20 Ikan Berbahaya Diserahkan ke BKIPM DIY

IKAN BERBAHAYA: Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) DIY, Hafit Rahman (kanan) menunjukkan ikan berbahaya yang diserahkan warga ke posko penyerahan ikan berbahaya di kantor BKIPM DIY, Sambilegi, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Selasa (31/7).

SLEMAN—Posko penyerahan ikan berbahaya Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) DIY sudah ditutup pada Selasa (31/7). Hingga hari terakhir penutupan, total terdapat 20 ikan berbahaya yang diserahkan ke posko tersebut.
Kepala BKIPM DIY Hafit Rahman mengatakan sejak posko dibuka pada Minggu (1/7) sudah ada sembilan warga yang menyerahkan ikan berbahaya ke posko di kantor BKIPM DIY, Sambilegi, Maguwoharjo, Depok. “Total ikannya ada belasan, kebanyakan ikan jenis aligator dan sapu-sapu, kalau arapaima tidak ada,” kata dia, Selasa (31/7).
Jika dirinci, kata dia, ada 10 ikan jenis aligator dan 10 jenis ikan sapu-sapu. Dari warga yang menyerahkan ikan rata-rata menyerahkan dua ikan miliknya, tetapi diakuinya ada satu orang warga yang menyerahkan sembilan ikan berbahaya.
Mulanya sejumlah ikan tersebut rencananya akan dimusnahkan karena termasuk ikan berbahaya. Hal ini mengacu Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41/2014 yang menyebutkan ada 144 jenis ikan yang dianggap berbahaya di antaranya sapu-sapu, tiger catfish, jaguar, piranha, red tail, aligator, dan arapaima gigas. Namun rencana pemusnahan ikan masih akan dikoordinasikan terlebih dahulu dengan instansi lain. Ada kemungkinan ikan tersebut tetap dibiarkan hidup. “Akan dikonfirmasikan dulu untuk diserahkan ke lembaga konservasi,” kata Hafit.
Di sisi lain pihaknya mengimbau masyarakat untuk memusnahkan secara mandiri atau menyerahkan ikan berbahaya kepada pihak kepolisian. Setelah posko penyerahan ikan berbahaya ini ditutup maka sesuai aturan pemilik ikan berbahaya dapat terkena sanksi hukum. “Setelah ini pengamanan langsung oleh pihak keamanan [polisi],” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, BKIPM DIY selama satu bulan membuka posko penyerahan ikan berbahaya. Salah seorang warga yang menyerahkan ikan berbahaya yakni Joko Handoko. Dia mengaku tidak tahu jika ikan aligator yang dipeliharanya itu masuk kategori terlarang. Dia baru tahu setelah ada sosialisasi dari BKIPM DIY. “Saya memelihara dua ikan aligator. Sekarang berukuran 30 cm. Rencana saya serahkan ke BKIPM,” ungkapnya.
Dia mengakui sudah lebih dari dua tahun memelihara ikan Aligator tersebut. Awal memelihara di tak tahu jika ikan itu masuk kategori dilarang dipelihara. (JIBI/Irwan A. Syambudi)