Spirit untuk Peradaban dalam International Gamelan Festival 

SOLO—Deretan komposisi musik karya tiga maestro Indonesia menyambut “kepulangan gamelan” dalam grand opening International Gamelan Festival (IGF) bertema Homecoming di Benteng Vastenburg, Kamis (9/8) malam.
Tabuhan gending Ketawang Pus­pawarna karya KGPAA Mang­kunagara IV yang dibawakan Orkestra Gamelan Nusantara mengawali grand opening International Gamelan Festival (IGF) di Benteng Vastenburg, Kamis malam. Suasana mendadak magis. Lantunan tembang Jawa yang telah menembus batas luar angkasa bersama Voyager I National Aeronautics a nd Space Administration (NASA) tersebut seolah menjadi titik balik yang membawa penonton membaca kembali perjalanan gamelan Jawa.
Pembukaan epik di bawah arahan komposer Rahayu Supanggah malam itu disempurnakan dengan lengkingan suara tinggi para pesinden. Serta tarian lembut sejumlah maestro tari Solo seperti Rusini dan Wahyu Santosa Prabowo. Seusai pentas, pembawa acara membacakan kilas balik Ketawang Puspawarna yang cukup fenomenal di kalangan pencinta gamelan. Riuh tepuk tangan terdengar menggema begitu repertoar pembuka selesai dimainkan. “Musiknya [kom­posisi Ketawang Puspawarna kar­ya Panggah] mengambil kesan me­ngudara lebih tinggi. Tentang Pus­pawarna yang membumbung tinggi, yang mengangkasa,” kata komposer Rahayu Supanggah atau akrab disapa Panggah saat diwa­wancara sebelumnya, Rabu (8/8) sore.
Selesai dengan karya fenomenal tersebut, pentas dilanjutkan dengan repertoar Kebo Giro dan Lintang Lintang. Disusul karya-karya terbaik dua maestro pembuka lainnya yaitu I Wayan Gde Yudane (Bali) dan Taufik Adam (Jakarta). Wayang Gde mempersembahkan komposisi gamelan yang lekat dengan nuansa Bali. Sementara Taufik lebih berwarna dengan mengawinkan beberapa instrument Nusantara. Musikus berdarah Minang ini mempertemukan alat musik gamelan yang lembut dengan energi tarian dan nyanyian Bajawa, Flores. Tiga seniman lintas disiplin seni Purbo Asmoro, Bulantrisna Djelantik, dan Landung Simatupang turut mengisi acara ppembukaan sebagai pembaca profil singkat para maestro.
Panggung IGF hari pertama juga dimeriahkan penampilan kelompok karawitan dari Southbank Gamelan Players (Inggris) yang cenderung klasik. Pembukaan belum usai, pe­nonton juga diajak menyaksikan ga­melan eksploratif karya Djaduk Fe­rianto & Kuaetnika (Jogja).
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam sambutannya mengatakan festival ini untuk merayakan keberagaman budaya. Festival ini membuka ruang interaksi dan dialog budaya yang sangat kuat.
“Gamelan saat ini juga sedang diajukan masuk nominasi warisan tak benda milik Indonesia ke UNES­CO [United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization] Maka Indonesia butuh dukungan pegiat gamelan untuk menyukseskan usulan itu. Selamat merayakan keberagaman budaya,” kata dia.(JIBI)

IKA YUNIATI