ABG Solo Meninggal Diduga Dianiaya Teman

BONY EKO WICAKSONO

SUKOHARJO—Anak baru gede (ABG), Retno Ayu Wulandari, 14, warga Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Begalon, Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Solo, menjadi korban penganiayaan. Korban ditemukan meninggal dunia di sekitar rumah penggilingan padi di Desa Trosemi, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (19/10) sekitar pukul 00.15 WIB.
Informasi yang dihimpun Koran Solo, Jumat, menyebutkan awalnya korban berpamitan dengan kakak kandungnya, Arved Crystian, Kamis (18/10) sekitar pukul 20.00 WIB. Retno saat itu hendak pergi bersama temannya yang telah menjemput di sekitar rusunawa.

Kala itu, keluarga korban tidak mengetahui tujuan korban pergi bersama teman-temannya tersebut.
Retno diketahui dijemput beberapa teman laki-lakinya di rusunawa. Mereka diketahui sempat pesta minuman keras (miras) tak jauh dari lokasi kejadian. Namun, Retno menolak tawaran untuk minum miras.
“Korban ditemukan di sekitar penggilingan padi dengan luka di kepala. Korban masih di bawah umur,” kata Kasatreskrim Polres Sukoharjo, AKP Rifield Contantien Baba, mewakili Kapolres Sukoharjo, AKBP Iwan Saktiadi, kepada Koran Solo, Jumat.
Korban mengalami luka sobek di kepala dan luka lecet di sekujur tubuhnya. Sebagian tubuh korban juga penuh lumpur. Diduga korban dianiaya di areal persawahan yang letaknya tak jauh dari lokasi penemuan mayat. Petugas lantas membawa korban ke RSUD dr. Moewardi Solo, untuk diautopsi.
Awalnya, saat ditemukan, polisi menduga korban terlibat kecelakaan lalu lintas di lokasi kejadian. Namun, saat ditemukan polisi menemukan luka sobek di kepala dan lecet. Polisi kemudian menduga korban merupakan korban penganiayaan, karena ada tanda-tanda kekerasan.
“Motifnya masih didalami penyidik. Sekarang masih dalam tahap penyidikan. Yang jelas, kasus itu penganiayaan karena ada tanda-tanda kekerasan,” imbuh dia.
Selang beberapa jam, dari hasil penyelidikan petugas, polisi berhasil menangkap beberapa teman laki-laki korban yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Ada empat teman korban yang ditangkap polisi. Saat ini, mereka masih diperiksa penyidik Satreskrim Polres Sukoharjo. Tak menutup kemungkinan, penyidik bakal memeriksa saksi lainnya untuk mengungkap kasus itu.
“Kami sudah memeriksa beberapa saksi, termasuk teman laki-laki yang menjemput korban di rusunawa,” tutur Kasatreskrim.
Frustrasi Agresi
Sementara, Jumat malam sekitar pukul 19.35 WIB, jenazah korban tiba di rumah duka di RT 002/RW 008, Panularan, Laweyan. Korban akan dikebumikan Sabtu pagi di Makam Daksinoloyo.
Menurut Ketua RT  002/RW 008, Ariyanto, sehari-hari korban dikenal pendiam. Dia mengaku kaget saat mendengar kabar korban meninggal karena penganiayaan. Retno sudah tidak sekolah. Dia bekerja di sebuah pabrik batik. “Kagetlah, kan biasanya jrundal-jrundul,” jelas dia saat ditemui Koran Solo, Jumat malam.
Dia berharap orang tua yang memiliki anak agar berhati-hati dan tetap memantau kondisi anak. Kejadian tersebut menjadi sebuah pembelajaran agar anak lebih diperhatikan lagi.
Ayah korban, Edi Santoso, mengaku awalnya dikabari anaknya meninggal karena kecelakaan tunggal. Saat itu jenazah berada di RS dr. Oen Solo Baru. Namun, dia tak mempercayai ucapan temannya yang membawa anaknya ke rumah sakit. Akhirnya jenazah korban dibawa ke RSUD dr. Moewardi untuk diautopsi.
“Hasilnya ada beberapa luka bekas pukulan. Bagian belakang kepala terdapat luka sepanjang 10 cm. Bagian atas ubun-ubun terdapat luka sepanjang 15 cm,” kata dia.
Edi menyebut anaknya memang sering bermain. Tapi, dia tak mengetahui secara pasti ke mana anaknya tersebut bermain bersama teman-temannya. Alasannya, dia bekerja saat malam dan tidur pada pagi hari. Dia juga tak sempat berbicara dengan anaknya sebelum kejadian tersebut.
Ibu kandung korban, Welly, menjelaskan korban sepekan sebelumnya bercerita akan dinikahi oleh seseorang, namun menolak. Menurut penuturan korban kepada ibunya, sempat ada ancaman akan disantet sampai mati. Apabila tidak bisa mati, dia akan dipukul.
Psikolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Nugraha Arif Karyanta, menjelaskan pembunuhan oleh pelaku tergolong frustrasi agresi. Frustrasi agresi merupakan ketidakmampuan seseorang mengelola dorongan dirinya. Frustrasi itu menyebabkan tindakan agresif. Terdapat dua macam bentuk agresi, agresi ke dalam dan agresi keluar. “Agresi ke dalam yaitu melukai diri sendiri, bunuh diri, sedangkan agresi ke luar yaitu melukai sumber stres,” jelas dia.
Dalam kasus ini, remaja tidak mampu mengontrol dorongan yang dimilikinya. Pembunuhan yang dilakukan terhadap korban memperlihatkan pelaku sudah tidak mampu lagi menyaring dorongan dari dalam diri sendiri karena sudah terlampaui banyak. “Kebanyakan orang dalam situasi normal dapat berpikir cukup untuk menyalurkan, dan tidak membahayakan [orang lain],” kata dia. (Ratih Kartika/JIBI)