Menggugah Masyarakat Peduli Lingkungan

Pencemaran di Kali Jenes, Solo, mungkin menjadi cerita lama. Ketika perilaku masyarakat tidak berubah, sungai seperti menjadi kenangan masa lalu.
Wiji Lestari, 71, nanar memandangi Kali Jenes lewat teras rumahnya di RT 004/RW 006, Kampung Harjodipuran, Kelurahan Joyosuran, Pasar Kliwon, Rabu (25/7). Kali Jenes kini tak seperti kenangannya di masa kecil dulu. Lahir pada 1949 dan menghabiskan seluruh masa hidup di bantaran Kali Jenes, ingatan masa kecil Wiji diwarnai dengan permainan khas anak sungai.
Pada 1955 Wiji masih melintasi jembatan sasak sebelum kini diganti jembatan beton. ”Dulu buang air besar [BAB] juga di pinggir kali,” ucap dia saat berbincang dengan Koran Solo di teras rumahnya.
Dulu air kali bening, limbah-limbah batik belum membikin warna kali makin hari makin pekat. Dulu dia bisa melihat sungai yang memantulkan cahaya, air mengalir kecil saat kemarau, dan deras di musim hujan. ”Walau BAB sembarangan [BABS] tapi tinjanya masih bisa ngalir, enggak kayak sekarang,” kata Wiji sambil terkekeh.
Sejak pelarangan BABS, kampung Wiji dilengkapi dengan empat unit WC umum, dua di sisi timur dan dua di sisi barat. Sayang, kesadaran untuk tidak lagi BABS berbanding terbalik dengan kondisi kali. Kini kali semakin keruh, warnanya pekat, dan tidak lagi ada aliran. “Lumpur-lumpur semakin tinggi membuat kali makin cetek,” kata dia.
Tinggi bagian air Kali Jenes kini tinggal 20 cm ditambah rumput liar yang tumbuh di ruas-ruas semen. Minggu (22/7) lalu, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, diundang warga setempat dalam acara kerja bakti besar-besaran warga Joyosuran membersihkan Kali Jenes dan eks Makam Gabudan dalam rangka HUT ke-73 Indonesia.
Wiji dan perempuan-perempuan lain yang tinggal di bantaran kali bertugas menyapu, sementara para laki-laki ikut nyemplung membersihkan sampah yang bertumpuk di sungai.
Warga lainnya, Suyanto, 60, mengamini Kali Jenes tak seperti dulu. Selain pendangkalan karena tumpukan lumpur, warnanya kini menghitam karena limbah. Kondisi yang dinilainya lebih parah ketimbang masa dulu.
Lurah Joyosuran, Suwarno, mengatakan sebagian besar limbah di Kali Jenes adalah sampah plastik dan popok bayi. Fakta ini menunjukkan masih ada masyarakat yang tak peduli pada lingkungan mereka. Kali bukan bak sampah tempat membuang sampah, apalagi sampah yang tidak bisa terurai secara alami.
Abai
Temuan petugas Perumda Air Minum Toya Wening Kota Solo menguatkan fakta bawah banyak masyarakat abai terhadap lingkungan. Petugas sering menemukan kondom dan pembalut yang dibuang di septic tank. Perumda Air Minum meminta warga tidak lagi melakukan kebiasaan tersebut.
Keberadaan kondom, pembalut, maupun barang padat lain di dalam septic tank berpotensi menganggu proses pengolahan lumpur tinja saat sampai di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Kepala Bidang (Kabid) Limbah Cair Perumda Ari Minum Toya Wening Kota Solo, Nanang Pirmono, berharap warga tidak lagi sembarangan saat membuang sampah.
”Kami sering menemukan kondom dan pembalut yang dibuang di septic tank. Jelas barang itu mengganggu proses pengolahan limbah yang kami lakukan,” jelas Nanang saat berbincang dengan Koran Solo di IPLT Putri Cempo, Mojosongo, Jebres, Selasa (24/7).
Keberadaan kondom, pembalut hingga plastik bungkus sampo juga kerap ditemukan di jaringan pipa limbah sehingga membuat jaringan pampat. Dia menyesalkan sikap pelanggan perpipaan air limbah yang berperilaku sama dengan warga pemilik septic tank.
“Biasanya kalau pampat, kami terpaksa harus membuka pipa untuk pengambilan sampah. Kami bisa melakukan pembersihan dengan cara flushing. Pipa ini tidak bisa dibiarkan mampet karena bakal memengaruhi pelayanan warga lain,” jelas Nanang.
Regional Manager Jawa Tengah United State Agency International Development (USAID) Indonesia Urban Water Sanitation and Hygine (Iuwash) Penyehatan Lingkungan untuk Semua (Plus), Jefry Budiman, menganggap perilaku warga membuang sampah sembarangan ke saluran pembungan merupakan persoalan serius yang harus diselesaikan. Hal itu penting karena program layanan pembuangan air limbah rumah tangga bakal terganggu.
”Sayang sekali jika program pelayanan limbah domestik yang dilakukan oleh Perumda Air Minum tidak bisa berjalan optimal hanya karena perilaku warga yang masih membuang sampah sembarangan. Apalagi sekarang ini baru Solo yang memiliki fasilitas lengkap dalam pengolahan air limbah dan lumpur tinjanya,” jelas Jefry.
Kabid Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan DLH Solo, Luluk Nurhayati, mengatakan paling tidak ada 7 komponen parameter yang digunakan DLH dalam menilai kualitas air sungai antara lain mengukur chemical oxygen demand (COD), biological oxygen demand (BOD), kandungan logam berat, warna, bau, dan rasa, seng dan lainnya.
Luluk mengimbau pelaku usaha industri batik baik yang skala besar maupun UMKM bisa memperbaiki sistem pengolahan limbah produksi. ”Selain aktivitas industri batik, pencemaran air sungai juga disebabkan oleh perilaku masyarakat yang masih membuang sampah secara sembarangan ke aliran sungai. Kami meminta masyarakat memperbaiki kebiasaan tersebut demi kepentingan bersama,” kata Luluk. (Nadia Lutfiana Mawarni/JIBI)

Irawan Sapto Adhi