HASIL OLAH TKP Puslabfor Polri: Korsleting atau Open Flame

Espos/Nicolous Irawan
OLAH TKP: Petugas Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pasca kebakaran Pasar Legi, Solo, Selasa (30/10).

IVAN ANDIMUHTAROM

SOLO—Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri Cabang Semarang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi kebakaran Pasar Legi Solo, Selasa (30/10) pagi. Dugaan sementara, penyebab kebakaran hanya mungkin terjadi karena dua hal.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Pertama, open flame atau api terbuka misalnya karena dibakar. Kedua, korsleting pada jaringan kabel di pasar tersebut.
Pantauan Koran Solo, Selasa, beberapa anggota Puslabfor melihat lokasi sambil mengambil beberapa foto. Mereka juga menuju lokasi kebakaran di lantai II pasar sisi utara untuk mengambil sampel yang akan diteliti lebih lanjut. Di sisi lain, petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Solo masih berjibaku untuk memadamkan bara api di beberapa lokasi. Kepulan asap masih terlihat.
Kepala Sub Bidang Fisika Komputer Forensik, Puslabfor Bareskrim Mabes Polri Cabang Semarang, AKBP Teguh Prihmono, menjelaskan kedatangan mereka melakukan oleh TKP kebakaran Pasar Legi untuk memenuhi permintaan penyidik Polresta Solo. Ia menjelaskan peristiwa kebakaran bisa terjadi karena tiga unsur yaitu oksigen, bahan mudah terbakar, dan panas. ”Oksigen ada, bahan mudah terbakar ada. Sekarang tinggal mencari sumber panas,” ujarnya saat diwawancara wartawan seusai melakukan pemeriksaan lokasi.
Menurutnya, sumber panas tersebut bisa terjadi dari proses mekanik, proses kimia, biokimia, elektrik, dan open flame (api terbuka). Pihaknya akan mencari potensi sumber panas tersebut. ”Masing-masing potensi akan diperiksa lebih lanjut. Nah ini, tak ada proses kimia, proses biokimia, dan proses mekanik, jadi analisisnya tinggal dua, proses elektrik atau proses open flame,” paparnya.
Puslabfor mengambil barang bukti berupa jaringan listrik dan sisa api yang terbakar. Pihaknya harus didukung alat laboratorium forensik. ”Kalau arahnya ke open flame misalnya dibakar, ada akseleran atau tidak itu dari sisa abu yang terbakar itu kami akan periksa dengan alat khusus. Tapi kalau kabel jaringan instalasi listrik tentu saja ada proses korsleting, ada pemanasan dari dalam. Pemanasan dari dalam itu kan ada berubah struktur kabel. Mikro struktur kabel itu yang kami periksa lebih lanjut untuk mendukung apakah korsleting atau tidak?” papar dia.
Ia mengatakan hasil pemeriksaan paling cepat dapat diketahui setelah satu pekan. Menurutnya, untuk menentukan ada teori menentukan sumber api pertama yaitu dengan melihat rambatan api dan tingkat kerusakan yang paling parah. Lokasi itu biasanya mengalami pemanasan yang paling lama dan terjadi oksidasi yang paling tinggi.
”Di situlah kami menentukan sumber api pertama. Di lantai II pasar sisi utara kami kemudian mencari potensi penyebab kebakaran,” kata dia.
Kepala Dinas Damkar Solo, Gatot Sutanto, memprediksi kebakaran di lantai II terjadi bukan karena korsleting tetapi kabel yang kelebihan daya. Kabel semacam itu bisa menjadi panas kemudian membuat karet pembungkus kabel terbakar.
”Kalau sudah terbakar, itu seperti lilin. Jadi, ini yang harus dipahami masyarakat. Kalau korsleting itu biasanya sakelar meteran akan otomatis mati,” tuturnya saat ditemui wartawan di Pasar Legi, Selasa pagi.
Lebih lanjut, Gatot memberi apresiasi bagi para personel Damkar Kota Solo dan Damkar se-Soloraya yang turut membantu memadamkan api. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada ratusan sukarelawan yang membantu. ”Mereka datang dari penjuru Soloraya. Kami mengucapkan banyak terima kasih,” tutupnya. (JIBI)