Pertamax Rp10.400, Premium Batal Naik

JAKARTA-Kenaikan harga minyak dunia yang menembus US$80 per barel dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) membuat Pertamina kembali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

ANNISA SULISTYO RINI
redaksi@koransolo.co

BBM tersebut yaitu BBM nonsubsidi pertamax series, mulai Rabu (10/10) pukul 11.00 WIB. Di area Jawa Tengah, harga pertamax naik dari Rp9.500/liter menjadi Rp10.400/liter atau naik Rp900. Sedangkan harga pertalite yang banyak digunakan sebagai pengganti premium dipertahankan tetap Rp7.800/liter. Harga ini adalah harga yang berlaku sejak 24 Maret 2018.
Sementara itu, harga BBM penugasan pemerintah disubsidi, premium, sempat dikabarkan akan naik pada Rabu pukul 18.00 WIB, namun kemudian dipastikan batal. Harga premium tetap Rp6.550/liter sejak 1 April 2016. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, mengatakan rencana kenaikan harga premium menjadi Rp7.000 per liter dipicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
”Arahan presiden paling cepat pukul 18.00 WIB harga premium menjadi Rp7.000. Itu pun tergantung kesiapan Pertamina di 2.500 SPBU,” kata Jonan di Bali, Rabu sore.
Namun, selang sejam, pemerintah membatalkan rencana itu. ”Sesuai arahan Bapak Presiden, rencana kenaikan harga premium agar ditunda,” kata Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi.

Dia menegaskan kenaikan harga premium baru akan dilakukan setelah Pertamina sebagai lembaga penyalur premium siap. ”Akan dibahas ulang, sambil menunggu kesiapan Pertamina,” tegas dia.
External Communication Manager PT Pertamina, Arya Dwi Paramita, menjelaskan penyesuaian harga BBM jenis pertamax, pertamax turbo, dexlite, pertamina dex, dan biosolar non-PSO merupakan dampak harga minyak mentah dunia yang terus naik.
”Saat ini harga minyak dunia rata-rata menembus US$80 per barel, di mana penetapannya mengacu pada Permen ESDM No. 34 tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2014, Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM,” jelas Arya.
Meskipun harga pertamax naik, nilainya lebih murah dibandingkan harga BBM yang dijual perusahaan lain, misalnya Shell. Perusahaan minyak asal Belanda tersebut menjual BBM jenis super seharga Rp10.500/liter, V-Power Rp12.350/liter, dan diesel Rp11.950/liter.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai kenaikan harga BBM merupakan kebijakan yang realistis. Ketua Umum Apindo, Hariyadi B. Sukamdani, mengatakan dunia usaha bisa memahami keputusan kenaikan harga BBM tersebut. ”Masalah anggaran, masalah kebijakan ekonomi harus dilakukan dengan serius. Kenaikan harga BBM itu realistis,” ungkap dia.
Himpunan Swasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Soloraya waswas kenaikan harga pertamax mengurangi omzet mereka. Kabid SPBU Hiswana Migas Soloraya, Hevy Setyana, mengatakan tak kaget dengan kebijakan itu mengingat penguatan dolar AS.
“Kenaikan [harga BBM nonsubsidi] ini sebenarnya tinggal menunggu waktu. Akan tetapi, kami cukup kaget kenapa kenaikan harganya saat siang hari. Bisa jadi kenapa kali ini kenaikan diumumkan mendadak agar masyarakat tidak panik,” kata dia.
Pemilik SPBU di Tasikmadu, Karanganyar, ini menilai konsumen sebenarnya tidak terlalu memerhatikan harga selama kendaraan dipakai untuk kepentingan sendiri bukan usaha.
Mereka biasanya membeli BBM dengan nilai Rp10.000, Rp50.000, atau Rp100.000. Menurut dia, adalah hal biasa mendapatkan komplain dari masyarakat terkait kenaikan harga BBM.
Dia memperkirakan dampak kenaikan harga BBM baru bisa dirasakan 2-3 hari setelah harga resmi naik. “Kami enggak bisa enggak kulakan, perkara laku apa enggak itu urusan pasar. Kalau kayak gini ada kemungkinan omzet turun karena pengguna pertamax beralih ke pertalite,” imbuh dia. (Farida Trisnaningtyas/Rinaldi Mohammad Azka/Liputan6.com/JIBI)