PROYEK INFRASTRUKTUR BERBARENGAN Solo Macet di Mana-Mana

Macet: Kendaraan roda dua dan roda empat memadati Jl. Jenderal Sudirman, Solo, Rabu (12/9). Kepadatan arus lalu lintas tersebut dampak diberlakukannya manajemen rekayasa lalu lintas (MRLL) proyek penataan koridor Jl. Jenderal Sudirman dengan pemasangan barikade sehingga kondisi jalan menyempit dan menyebabkan arus lalu lintas padat.

SOLO—Banyaknya proyek infrastruktur yang dikerjakan bersamaan mengakibatkan kemacetan parah di beberapa ruas jalan di Kota Solo.
IRAWAN SAPTO ADHI
redaksi@koransolo.co
Penerapan rekayasa lalu lintas proyek penataan koridor Jl. Jend. Sudirman (Jensud) membuat arus lalu lintas di Jl. Slamet Riyadi maupun Jl. Urip Sumoharjo menjadi tersendat terutama pada jam sibuk. Pada proyek tersebut, Dinas Perhubungan (Dishub) Solo telah memasang water barrier di tengah Jl. Jensud dari perempatan Telkom Solo atau Bank Indonesia (BI) Solo hingga Jl. Urip Sumoharjo atau badan Jembatan Pasar Gede.
Dishub terpaksa hanya menyediakan satu lajur jalan di masing-masing jalur di Jl. Jensud maupun Jembatan Pasar Gede karena Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Solo mulai mengganti lapisan aspal bagian tengah badan Jl. Jend. Sudirman, Jl. Arifin, dan bundaran Balai Kota Solo dengan batu andesit.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Solo, Ari Wibowo, menyampaikan rekayasa lalu lintas di Jl. Jensud rencananya diberlakukan hingga 10 Desember mendatang, disesuaikan dengan jadwal proyek penataan koridor Jensud rampung.

Jika target proyek tersebut tercapai, Dishub tak perlu ambil pusing lagi soal pemberlakukan rekayasa lalu lintas acara Haul Habib Ali bin Muhammad al Habsyi di Pasar Kliwon pada 29-30 Desember 2018 mendatang.
Ari mengatakan kemungkinan besar jika tak ada kendala, Dishub akan memberlakukan skema rekayasa lalu lintas acara Haul Habib Ali pada akhir tahun ini sama seperti penyelenggaraan sebelumnya pada 8-9 Januari 2018. Rekayasa lalu lintas itu dengan kembali menutup Jl. Kapten Mulyadi. Sebagai konsekuensinya, kendaraan dari arah timur yang ingin ke barat atau selatan akan dialihkan masuk Jl. Mayor Kusmanto-Jl. Jensud-Jl. Slamet RIyadi (berlaku contra flow).
“Tanggal 10 Desember itu akhir kontrak proyek penataan koridor Jensud. Kalau proyek bisa selesai tepat waktu, kami akan memberlakukan rekayasa lalu lintas acara Haul Habib akhir tahun ini sama dengan awal tahun lalu. Jl. Jend. Sudirman akan kembali jadi andalkan untuk menampung kendaraan yang tak bisa lewat Jl. Kapten Mulyadi,” kata Ari saat berbincang dengan Koran Solo di Kantor Dishub Solo, Rabu (12/9).
Jembatan Darurat
Bukan hanya di Jl. Jendsud, kemacetan arus lalu lintas belakangan juga terpantau kerap terjadi di simpang Ngemplak hingga simpang Kandang Sapi. Ari membenarkan kepadatan arus lalu lintas di dua lokasi tersebut disebabkan adanya pengerjakan proyek pembangunan kembali Jembatan Jl. M.W. Maramis atau lebih dikenal dengan sebutan Kretek Abang.
Dishub tidak menyediakan jembatan darurat di sekitar Kretek Abang yang sudah mulai dibongkar oleh kontraktor. Hal itu membuat para pengendara harus mencari jalur alternatif untuk menyeberangi aliran Kali Anyar. Jembatan Ngemplak dan Jembatan Kandang Sapi diketahui sebagai jalur alternatif terdekat yang bisa dipilih pengendara ketika tak bisa lagi lewat Kretek Abang.
“Jembatan Abang sudah ditutup. Otomatis kendaraan yang biasanya lewat sana mesti mencari jalur alternatif untuk bisa menyeberang Kali Anyar. Paling dekat ya mereka lewat Jembatan Ngempak atau Jembatan Mojosongo. Belakangan kan memang muncul komplain juga di media sosial terkait kondisi perempatan Ngemplak dan Kandang Sapi yang dianggap sering macet. Yang bisa kami lakukan sekarang ya manajemen APILL dan pengaturan lalu lintas di lapangan. Kami tidak bisa kalau harus membuat jembatan darurat,” jelas Ari.
Ari menyampaikan proses perbaikan Jl. Letjen Suprapto juga cukup menghambat kelancaran arus lalu lintas di ruas jalan tersebut. Alasannya, pelaksanaan proyek tersebut mengharuskan Dishub melakukan rekayasa lalu lintas dengan menutup sebagian Jl. Letjen Suprpto.
Selain itu, proyek penggantian jembatan Tirtonadi yang masih berlangsung juga membuat arus lalu lintas di simpang Tirtonadi agak tersendat. Kendaraan diketahui tidak bisa melaju lancar ketika hendak masuk ke jembatan baru sisi barat dari selatan ke utara.
Ari menyampaikan kemacetan di sumlah ruas jalan di Kota Bengawan tak terhindarkan akibat pelaksaan proyek. Hingga kini, rekayasa lalu lintas pembangunan flyover Manahan juga belum rampung. Hal itu memicu kemacetan di sejumlah lokasi terutama di kawasan Pasar Nongko.
Kemacetan juga diakibatkan pembangunan saluran air di Jl. Adisucipto, terutama di pertigaan Jl. Pakel (barat Hotel Fave Adisucipto). Pada jam-jam sibuk, kendaraan dari arah utara (Jl. Pakel) keluar ke Jl. Adisucipto tersendat karena pembangunan saluran air yang tak kunjung selesai mengakibatkan penyempitan jalan. Akses keluar Jl. Pakel hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat.
Jalan alternatif yang biasa digunakan masyarakat menuju kawasan Sumber, yaitu Jl. Pajajaran (SMA St. Yosef) juga tidak bisa dilewati. Jalan itu kini ditutup karena perbaikan jalan dan jembatan.
Kemacetan di Kota Solo juga diperparah dengan ditutupnya sebagian Jl. Adi Sumarmo di perbatasan Solo-Colomadu. Di kawasan Klodran, Colomadu, tersebut kini sedang dibangun proyek peningkatan jalan sebagai akses jalan tol. Hal itu membuat kemacetan parah menuju simpang empat batas kota, terutama dari arah utara.
Ari meminta kepada warga untuk mematuhi rekayasa lalu lintas yang diberlakukan Dishub dan Satlantas Polresta Solo. “Jl. S. Parman dan Jl. Monginsidi sudah kami buka dua arah lagi. Proyek perbaikan jalan di sana sudah rampung. Dengan demikian, bus-bus tidak kami lewatkan lagi ke Simpang Joglo. Jadilah sekarang sejumlah lokasi di seputaran Banjarsari macet lagi seperti di simpang Balapan, simpang patung Mayor Achmadi, maupun simpang Gilingan,” terang Ari. (Haryono Wahyudiyanto/JIBI)