SELAMA SEMESTER I/2018 Pasar Ritel di Jateng Turun 5%

SEMARANG—Industri ritel di Jateng mengalami penurunan hingga 5% di Semester I/2018. Hal ini disebabkan disrupsi digital yang tengah berkembang.

Alif Nazzala Rizqi
redaksi@koransolo.co

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jateng Budi Soeseno menjelaskan saat ini ritel di Jateng sedang lesu. Sebab, banyak masyarakat yang mulai beralih berbelanja online karena cenderung lebih praktis.
”Ritel di Jateng pada Semester I turun lebih dari 5%. Tidak lain akibat banyaknya department store yang sepi akibat banyak masyarakat khususnya di Jateng yang beralih menggunakan sistem online untuk berbelanja sehari-hari,” ujar Budi di Semarang, Minggu (12/8).
Dia mengatakan adanya momen hari raya seperti Idulfitri dan perayaan Imlek sempat mendongkrak penjualan beberapa toko di department store karena masyarakat berbondong-bondong mengunjungi pusat perbelanjaan.
Menurut dia, pada momen hari raya lalu ritel di Jateng tumbuh pesat. Kebiasaan masyarakat banyak membeli perlengkapan seperti baju dan sepatu baru untuk berhari raya. Namun, kenaikan tersebut terjadi hanya sesaat dan tidak bertahan lama.
”Momen hari raya Idulfitri dan Imlek sangat mendongkrak penjualan sejumlah ritel yang ada di Jateng. Tapi sayang momen tersebut hanya sesaat dan jika dirata-rata selama tujuh bulan masih turun dibandingkan dengan tahun lalu,” imbuh dia.
Budi menambahkan harusnya beberapa toko online dikenakan pajak yang sama dengan toko ritel. Hal ini, dirasa penting dan pemerintah harus adil dalam menentukan peraturan mengenai pajak.
”Harusnya pemerintah tegas mengenai pajak untuk toko online ini agar tidak terjadi kecemburuan antara toko online dan toko ritel,” tambah dia.
Budi menjelaskan menjamurnya minimarket turut andil dalam lesunya industri ritel di Jateng. Pasalnya, kini masyarakat lebih senang ke minimarket ketimbang harus berbelanja di department store dengan jarak cukup jauh.
”Keberadaan minimarket yang kian menjamur di Jateng, menjadi salah satu faktor lesunya industri ritel di Jateng,” papar dia.
Sementara itu, meningkatnya impor barang konsumsi itu akibat booming belanja e-commerce pada akhir 2015 lalu.
Wakil Direktur Indef, Eko Listiyanto, melihat penyebab perlambatan pertumbuhan sektor industri kuartal I/2018 menjadi 3,9% disebabkan peningkatkan barang impor di pasar daring tersebut.
”Kita bisa lihat dari inventory yang meningkat menjadi Rp81 triliun dari yang sebelumnya hanya sekitar Rp60 triliun, artinya penjualan di musim Lebaran tidak sesuai ekspektasi produsen,” ujar dia.
Neraca Perdagangan
Impor barang konsumsi lanjutnya merupakan salah satu fokus yang harus pemerintah tekan guna memperbaiki neraca perdagangan yang masih defisit US$1,01 miliar.
Menurut dia, pemerintah harus mulai mengatur impor barang konsumsi yang tidak dilakukan industri harus ditinjau ulang apalagi jika sasarannya memang untuk langsung diperdagangkan.
”Barang konsumsi seperti ini substitusi di dalam negerinya juga ada, sehingga penerbitan izin impor harus mulai diperketat,” jelas Eko.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Yunita Rusanti, mengungkapkan pola belanja daring saat ini belum menjadi faktor dominan yang membuat impor barang konsumsi meningkat.
”Ada tercatat [impor belanja online] hanya masih kecil dibandingkan dengan barang-barang konsumsi yang utama, yang dari pembelian secara online, di dokumen bea cukai tercatat sendiri bukan yang besar-besar. Kalau yang beli online barang-barang impor tercatat besarnya kurang dari US$1 juta,” papar dia.
Yunita menambahkan impor barang konsumsi masih didominasi makanan-minuman (process food), barang konsumsi setengah tahan lama, barang konsumsi tidak tahan lama dan makanan-minuman (primary).
Menurut data BPS, impor Januari-Juni 2018,  impor paling tinggi secara nilai, makanan minuman (process food) untuk rumah tangga sebesar US$1,935 miliar, lalu barang konsumsi setengah tahan lama US$1,716 miliar, barang tidak tahan lama US$1,511 miliar, dan makanan minuman (primary) US$1,062 miliar.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri BPS, Bambang Adi Winarso, melihat memang ada pergeseran kebiasaan berbelanja dari datang langsung ke toko menjadi melalui e-commerce atau sosial media.
Namun, kebiasaan belanja online tersebut tidak serta merta menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan impor barang konsumsi. (Rinaldi Mohammad Azka/JIBI)