BENCANA KEKERINGAN Telaga Mulai Kering, Warga Gali Tanah

GUNUNGKIDUL—Air Telaga Banteng di Dusun Ngricik, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul, DIY, yang menjadi andalan warga sekitar saat musim kemarau untuk memenuhi kebutuhan semakin menipis.
Herlambang Jati Kusumo
redaksi@koransolo.co

Menipisnya air telaga tersebut memaksa warga sekitar harus menggali lubang-lubang di telaga agar air muncul. Pinggiran telaga yang sudah mengering tersebut dicangkul oleh warga, kurang lebih sedalam 30-50cm.
Salah seorang warga yang masih mengandalkan air telaga tersebut, Sutiyem, mengatakan setidaknya bisa lima kali bolak-balik dari rumah untuk mengambil air dari lubang di Telaga Banteng itu.
“Dulu waktu belum kering air telaga disini ya dimanfaatkan untuk mandi, mencuci, minum ternak. Sekarang sudah mulai kering harus membuat lubang dulu agar airnya keluar,” kata Sutiyem, Selasa (31/7).
Dia mengatakan kesulitan air ini sudah mulai sekitar tiga bulan yang lalu. Jika mengandalkan air dari membeli tangki, masih terasa mahal baginya. Kalau pun terpaksa membeli, air tersebut sebisa mungkin dihemat hanya untuk keperluan minum.
“Kalau membeli masih mahal bisa sampai Rp150.000/tangki jadi ya sebisa mungkin manfaatkan air telaga yang tersisa ini. Kalau sudah benar-benar tidak keluar airnya ya terpaksa membeli,” katanya.
Warga lainnya, Katiyem, mengatakan juga terpaksa menggunakan sisa air telaga yang masih digunakan untuk meneruskan usahanya membuat tempe. “Ya bersih ini airnya kalau yang dari menggali. Harapannya ada bantuan air bersih lagi, beberapa waktu yang lalu juga sudah ada namun masih kurang,” ujarnya.
Ia mengatakan saat ini warga masih mengandalkan air dari tadah hujan karena masih sulitnya air PDAM maupun sumur di wilayah tersebut.
Sementara itu Direktur PDAM Tirta Handayani, Isnawan Febriyanto, mengatakan memang ada beberapa lokasi di Gunungkidul masih sulit terjangkau. “Ya ada kendala daerah tertentu, biasanya jauh dari sumber, atau kondisi geografisnya. Tetapi hal itu sudah menjadi perhatian kami. Sementara ini kami cari sumber alternatif di Wilayu,” kata Isnawan. (JIBI)