Baru 7 Bulan Diresmikan Tanggul Embung Grembyuk Ambrol

SRAGEN—Tanggul setinggi 8 meter yang membendung Embung Guyup Rukun Grembyuk di Dukuh Grembyuk, Desa Brojol, Kecamatan Miri, Sragen, ambrol saat hujan deras yang mengguyur dukuh setempat, Rabu (14/11) pukul 16.30 WIB.

Tri Rahayu
redaksi@koransolo.co

Tanggul yang ambrol tersebut selebar 10 meter dan terletak di kanan dan kiri pintu air embung.
Warga setempat khawatir bila tanggul tersebut tak segera diperbaiki justru akan mengancam embung. Air embung yang keluar lewat sela-sela tanggul berpotensi mengakibatkan embung jebol. Kekhawatiran itu disampaikan Paino, 47, warga Grembyuk RT 018, Desa Brojol, Miri, saat ditemui Koran Solo di lokasi embung, Kamis (15/11). Paino menyampaikan embung itu dibangun gotong-royong antara warga dengan aparat TNI dan diresmikan pada April 2018. Paino menunjukkan prasastri peresmian yang terletak di sebelah selatan embung.
Prasasti tersebut ditandatangani Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati dan Dandim 0725/Sragen Letkol (Arh) Camas Sigit Prasetyo pada 11 April 2018. Embung itu dibangun lewat program Karya Bakti TNI ke-13 Manunggal Guyup Rukun Kabupaten Sragen 2018.
“Rabu sore itu hujannya deras dan cukup lama. Embung itu penuh hanya dalam waktu 15 menit. Air limpasan dari kampung tidak masuk ke embung tetapi mengalir di sisi selatang embung dan menghantam talud aliran buangan air di sisi selatan. Talud ambrol diikuti tanah di bagian tanggul. Tanahnya memang tidak padat sehingga mudah tergerus air,” ujar Paino.
Dia mengatakan banyak warga yang melihat kondisi embung setelah hujan reda. Sebagian tanggul di sebelah utara pintu air sudah terkikis hampir menyentuh bibir dalam embung. Demikian pula tanggul di sisi selatan pintu air juga rentan ambrol lagi. “Air masih mengalir dari rembesan air embung di tanggul bagian bawah pintu air. Kalau tidak segera ditangani, embung ini bisa jebol karena intensitas hujan masih tinggi,” saran Paino.
Penanganan Darurat
Kepala Desa Brojol, Miri, Agus Tanto, saat ditemui Koran Solo di kantornya, sudah melaporkan kejadian itu ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen. Dia mendapat informasi bila petugas Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sragen sudah survei ke lokasi tanggul embung yang ambrol. Dia berharap ada penanganan darurat dari dinas teknis terkait.
“Embung itu dibangun dengan menelan dana Rp400 juta. Bangun saluran air dan tanggul yang ambrol itu kerugiannya bisa sampai Rp100 jutaan. Embung itu seluas 1,5 hektare yang berfungsi untuk pengairan tanaman padi di daerah sekitarnya. Saya sudah menghubungi dinas teknis semoga segera ada penanganan,” tutur Agus.
Kepala DPUPR Sragen Marija sudah memerintahkan Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Sragen Supardi untuk mengecek lokasi. Marija menyampaikan embung itu bukan pekerjaan DPUPR. “Embung itu bukan kegiatan dari DPUPR,” ujar Supardi seusai meninjau lokasi embung.
Komandan Kodim 0725/Sragen, Letkol (Kav) Luluk Setyanto mengaku sudah mendapat laporan tentang ambrolnya tanggul embung itu. Dia mengatakan permasalahan tersebut masih didiskusikan dengan pihak-pihak terkait. “Saya berencana tinjau lokasi. Sekarang baru perjalanan dari Semarang. Kalau saya analisis gambar yang dikirim anggota, embung tidak ambrol, hanya saluran air untuk limpahan airnya longsor,” tambahnya.