Bahaya Diabetes pada Anak

Dewi Andriani
redaksi@jibinews.co

Di usianya yang saat itu menginjak 9 tahun, Fulki Baharuddin Prihandoko kerap ngompol atau pipis saat tidur malam hari. Tidak ada kecurigaan yang berarti, karena memang sebelum tidur Fulki sering merasa haus dan menenggak air putih sebanyak 1 liter sehingga kondisi tersebut yang dianggap sebagai penyebabnya sering ngompol.
Kedua orang tuanya pun lantas memeriksakan Fulki ke dokter anak yang kemudian memberinya obat infeksi saluran kemih. Memang saat itu kebiasaan ngompolnya sempat terhenti tetapi muncul kembali setelah obatnya habis. Uki lalu dicek ke dokter urologi, ternyata tidak ada masalah apapun pada saluran kemihnya.
Lambat laun, kedua orang tuanya semakin merasa aneh dan curiga ketika melihat lantai kamar mandi terasa lengket dan dihinggapi semut. Apalagi berat badan buah hatinya tersebut terus menurun bahkan hampir 10 kilogram, rambutnya sering rontok, dan mengeluhkan lemas.
Akhirnya Uki dibawa ke dokter untuk dilakukan pengecekan mendalam, termasuk pemeriksaan gula darah. Betul saja, ternyata saat itu gula darahnya mencapai 750 mg/dL. Sangat tinggi, jauh melebihi batas normal gula darah yaitu 70 hingga 180 mg/dL.
“Ternyata Fulki menderita diabetes tipe 1. Kami semua tidak ada yang menyangka karena dia jarang mengonsumsi makanan manis, badannya pun cukup ideal sebelum didiagnosis diabetes,” ujar Aisyah Rahma, ibunda Fulki.
Sejak saat itu, bocah yang kini telah menginjak usia 12 tahun, harus rutin menyuntikkan insulin ke tubuhnya sebelum makan, sebanyak 4 kali sehari untuk mengontrol kadar gula darah.
Memang tidak mudah bagi anak sekecil itu untuk terus memberikan suntikan insulin ke tubuhnya, yang bahkan harus dilakukan seumur hidup. Apalagi dia harus rutin melaporkan kadar HbA1C atau konsentrasi gula darah dalam jangka panjang ke dokter.
Namun, berkat dukungan semua pihak keluarga dan teman, siswa kelas VII SMP Al Azhar Jakarta tersebut tetap semangat dan percaya diri. Fulki bahkan tidak menjadikan penyakitnya tersebut sebagai penghalangnya dalam meraih prestasi dan cita-citanya. Dia aktif mengikuti berbagai kegiatan di sekolah.
Fulki hanya satu dari 1.213 penderita diabetes melitus tipe 1 di Indonesia. Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) jumlah penderita diabetes tipe 1 pada anak usia 0 hingga 18 tahun melonjak 700% selama 10 tahun terakhir.
Dokter spesialis anak sekaligus Ketua Pengurus Pusat IDAI Aman Bhaktu Pulungan mengatakan bahwa diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah dan siapa pun bisa mengalaminya. Paling banyak terjadi pada anak usia 5 taun hingga 14 tahun.
Faktor penyebab diabetes tipe 1 tidak terlalu berkaitan erat dengan gaya hidup tidak sehat, seperti halnya diabetes tipe 2. Melainkan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kecenderungan genetik, faktor lingkungan, sistem imun yang menurun, dan sel beta pankreas yang peranannya masing-masing terhadap proses diabetes tipe 1 belum diketahui.
Aman mengatakan bahwa jika penyintas diabetes tipe 1 terlambat terdeketsi secara dini, dapat mengalami komplikasi dan penyakit berat lainnya seperti odema otak, serangan jantung, serta koma diabetik yaitu kehilangan kesadaran karena kadar glukosa pada darah sangat tinggi.
“Sekitar 72% di antaranya baru dibawa ketika sudah menderita komplikasi koma diabetik karena orang tua merasa anaknya sehat dan adanya anggapan bahwa anak tidak mungkin terkena diabetes,” ujarnya.
Gejala Diabetes
Diagnosis dini, terutama kepedulian orang tua terhadap kondisi anak sangat penting dilakukan sehingga dapat menurunkan risiko komplikasi pada anak.
Beberapa gejala diabetes melitus yang perlu diwaspadai antara lain ketika anak banyak makan dan terus merasa lapar meski baru selesai makan tetapi berat badan bukannya meningkat malah menurun drastis. Ini terjadi karena ketidakmampuan tubuh menyerap gula darah sehingga jaringan otot dan lemak menyusut.
Selain itu, anak juga akan merasa haus terus menerus sehingga anak sering minum. Namun banyaknya cairan yang masuk tidak diimbangi kemampuan penyerapan tubuh terhadap cairan sehingga anak diabetes lebih sering buang air kecil, terutama pada malam hari bahkan sering ngompol.
Selain itu, anak juga merasa mudah lelah dan mengalami gangguan emosi karena tubuhnya tidak mampu menyerap gula dari makanan sehingga membuatnya kekurangan energi. “Tanda darurat lain yang perlu diwaspadai yaitu sesak napas, dehidrasi, syok, dan napas berbau keton. Kalau sudah ada tanda-tanda begini, orang tua harus segera memeriksakan anak dan mengecek kadar gula darahnya,” jelasnya.
Aman menuturkan bahwa anak dengan diabetes tipe 1 harus melakukan pengobatan dan menyuntikan insulin seumur hidup karena tubuhnya sudah tidak lagi mampu memproduksi insulin sebab sistem kekebalan tubuh telah menghancurkan semua sel yang memproduksi insulin di dalam pancreas.
Berbeda halnya dengan diabetes tipe 2 yang kadar gula darahnya dapat dikelola dengan perubahan gaya hidup dan obat-obatan sehingga tidak perlu menyuntikan insulin seumur hidup.
“Meski demikian, bukan berarti penderita diabetes tipe 1 tidak bisa hidup layaknya anak normal, mereka juga memiliki harapan untuk menjalani hidup seperti yang diimpikan dengan penuh semangat,” tuturnya.
Selain diabetes tipe 1, anak-anak ternyata memiliki risiko terkena diabetes tipe 2 yang biasanya terdiagnosis pada usia pubertas atau lebih tua. Biasanya, diabetes tipe 2 rentan dialami anak yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas.
“Selain ditandai denga gejala yang tadi saya jelasnya, anak dengan diabetes tipe 2 memiliki ciri-ciri fisik yang sering ditandai dengan adanya bagian kulit yang menjadi gelap seperti di leher dan ketiak,” ujarnya.
Untuk menghindari anak dari risiko diabetes, Arman menyarankan agar orang tua mengajarkan metode 5210 kepada anak. Yaitu 5 kali makan buah dan sayur, maksimal duduk selama 2 jam, sisihkan waktu 1 jam untuk berolahraga, dan tidak mengonsumsi gula sama sekali atau 0.
Sementara itu, Cut Putri Ariene, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan mengingatkan, pentingnya melakukan kontrol metabolik secara baik sehingga anak dapat tubuh dan berkembang secara optimal.
Kontrol metabolik tersebut dilakukan dengan mengupayakan kadar gula darah berada dalam batas normal tanpa mengakibatkan anak kekurangan glukosa dalam darah. Hal itu akan bahaya juga jika anak kekurangan glukosa. (JIBI/Bisnis Indonesia)