Air PDAM Berwarna Merah

Pengecekan saluran air: Petugas Perumda Air Minum Toya Wening Solo mengecek saluran air yang diduga tercemar di Banyuanyar, Banjarsari, Solo, Rabu (10/10). Pengecekan tersebut dilakukan setelah menerima informasi dan aduan warga tentang air PDAM berubah warna menjadi merah.

IRAWAN SAPTO ADHI
redaksi@koransolo.co

SOLO—Air Perumda Air Minum (PDAM) Tirto Wening Solo yang didistribusikan kepada sebagian warga RW 012 Kelurahan Banyuanyar, Banjarsari, Solo, berubah warna menjadi merah.
Direktur Teknik (Dirtek) Perumda Air Minum Toya Wening Solo, Tri Atmojo Sukomulyo, mengatakan menerima informasi dari media sosial (medsos) dan menerima aduan langsung dari warga Banyuanyar pada Selasa (9/10) malam. Perumda Air Minum pun langsung mencari tahu penyebab air di sejumlah rumah warga RT 002 dan RT 003 /RW 012 Banyuanyar berubah warna.
Berdasarkan pantauan Koran Solo, Rabu (10/10) pagi, pejabat Perumda Air Minum Toya Wening mendatangi sumber air yang digunakan untuk memasok air bersih ke wilayah Banyuanyar seperti sumur dalam Kelurahan Karangasem, Kelurahan Manahan 1 dan 2, serta Kelurahan Banyuanyar. Setelah mengecek, Tri Atmojo menyebut kondisi air di ketiga sumur dalam tersebut secara kasat mata tidak berwarna atau bening.
Setelah itu, petugas Perumda Air Minum dengan didampingi petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo dan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo meninjau lokasi rumah warga yang airnya berubah warna. Petugas membongkar pipa distribusi di lingkungan rumah warga untuk memastikan kondisi air.

“Dugaan sementara ada kebocoran di pipa kami yang mengakibatkan air di jaringan bisa tercemar. Namun, bisa juga karena ada warga menggabungkan saluran drainase atau sumur dengan saluran air minum. Jika seperti itu, ada kemungkinan air sumur yang tercemar masuk ke jaringan kami,” kata Tri Atmojo kepada Koran Solo.
Di tengah-tengah aktivitas mengecek kondisi air, Tri Atmojo mendapat informasi dari Kepala Cabang Wilayah Perumda Air Minum Toya Wening, Sarwono, yang menemukan usaha sablon di dekat kawasan sana. Ada kemungkinan limbah sablon menjadi penyebab air berubah warna menjadi merah.
Rombongan akhirnya memutuskan mendatangi usaha sablon di Jl. Pleret Raya RT 006/RW 007 Kelurahan Sumber, itu. Di lokasi usaha sablon, petugas mendapati cairan kimia yang memiliki warga merah hampir serupa dengan air yang dibawa dari rumah warga Banyuanyar. Mereka pun menemukan fakta lain bahwa usaha sablon tersebut belum mengantongi izin.
Namun, Tri Atmojo tidak mau buru-buru menuding penyebab air produksi Perumda Air Minum untuk warga Banyuanyar tercemar karena limbah usaha sablon tersebut. Untuk mengetahuinya, Perumda Air Minum akan mengecek instalasi distribusi air di sekitar usaha sablon dan memeriksakan kandungan air berwarna ke laoratorium.
Sanitarian Puskesmas Pajang, Enny Kurnia, yang turut dalam rombongan mengimbau kepada warga untuk tidak mengonsumsi air yang berwarna merah. Dia menyebut secara fisika, air yang telah berwarna seperti itu rawan tercemar atau berisiko mengandung zat berbahaya. Warga lebih baik mengonsumsi air dari Perumda Air Minum setelah kembali jernih.
Tri Atmojo menargetkan Perumda Air Minum Toya Wening bisa menyelesaikan persoalan air paling lama dalam waktu sepekan ini. (JIBI)