AKIBAT MELEMAHNYA RUPIAH TERHADAP DOLAR AS PLN Rugi Rp18,46 Triliun

JAKARTA—PT PLN (Persero) pada triwulan ketiga tahun ini kembali membukukan rugi akibat dari terus melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Denis Riantiza
redaksi@koransolo.co

Berdasarkan laporan keuangan PLN kuartal III/2018 yang dirilis pada Selasa (30/10), PLN membukukan rugi tahun berjalan hingga Rp18,46 triliun.  Sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya, PLN mampu mengantongi laba senilai Rp3,06 triliun.
Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus bergerak melemah hingga menembus Rp15.000 per dolar AS membuat perseroan mengalami rugi kurs yang jauh lebih tinggi dibandingkan semester I tahun ini.  Akibatnya secara pembukuan perseroan mencatatkan rugi yang cukup besar.
Namun, dia mengklaim hal tersebut tidak mengganggu kegiatan investasi dan operasional perseroan lantaran secara operasional perseroan masih mengantongi laba.
”Tidak usah khawatir, yang dilihat laba rugi operasionalnya. Pembukuan rugi, tapi operasional untung,” ujar dia.
Menurut laporan keuangan PLN, rugi kurs PLN pada kuartal III/2018 tercatat senilai Rp17,32 trilun.  Periode sama tahun lalu, rugi kurs hanya senilai Rp2,2 triliun.
Sedangkan laba usaha setelah subsidi tercatat senilai Rp16,69 triliun. Perolehan tersebut turun -29,75% dibandingkan kuartal III/2017 yang mencapai Rp23,76 triliun.
Pendapatan usaha PLN kuartal III/2018 mencapai Rp200,9 triliun atau tumbuh 6,97% dari realisasi periode yang sama tahun lalu, yakni Rp187,8 triliun.
Pendapatan terbesar berasal dari penjualan listrik yang naik sebesar 6,93% atau senilai Rp194,4 triliun.  Selebihnya, pendapatan berasal dari penyambungan pelanggan senilai Rp5,2 triliun dan lain-lain.
Beban usaha PLN juga tercatat meningkat menjadi Rp224 triliun atau naik 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp200 triliun.
Beban usaha terbesar PLN berasal dari pembelian bahan bakar dan pelumas yang mencapai Rp101,8 triliun.  Rata-rata pengeluaran untuk pembelian bahan bakar pada kuartal III tahun ini mengalami kenaikan.
Sarwono mengungkapkan kondisi rugi kurs yang cukup parah juga pernah dialami perseroan pada 2015.  Namun, kondisi tersebut dapat teratasi seiring menguatnya nilai tukar rupiah dan perseroan masih mampu membukukan laba di akhir tahun.
Sebelumnya Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Felienty Roekman mengatakan pihaknya sudah melakukan hedging untuk pembayaran operasional pembelian bahan bakar.  Namun, hedging hanya bisa dilakukan untuk biaya operasional yang bersifat jangka pendek.
Perseroan pun juga terus melakukan efisiensi.  Salah satu upaya dengan mengurangi susut jaringan.  Dengan mengurangi susut jaringan sebesar 1% saja, kata Syofvi, bisa melakukan efisiensi hingga Rp3 triliun.
”Kami harus efisiensi paling nggak sampai Rp5 triliun sampai akhir tahun,” papar dia.
Tahun lalu laba bersih yang dicapai perseroan  hanya mencapai Rp4,42 Triliun. Lebih rendah atau turun 45,7% dibandingkan perolehan laba pada tahun sebelumnya, yakni mencapai Rp8,15 Triliun. Penurunan laba tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan biaya energi primer batubara. (Nurhadi Pratomo/JIBI)