Tujuh Kerbau Bule Semarakkan Kirab 1 Sura Keraton

Koran Solo/Nicolous Irawan
kirab 1 Sura: Kerbau bule keturunan kerbau Kyai Slamet menjadi cucuk lampah pada Kirab Pusaka peringatan Malam 1 Sura di depan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Selasa (11/9) malam.

IVAN ANDIMUHTAROM

SOLO—Ribuan orang memadati halaman depan Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Selasa (11/9) malam. Ada anak kecil, remaja, dewasa, hingga orang tua tumpah-ruah menunggu dimulainya Kirab 1 Sura Tahun Dal 1952 Jhe.
Dalam kirab tersebut, Keraton Surakarta mengarak tujuh ekor mahesa atau kerbau bule keturunan Kiai Slamet dan sekitar 19 pusaka keraton. Warga antusias menonton dari jarak dekat adat-istiadat yang berlangsung setahun sekali itu.

Tujuh kerbau bule yang ikut dalam kirab bernama Sukro, Apon, Juminten, Mugi, Pahing, Jabu, dan Siam.
Sementara itu, para abdi dalem dan para tamu bersiap di teras Kori Kamandungan. Mereka juga menunggu titah Sinuhun Paku Buwana XIII untuk memulai kirab. Sekitar pukul 23.50 WIB, kirab dimulai. Dua motor gede (moge) dan satu mobil patwal kepolisian bergerak perlahan melewati supit urang. Mereka membuka jalan bagi tujuh kerbau bule yang berjalan dengan ritme relatif cepat.
Pawang dan pengiring pawang mengikuti kerbau-kerbau tersebut sambil menghalau warga yang sebelumnya sudah menunggu di kanan-kiri jalan yang dilalui kirab untuk mengikuti para mahesa dari belakang. Selanjutnya, rombongan pembawa pusaka keraton berjalan satu per satu. Satu pusaka diiringi puluhan abdi dalem. Dalam kesempatan tersebut, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto dan Kapolda Jateng Irjen Pol. Condro Kirono turut serta dalam barisan pembawa pusaka keraton.
Rute kirab dimulai dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju supit urang kemudian ke Gladak. Mereka lalu berbelok ke timur melewati Jl. Mayor Kusmanto.
Selanjutnya berbelok ke selatan lalu menyusuri Jl. Kapten Mulyadi, Jl. Veteran, Jl. Yos Sudarso, Jl. Slamet Riyadi kemudian kembali ke Keraton Surakarta Hadiningrat.
Tradisi Kirab 1 Sura di Keraton Surakarta Hadiningrat didasarkan pada perhitungan kalender Jawa yang menggabungkan kelender Hijriah dan Tahun Saka. Sesuai kalender nasional, 1 Sura atau 1 Muharram 1440 H terjadi pada Selasa (11/9). Jika mengacu penanggalan tersebut, tradisi kirab pusaka untuk menyambut malam pergantian Tahun Baru Islam seharusnya diadakan pada Senin (10/9) malam.
Namun penentuan malam 1 Sura oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berbeda karena menggunakan penghitungan kalender Jawa. Sebab itu, kirab yang melibatkan kerbau bule tersebut dilakukan mundur satu malam dibandingkan penanggalan 1 Sura yang ditetapkan pemerintah dalam kalender nasional.
“Untuk 1 Sura tahun ini jatuh pada tanggal 11 atau hari Selasa Wage malam atau malam Rabu. Jadi kirabnya Selasa malam sampai Rabu pagi,” kata Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, K.G.P.H. Dipokusumo, kepada wartawan, Minggu (9/9).
Sementara itu, salah seorang warga Polokarto, Sukoharjo, Sri Lestari, 43, mengaku datang dengan bersepeda motor bersama kakaknya. Ia tiba di keraton sekitar pukul 19.00 WIB. Tak ada maksud lain, kedatangannya adalah untuk ngalap berkah. Ia berhasil mengambil janur di area keraton yang rencananya akan ia taruh di ladangnya.
”Ini biar hasil pertanian bagus. Tiap satu Sura, saya kemari mencari berkah,” ungkapnya saat ditemui Koran Solo, Rabu (12/9) dini hari.
Yati, 63, juga memiliki motivasi yang sama. Ia juga mengambil janur untuk penolak bala di rumahnya. ”Semoga rumah selalu aman,” terang perempuan yang kini tinggal di Juwiring, Klaten itu. (JIBI)