Produksi Petai Wonogiri Capai 6 Ton/Tahun

WONOGIRI—Produksi petai di Wonogiri mencapai 5.000 ton-6.000 ton /tahun. Jumlah itu dihasilkan dari 245.000-247.000 batang pohon produktif yang tersebar di seluruh kecamatan.
Data yang dihimpun Koran Solo dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Wonogiri, Selasa (30/10), produksi petai pada 2017 tercatat 55.672 kuintal atau 5.567,2 ton yang dihasilkan dari 235.147 batang pohon, 81.788 batang di antaranya pohon produktif. Produksi tersebut naik 5.34,8 ton dari produksi tahun sebelumnya. Pada 2016 produksi komoditas bernama latin parkia speciosa tersebut tercatat 50.324 kuintal atau 5.032,4 ton. Padahal jumlah pohon pada tahun itu lebih banyak, yakni 347.726 batang. Pada 2016 produksi tak bisa lebih banyak dari 2017 karena pohon yang produktif lebih sedikit. Pada 2016 pohon produktif tercatat 69.284 pohon.
Sementara, produksi 2015 tercatat 66.345 kuintal atau 6.634,5 ton yang dihasilkan dari 235.910 pohon, sebanyak 98.089 di antaranya kategori pohon produktif. Pada sisi lain, produksi hingga triwulan II atau Juni tahun ini tercatat 27.716 kuintal atau 2.771,6 ton. Produksi itu dihasilkan dari 230.032 batang pohon, sebanyak 46.985 batang pohon di antaranya produktif.
Kasi Hortikultura Bidang Produksi DPP Wonogiri, Joko Riyanto, mengatakan produksi petai mencapai puncak saat panen raya Oktober-November. Saat panen raya seperti sekarang biasanya harga anjlok Rp500/lonjor petai kualitas biasa, Rp1.000/lonjor petai super.
Pada hari normal atau awal masa panen raya, harga masih tinggi, yakni Rp1.000/lonjor petai biasa dan Rp3.000-Rp4.000/lonjor petai super. Saat produksi melimpah banyak warga mengirim petai hingga Jakarta, Surabaya, dan daerah-daerah di Soloraya.
“Wilayah penghasil petai tersebar di seluruh kecamatan. Namun, penghasil terbesar ada di sisi timur, seperti Jatisrono, Kismantoro, Karangtengah, Slogohimo, dan Purwantoro. Dalam satu tahun produksi di kecamatan tersebut mencapai 400 ton hingga 900 ton,” kata Joko.
Dia melanjutkan sejak dahulu banyak warga menanam pohon petai. Sebab, hasil penjualan petai dapat menjadi penopang ekonomi di masa paceklik saat kemarau seperti sekarang. Pada kondisi tersebut produksi petai bagus, terlebih saat panen raya. (Rudi Hartono)