Pedagang Luar Kota Ikut Waswas

Espos/Nicolous Irawan
BUKA LAPAK: Aktivitas pedagang di Jl. S. Parman, Pasar Legi, Solo, Selasa (30/10). Sejumlah pedagang mulai melayani pembeli dengan membuka lapak di pinggir Jl. S. Parman.

FARIDA TRISNANINGTYAS

SOLO—Kebakaran Pasar Legi di Setabelan, Banjarsari, Solo, menyebabkan pedagang pasar di Soloraya waswas. Hal ini tidak terlepas dari eksistensi Pasar Legi sebagai pasar induk di Soloraya.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo, Subagiyo, menyatakan rata-rata pedagang yang kulakan di pasar itu berbelanja Rp1 juta.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
”Ini pasar induk di Soloraya. Orang kalau ke sini belanja minimal Rp1 juta [kulakan]. Bahkan retribusinya hampir Rp4 miliar per tahun,” papar dia, Selasa (30/10).
Subagiyo menjelaskan pihaknya memetakan penanganan jangka pendek dan menengah setelah Pasar Legi terbakar. Jangka pendeknya, para pedagang bakal ditempatkan di pasar darurat yang berlokasi setidaknya di tiga tempat, yakni Jl. Sabang, Jl. Lumban Tobing, dan sekitar Kantor Kelurahan Setabelan.
”Jangka panjangnya kami akan menyertakan Ikatan Pedagang Pasar Legi [Ikapagi] untuk memberi masukan nantinya Pasar Legi seperti apa. Ini terkait perencanaan pembangunan, penempatan pedagang maupun zonasinya,” kata dia. Dia juga aalam berkoordinasi dengan Bank Indonesia kaitannya dengan adanya dampak sistemik inflasi di daerah.
Salah satu pedagang pelataran Pasar Legi, Kasidah, berharap Pemkot segera mencarikan solusi agar mereka bisa berjualan lagi. ”Kami juga bingung mau gimana. Dagangan kami habis terbakar. Kami berharap segera diberi tempat pengganti biar bisa berjualan dulu,” jelas pedagang ikan tersebut.
Pedagang Pasar Sangkrah, Kusmadi, mengatakan terbakarnya Pasar Legi akan berdampak pada pasar yang lain. Banyak pedagang pasar di Kota Solo dan wilayah lain yang menjadikan Pasar Legi sebagai jujugan untuk kulakan.
Salah satu pedagang Pasar Jurangjero, Kecamatan Karanganom, Sri Bukti, 62, mengaku selama ini rutin kulakan empon-empon, bumbu dapur, jeruk nipis, dan lainnya sepekan sekali di Pasar Legi.
Ia mengaku tak tahu harus ke mana kulakan setelah Pasar Legi terbakar. Pasar itu dipilihnya lantaran kualitas komoditas yang dijual bagus dibandingkan Pasar Sragen atau Pasar Induk Klaten.
Hal senada juga disampaikan pedagang Pasar Induk Klaten, Rustanto, 42. Dia berharap, pedagang Pasar Legi bisa segera mendapatkan tempat untuk kembali berjualan.
Para pedagang di Pasar Bunder, Sragen, mengaku waswas kesulitan mendapat pasokan dagangan setelah Pasar Legi terbakar. Rus Samidi, 52, pedagang gerabatan di Pasar Bunder mengaku waswas karena semua dagangan gerabatan di losnya, yakni berupa tumbar, miri, merica, bawang putih, penyedap rasa, dan berbagai dagangan lainnya merupakan hasil kulakan dari Pasar Legi.
”Kami berlangganan dengan pedagang Pasar Legi itu sudah sejak 1978. Beli barang dari Pasar Legi itu tidak harus tunai tetapi bisa dibayar tempo. Begitu mendengar ada kebakaran pasar, saya langsung menghubungi langganan kulakan saya di sana. Ternyata kios dan gudang dagangannya ludes. Waduh gimana kulakannya nanti,” ujar dia.
Pedagang lainnya, Sri Suparni, 49, juga sering kulakan dagangan barang impor ke Pasar Legi Solo, seperti bawang putih dan kacang India. Dia mencatat ada 10 pedagang di Pasar Bunder yang langganan kulakan bawang putih impor dari Solo. ”Kalau untuk bawang putih itu adanya ya impor dan kulakannya hanya di Solo. Alternatif lainnya agak susah,” tambah dia.
Yani, 55, pedagang bumbu dapur di Pasar Sunggingan, Boyolali, terus memantau informasi mengenai situasi kebakaran Pasar Legi, termasuk mencari informasi kondisi kios yang biasa menjadi tempat kulakannya. Namun setelah berkomunikasi dengan para tengkulak langganannya, kebakaran tidak melanda seluruh kawasan dan hanya melanda sebagian kios mereka.
Seorang pedagang kebutuhan pokok di Pasar Ir. Soekarno, Sudarmi, memprediksi stok komoditas pangan milik pedagang bakal habis dua-tiga hari lagi. Jika tak ada pasokan dari Pasar Legi, kemungkinan para pedagang mengambil barang di pasar lainnya seperti Boyolali. (Bayu Jatmiko Adi/Tri Rahayu/Cahyadi Kurniawan/Akhmad Ludiyanto/Bony Eko Wicaksono/JIBI)