Kangen Emak, Seorang Napi Berusaha Kabur

KLATEN—Gara-gara kangen emak, Hendra Irawan alias Landak, 25, narapidana (napi) Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIB Klaten berusaha kabur dengan melompat pagar. Namun, berkat kesigapan personel keamanan LP, percobaan kabur itu berhasil digagalkan.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala LP Kelas IIB Klaten, Jaka Heri, menuturkan percobaan kabur itu bermula saat tiga warga binaan LP kerja bakti di luar sel, Rabu (14/8) pagi. Ketiganya diawasi oleh empat petugas keamanan. Ketiga napi itu sebetulnya sudah menjalani asimilasi sehingga diperbolehkan mengikuti kerja bakti di luar.
Ketiganya termasuk Hendra juga melakukan bersih-bersih seperti biasanya. Hendra juga sempat mengobrol dengan petugas di sela-sela kerja bakti. Saat ia menyiram tanaman, ia lalu melompat pagar. “Kami lalu kerahkan semua personel untuk mengejar. Bahkan, petugas yang libur pun kami libatkan. Kejadiannya pagi sekitar pukul 08.30 WIB,” ujar dia, saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu sore.
Hendra Irawan merupakan napi atas kasus penganiayaan. Ia divonis penjara delapan bulan. Ia dijadwalkan bebas per 10 Desember mendatang.
Upaya pencarian mulai menampakkan hasil saat petugas yang memantau rumah Hendra di Dukuh Samiran, Desa Gondang, Kebonarum, melihatnya turun dari mobil. Pengawasan petugas dilakukan di warung makan dekat rumahnya. Petugas lalu mendekati Hendra, membujuknya agar kembali ke LP. “Hendra ditangkap di rumahnya pukul 11.00 WIB. Lalu, pukul 11.15 WIB, ia dibawa ke LP. Ia kembali dalam keadaan sehat dan tanpa perlawanan,” terang Jaka.
Saat ditanyai petugas, Hendra mengaku kangen emak dan anak-anaknya. Emak Hendra baru saja pulang dari operasi. Saat di rumah, Hendra tak langsung digiring ke LP. Petugas membiarkan Hendra menuntaskan rasa rindu kepada emaknya. Petugas juga berusaha menenangkan Hendra. “Kira-kira sehabis minum teh, yang bersangkutan kami bawa ke LP. Jadi enggak lama di rumah,” beber Jaka.
Kepala Keamanan LP Kelas IIB Klaten, Dwi Ediyanto, menambahkan begitu lari dari LP, Hendra menuju Alun-alun Klaten. Di sana, ia bertemu teman-temannya sesama anak punk. Ia bilang kepada teman-temannya bahwa dirinya sudah bebas dan minta diantar ke rumah. “Ketemu teman-temannya di pojok alun-alun dekat kamar mandi. Di sana pula ia berganti kaus seragam LP. Mobil itu sebetulnya taksi daring. Tapi, ia tak memesan lewat ponsel karena pengemudinya temannya,” kata Dwi. (Cahyadi Kurniawan)