PEMICU PENYAKIT Waspada kalau Overdosis Kerja

enelitian gabungan oleh University of London dan ESCP Europe Business School menemukan pegawai yang bekerja terlalu keras dengan intensitas yang tinggi lebih berisiko mengalami masalah kesehatan.
Mereka juga tidak mengalami kenaikan karier lebih cepat daripada rekan-rekan lainnya. “Peningkatan intensitas kerja membuat kualitas dan produktivitas pekerja turun,” ungkap dari ESCP Europe, dikutip dari Detikcom, Kamis (9/8).
Penelitian dilakukan kepada 52.000 pekerja dari Eropa. Para partisipan diminta menjawab soal intensitas kerja mereka, frekuensi stres, rasa lelah dan seberapa puas mereka dengan perlakuan perusahaan, termasuk kenaikan gaji dan bonus.
Hasil penelitian menyebut partisipan yang secara rutin bekerja dengan intensitas tinggi memiliki kesehatan fisik dan mental yang jelek. Mereka juga mengaku kurang mendapat apresiasi dari atasan dan perusahaan, serta merasa berhak mendapat kenaikan gaji dan bonus.
Di sisi lain, pekerja yang mendapat kebebasan lebih saat bekerja memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik. Mereka juga diketahui memiliki produktivitas dan loyalitas yang lebih besar kepada perusahaan.
Peneliti berpendapat intensitas kerja yang tinggi ditandai dengan deadline ketat dan ritme kerja yang cepat. Hal ini membuat karyawan lebih mudah lelah dan meningkatkan risiko burnout. Avoustaki juga menyebut salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas adalah membiarkan pegawai memilih sendiri jam kerjanya.
Dengan begitu, ritme kerja pegawai bisa stabil dan tidak mengurasi energi emosional. “Jika bisa memilih antara bekerja lebih intens atau perpanjang jam kerja, sebaiknya ambil pilihan kedua. Lebih baik menentukan ritme kerja sendiri daripada harus mengejar ritme orang lain yang mungkin tidak cocok,” tuturnya.
Dalam penelitian lain, bekerja secara berlebihan ternyata memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Bukan hanya dapat menimbulkan stres, bekerja hingga lebih dari 45 jam setiap pekannya ternyata dapat memicu penyakit diabetes, terutama bagi para wanita.
Demikian hasil studi terbaru dari Institute for Work & Health di Toronto, Kanada yang dipublikasikan di BMJ Diabetes Research & Care. Penelitian tersebut menganalisa sekitar 7.000 pekerja berusia 35 tahun atau lebih di Kanada selama lebih dari 12 tahun.
Pada awal-awal penelitian atau sekitar dua tahun pertama, tidak ada satu pun dari pekerja yang menderita diabetes. Penyakit diabetes baru mulai menyerang setelah mendekati masa-masa akhir bekerja. Artinya, penyakit tersebut memiliki efek jangka panjang.
Dari hasil penelitian, wanita yang bekerja lebih dari 45 jam sepekan memiliki risiko 63% lebih tinggi terkena diabetes dibandingkan wanita yang bekerja sekitar 35 hingga 40 jam setiap pekannya. Hasil tersebut didapatkan berdasarkan total jam kerja yang dibayar dan yang tidak dibayar. Termasuk faktor-faktor potensial lain yang dapat mempengaruhi risiko diabetes seperti gaya hidup dan berbagai penyakit kronis.
“Bekerja lebih banyak jam di tempat kerja dan di rumah mungkin membuat wanita lebih rentan terhadap stres kronis, peradangan dan perubahan hormonal yang berpotensi berkontribusi terhadap diabetes,” ujar Mahee Gilbert-Ouimet, seorang peneliti di Institute for Work & Health of Toronto, seperti dikutip dari Bisnis.com, kemarin. (JIBI/Detik/Bisnis.com)