dengan harga lebih terjangkau namun dengan kinerja tetap unggul”.
Dua cip terbaru pada seri ini adalah Snapdragon 660 dan Snapdragon 630 yang diluncurkan pada 2017 lalu. Sejauh ini belum ada rencana Qualcomm untuk meluncurkan model yang lebih baru pada 2018.
Snapdragon 660 menggunakan 4 inti Kryo 260 (2,2 GHz) dan 4 Kryo 260 (1,8 GHz), Adreno 512, DSP Hexagon 680, ISP Spectra 160. Snapdragon 630 menggunakan 4 inti Cortex A53 (2,2 GHz) dan 4 inti Cortex A53 (1,8 GHz).
Pengelola citra ini mendukung banyak fitur kamera yang bisa ditemukan pada seri 800: seperti autofokus pendeteksi fase fotodioda ganda (2PDAF), penstabil citra elektronik, dan mengambil gambar dalam penerangan rendah, serta dukungan terhadap kamera lensa ganda.
DSP mendukung kerangka kerja Tensor Flow, dan pada akhirnya fitur pembelajaran mesin, penglihatan mesin, dan jaringan saraf tiruan, seperti pada seri 600.
Seri 400
Seri 400 ditujukan untuk ponsel dengan harga terjangkau, dan bisa ditemukan pada ponsel yang dijual relatif murah (sekitar Rp 1,5 juta – Rp 2,5 juta). Daya komputasi seri 400, meskipun lebih lambat dibandingkan “saudara tuanya”, masih memadai.
Model terbaru seri 400 adalah Qualcomm Snapdragon 450 yang diperkenalkan pada tahun 2017. SoC ini dilengkapi dengan prosesor berinti delapan, masing-masing dengan inti Cortex A53 1,8 GHz, menggunakan teknologi proses 14 nanometer. GPU-nya adalahAdreno 506 dan DSP Hexagon 546. Cip pengolah gambarnya dapat menangani kamera utama tunggal 21 MP atau kamera ganda 13 MP. (JIBI/k8)