Pasar Tablet di Indonesia Terus Turun

JAKARTA—Pasar tablet semakin sepi peminat di pasar global. Di Indonesia, pengapalan tablet tiap kuartal juga terus menurun.
Berdasarkan laporan International Data Corporation (IDC) Worldwide Quarterly Tablet Tracker per kuartal II/2018, pasar tablet dunia turun 13,5% sepanjang kuartal tersebut dengan total pengapalan 33 juta unit.
Dari jumlah tersebut tablet konvensional (slate tablet) masih mendominasi keseluruhan jumlah pengapalan yakni 28,4 juta unit. Angka tersebut turun 14,5% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain itu, tablet bertipe bongkar-pasang atau detachable juga mengalami nasib yang sama akibat tidak adanya inovasi baru di lini tersebut.
Senior Research Analyst untuk IDC Worldwide Quarterly Mobile Device Trackers Jitesh Urbani mengatakan pasar tablet detachable tengah ada dalam tahap krusial. Selama ini lebih banyak didominasi produk premium Apple dan Microsoft yang pertumbuhannya terus melambat.
Kondisi di dalam negeri juga tak jauh berbeda. Associate Market Analyst IDC Indonesia Risky Febrian mengatakan pasar tablet di Indonesia mengalami penurunan tiap kuartal. Namun, dia tidak menyebut berapa besar market tablet di Indonesia saat ini.
Adapun untuk pemain tablet di Indonesia, Risky menyebut pemain lokal, Advan, masih mendominasi market share dengan perolehan 69%, diikuti Samsung (21%), dan Evercoss (5%). Sisanya beberapa vendor lain seperti Apple, Lenovo, Acer, HP, Huawei, dan Mito berbagi pangsa pasar.
Menurut Risky, kontributor terbesar untuk pasar tablet Indonesia datang dari sisi komersial. Namun, itu pun tidak menunjukkan hasil yang terlalu signifikan. Sementara dari sisi consumer angkanya kian tergerus.
Salah satu alasannya, kata Risky, adalah phablet (phone tablet) yang banyak hadir dengan spesifikasi semakin canggih plus layar yang semakin besar sehingga membuat konsumen beralih.
“Jadi mengganggu pasar tablet juga, apalagi di segmen [tablet yang berukuran] 7—8 inci itu kan sudah sangat dekat sekali sama [ukuran] phablet,” ujar dia di Jakarta, Minggu (12/8).
Deputy Country Director Huawei Device Indonesia Lo Khing Seng mengamini sepinya pasar tablet. Menurut dia, pasar tablet saat ini semakin menyusut karena minat konsumen untuk membeli tablet berkurang.
“Not addressable market buat Huawei. Kami punya produk [tablet] dengan harga di bawah Rp2 juta, tapi pasarnya enggak besar,” papar dia.
Sebaliknya, vendor asal Korea, Samsung, menyebut potensi tablet di Indonesia masih kuat, terutama di lini tablet premium.
IT & Mobile Marketing Director Samsung Electronics Indonesia Jo Semidang menyebut kendati ada penurunan di beberapa segmen, tetapi untuk produk tablet premium (di atas Rp8 juta) menunjukkan pertumbuhan yang terus naik, meski dia enggan menyebut berapa angka pertumbuhan.
Dia menilai karakteristik pengguna di Indonesia cukup unik. Menurut Jo, konsumen Indonesia cederung enggan membeli tablet karena fungsinya yang dapat digantikan ponsel atau laptop.
Mereka butuh alasan yang kuat untuk membeli tablet dan di sanalah celah untuk tablet premium.
“Di [kategori] device ini ada beberapa segmen yang tidak terjawab [kebutuhannya], itu yang jadi challenge manufacturer untuk menjawab hal tersebut,” ujar dia, Minggu.
Ke depannya, ujar Jo, Samsung masih akan fokus mengembangkan lini tablet premium mereka. Tujuan mereka membuat para konsumen yang biasa menggunakan laptop beralih ke perangkat tablet. (Dhiany Nadya Utami/JIBI)