fenomena alam Tanpa Bayangan di Kota Pendidikan

Jogja sebagai kota pendidikan, bakal mengalami sebuah hari tanpa ada bayangan. Tepatnya di siang hari, ketika Matahari berada tepat tegak lurus di wilayah Jogja. Fenomena alam itu diperkirakan terjadi pada Sabtu (13/10) mendatang. Berikut laporan yang dihimpun wartawan Harian Jogja, Galih Eko Kurniawan, dari berbagai sumber.
Fenomena siang hari tanpa bayangan akan terjadi di Jakarta dan Serang pada Selasa (9/10). Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mencatat fenomena yang terjadi setidaknya dua kali dalam setahun di Indonesia yakni di bulan Maret-April dan September-Oktober.
Sejumlah wilayah di Indonesia akan merasakan fenomena hari tanpa bayangan dua kali dalam setahun. Wilayah Serang dan Jakarta sudah dilintasi fenomena hari tanpa bayangan pada Selasa (9/10) lalu. Pada Kamis (11/10), fenomena alam itu akan terjadi di Bandung, Jawa Barat.
Peristiwa langka itu bakal terjadi pada pukul 11.36 WIB. Menurut Kepala Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung, Tony Agus Wijaya, hari tanpa bayangan terjadi karena posisi Matahari tegak lurus di wilayah Bandung pada siang hari.
“Hal ini adalah peristiwa rutin yang terjadi satu tahun dua kali yaitu Maret dan Oktober,” ujarnya, dikutip dari medcom.id, kemarin. Fenomena dengan nama Kulminasi Utama itu terjadi karena Bumi mengelilingi Matahari dan kerap berubah pada setiap saat.
Namun, Tony memastikan fenomena itu tidak akan berdampak apapun kepada manusia. BMKG mencatat fenomena hari tanpa bayangan itu juga terjadi di beberapa daerah Jawa, yakni Jakarta dan Serang pada Senin (9/10), kemudian Semarang, Jawa Tengah pada Kamis (11/10), lalu Surabaya, Jawa Timur pada Jumat (12/10) dan Jogja kebagian di akhir pekan, yakni pada Sabtu (13/10).
Untuk daerah luar Pulau Jawa, wilayah Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan Papua sudah lewat, yakni terjadi pada September kemarin. Tinggal tersisa daerah-daerah di Bali dan Nusa Tenggara. Untuk di Mataram, Nusa Tenggara barat, fenomena ini terjadi pada Senin (15/10) pukul 12.01 Wita sedangkan di Denpasar, fenomena ini terjadi pada hari yang sama, pukul 12.05 Wita. Sementara di Kupang, Nusa Tenggara Timur, fenomena hari tanpa bayangan terjadi pada Sabtu (20/10) pukul 11.30 Wita.
Peneliti sains antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Rhorom Priyatikanto, menuturkan fenomena hari tanpa banyangan akan terjadi dalam waktu singkat dan berakhir tepat saat waktu dzuhur.
“Hari tanpa bayangan hanya berlangsung sekitar 10 menit, lebih dari rentang waktu itu bayangan akan semakin kentara. Saat puncak hari tanpa bayagan akan terdengan azan karena selalu bertepatan dengan waktu dzuhur,” tuturnya.
Benda Panjang
Seiring dengan berakhirnya puncak hari tanpa bayangan, Rhorom menjelaskan Matahari akan bergeser perlahan ke arah selatan.
Posisi ekstrem Matahari akan menjadi puncak musim panas bagi Australia, Selandia Baru, dan Chile pada 22 Desember mendatang.
Kepala Bagian Humas Lapan Jasyanto mengungkapkan pada saat terjadi tanpa bayangan di sejumlah wilayah Indonesia, terik Matahari akan naik sekitar 9%. “Matahari tepat di atas kepala dan akan lebih terik sembilan persen,” ujarnya.
Di Indonesia, peristiwa pertama hari tanpa bayangan terjadi pada 21 Maret lalu. Kondisi ini terjadi karena matahari akan berada tepat di atas ekuator atau khatulistiwa. Peristiwa alam itu akan bermula pada 20 Maret 2018 pukul 23.15 WIB. Pada saat itu Matahari akan tepat berada di atas ekuator.
Peristiwa ini dikenal sebagai vernal equinox (musim yang sama dengan malam) karena pada hari itu, durasi siang dan malam di seluruh dunia akan sama, yakni 12 jam. Di daerah ekuator, misalnya di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Matahari akan berada di atas kepala saat tengah hari vernal equinox sehinga sebuah tugu tegak akan tampak tanpa bayangan. Pada 21 Maret lalu, Matahari mencapai titik puncak pada pukul 11.50 WIB.
Lapan memberikan tip sederhana bagi masyarakat yang ingin menguji kebenaran hari tanpa bayangan. Masyarakat bisa memanfaatkan benda panjang yang memiliki tingkat kelurusan, seperti halnya balok. Pada saat itu bayangan pada sebuah tonggak yang berdiri tegak, tidak akan memiliki bayangan.
Namun, pengujian hari tanpa bayangan ini tidak berlaku bagi pohon rindang karena akan tetap mempunyai bayangan sampai menggunakan telapak tangan sebagai pengukuran. Selain itu, pengujian tersebut baiknya dilakukan sebelum dan setengah tengah hari. Sebab, pada kondisi tersebut, tentunya masih terlihat dengan jelas bayangan dari suatu benda akibat sinar Matahari. (JIBI/Detikcom/medcom.id/Bisnis.com)

redaksi@koransolo.co