Prestasi Nadia

Oleh: Wardie Pena

”Ah, nggak Ma. Biarin aja dah. Enggak mungkin Beni mau mengakui kesalahannya.”
“Kok pesimis gitu? Kamu kan belum coba, Nak,” kata Mama.
“Tapi Ma…?”
“Sudaaah, jangan tapi-tapian lagi. Begini, kalau tindakan teman kamu itu terus-terusan kamu biarkan, apa artinya sebuah prestasi? Yakin saja, semua masalah bisa diselesaikan jika dibicarakan dengan baik-baik.”
Nadia mendengus. Ia mendongakkan pandangan ke wajah Mama.
“Jadi, gimana? Ingat, anak pintar harus berani bela kebenaran dan pandai menyelesaikan masalah.” Mama memastikan.
Nadia akhirnya mengangguk. Dilihatnya lagi wajah Mama yang masih menyimpul senyum sambil mengusap-usap rambutnya.
Esok harinya, Nadia melakukan semua saran Mama. Ia berbicara dengan Beni secara baik-baik dan meminta dia mengakui perbuatannya kepada Bu Zaida, wali kelas IV. Namun, Beni sempat marah dan tidak mengakui perbuatannya sendiri. Nadia pun memancing Beni dengan menanyakan soal yang mirip seperti soal ulangan sebelumnya.
“Ayo saja, siapa takut? Enak aja nuduh-nuduh aku nyontek?” ucap Beni agak geram.
“Berapa FPB dari 24?” tanya Nadia.
“Lho, soalnya kan bukan yang itu kemarin?” Beni coba berkilah.
“Ya tapi masih dalam materi yang sama.”
“Ah enggak bisa gitu, dong?”
“Tuh kan kamu enggak tahu, bilang aja kamu beneran nyontek?”
Beni menggaruk kepalanya. Entah kenapa kenakalannya seolah tertelan keberanian Nadia. Ia pun akhirnya mengakui perbuatannya, dan setuju menghadap Bu Zaida. Di hadapan Bu Zaida dan kepala sekolah, Beni meminta maaf atas perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Bu Zaida kagum atas sikap Beni yang telah mengakui kesalahannya. Tentu juga kepada Nadia yang telah berani menyatakan kebenaran.
“Jadi anak-anakku, di sekolah, selain menghargai prestasi kita juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran,” ucap Bu Zaida.
Sejak saat itu, Nadia dan Beni berteman baik dan sering belajar bareng. Mereka berdua dijadikan teladan siswa yang baik di sekolah. (Selesai/Dok/Solopos)