Mencegah ’Pembunuh’ Wanita

Sekitar pertengahan tahun lalu, dunia hiburan sempat berduka dengan meninggalnya artis dan penyanyi Yuli Rachmawati yang akrab disapa Julia Perez akibat kanker serviks atau kanker mulut rahim stadium empat.
Julia Perez atau Jupe harus berjuang melawan kanker serviks selama 3 tahun, sejak pertama kali dirinya divonis pada 2014, sebelum akhirnya tutup usia pada Juni 2017. Faktanya, kanker serviks memang menjadi salah satu penyakit paling mematikan bagi wanita.
Berdasarkan data yang dirilis WHO, akan ada satu perempuan Indonesia yang meninggal dalam 1 jam setiap harinya karena kanker serviks. Bahkan, jumlah penderita kanker serviks di Indonesia merupakan nomor dua terbanyak di dunia.
Melihat kondisi tersebut, Sarwendah Tan, istri dari presenter Ruben Onsu menjadi semakin peduli terhadap kesehatan reproduksinya guna mencegah timbulnya kanker serviks. Apalagi mantan personel Cherrybelle tersebut termasuk yang ikut menyaksikan sendiri perjuangan Jupe dalam melawan penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya.
“Saat itu aku melihat sendiri bagaimana proses perawatan dan pengobatannya. Sejak itu aku semakin sadar pentingnya pengetahuan mengenai kanker serviks dan pencegahannya,” ujarnya.
Sarwendah yang didapuk sebagai duta kanker serviks ini pun aktif mengajak para wanita untuk melakukan suntik vaksin Human Papilloma Virus (HPV) atau deteksi dini dengan melakukan pengecekan melalui pap smear bagi yang sudah menikah.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap persoalan reproduksi sebagai hal tabu dan belum memahami pentingnya memberikan vaksin. Banyak pula yang beranggapan bahwa vaksin hanya diberikan untuk orang yang memiliki masalah kesehatan. Bahkan ada pula yang mengaitkan vaksin HPV dengan AIDS.
Wanita yang aktif sebagai Duta Kanker Serviks ini mengaku telah mencari berbagai informasi mengenai vaksin HPV bahkan sejak belum menikah. Saat itu pengetahuan masyarakat mengenai bahaya kanker serviks masih sangat minim.
Upayanya tersebut ternyata mendapat cibiran dari sejumlah orang yang memiliki pemikiran negatif, tetapi Sarwendah tidak mengindahkan. Baginya, mencegah lebih baik daripada mengobati.
Dia sendiri sudah melakukan suntik HPV 2 kali sebelum menikah. Namun ketika akan melakukan suntikan ketiga, ibunda dari Thalia Putri Onsu ini hamil sehingga harus dihentikan. Baru setelah melahirkan, dia melanjutkan suntikan ketiga.
Vaksin HPV sendiri menjadi upaya pencegahan primer kanker serviks karena membantu tubuh membentuk antibodi terhadap virus HPV yang menjadi penyebab utama kanker serviks.
Kepala Bidang Pelayanan Sosial Yayasan Kanker Indonesia Provinsi DKI Jakarta Venita mengatakan bahwa kanker serviks sangat mematikan karena tidak ada tanda-tanda yang dirasakan pada saat stadium awal.
Biasanya, beberapa gejala seperti pendarahan, keputihan yang berbau, sulit buang air kecil, dan nyeri panggul baru muncul pada saat kanker serviks masuk stadium akhir sehingga pertolongan medis untuk menanganinya seringkali terlambat.
Pap Smear
Pada tahap awal, kanker serviks baru ditemukan pada lapisan sel-sel yang melapisi jaringan epitel leher rahim dan tidak memiliki gejala apa pun. Cara yang paling tepat untuk mendeteksi lapisan sel tersebut adalah melalui pap smear, khususnya bagi wanita yang sudah aktif secara seksual.
“Kalau sudah ada gejala, sudah mulai melebar dan membesar virusnya secara signifikan, sudah lebih sulit ditangani daripada yang belum ada gejalanya,” ujarnya.
Deteksi melalui pap smear sangat singkat hanya dalam hitungan menit. Pada saat itu, petugas kesehatan hanya akan mengambil sedikit contoh sel dalam serviks untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium. Jika ditemukan adanya kelainan pada sel serviks, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter kandungan untuk mencegah sebelum berkembang menjadi semakin ganas.
“Pap smear ini bukan untuk mengobati, sifatnya hanya untuk mendeteksi secara dini,” ujarnya.
Menurut Venita, vaksin HPV juga tidak bersifat untuk mengobati tetapi melindunginya dari virus HPV nomor 16 dan nomor 18 yang menjadi penyebab utama munculnya kanker serviks. Akan lebih efektif jika digunakan oleh anak perempuan pada usia 9 tahun—13 tahun.
Pada anak-anak vaksin hanya perlu diberikan dua kali, yaitu pada saat pertama kali disuntikkan dan 6 bulan sampai 12 bulan setelahnya, sedangkan pada wanita yang sudah remaja dan dewasa vaksin diberikan sebanyak tiga kali dalam setahun yaitu pada saat pertama kali disuntikkan, lalu dilanjutkan 2 bulan atau 3 bulan kemudian, dan 6 bulan setelah dosis pertama.
“Dengan dua kali atau tiga kali vaksin, itu sudah melindungi seumur hidup sehingga tidak perlu melakukan lagi,” ujarnya.
Dia juga menyebutkan bahwa vaksin HPV tidak hanya dapat diberikan pada kaum hawa, lelaki pun bisa mendapatkan vaksin. Namun, fungsinya bukan untuk mencegahnya terkena kanker serviks tetapi menghindari pasangannya dari kanker serviks yang berasal dari virus HPV laki-laki tersebut.
Lelaki juga memiliki peran dalam rantai penularan virus HPV. Pada laki-laki virus HPV bisa berbentuk kutil kelamin, yaitu berwujud benjolan mirip daging tumbuh di sekitar kelamin dan anus yang mengakibatkan rasa gatal. (JIBI/Bisnis Indonesia/Dewi Andriani)