BISNIS KULINER DAGING ANJING Per Pekan, 100 Ekor Anjing Dipasok ke Solo

MARIYANA RICKY P.D.

Sudah tujuh belas tahun, Wagino, 50, warga Kelurahan Ngembatpadas, Kecamatan Gemolong, Sragen, menjadi pengusaha penyedia daging anjing di area Solo. Setiap pekan, tak kurang dari seratus ekor anjing dia pasok ke sejumlah warung yang akrab disebut satai jamu itu.
Angka seratus ekor tersebut merupakan minimal agar tetap balik modal. Anjing-anjing tersebut didapat dari wilayah Jawa Barat, utamanya Tasikmalaya. Dia mengaku anjing-anjing itu sengaja diternak dan disuplai ke pengepul yang lantas sampai ke tangannya.

Perjalanan dilakoni Wagino menggunakan truk kepala kuning yang membutuhkan waktu sekitar 20 jam pergi-pulang. Ia lantas menjualnya senilai Rp25.000-Rp30.000 per kilogram atau mulai dari Rp250.000 per ekor.
“Di kampung sini ada belasan warga dengan pekerjaan yang sama. Kamis [15/11] saya baru saja antar. Tidak pernah dibawa ke rumah, kami drop di salah satu titik, mereka yang ambil. Dibagi-bagi,” kata dia, saat berbincang dengan Koran Solo, Kamis.
Wagino mengatakan anjing didatangkan di daerah itu lantaran sudah tidak ada anjing lokal. Ada beberapa anjing liar dan jamaknya adalah anjing yang dipelihara. Umurnya sekitar enam, tujuh bulan, sampai satu tahun. Untuk yang umur satu tahun jarang. Bobot paling kecil 7 kilogram. Anjing kan umurnya cepat sekali tidak seperti kambing. Satu indukan bahkan bisa beranak 9 ekor,” jelas Wagino.
Ia juga mengaku memiliki surat jalan dari Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan (Disnakan) setempat sehingga bisa membawanya sampai ke Solo. “Kalau enggak ada ya susah, tho. Sudah dicegati [pintu masuk/keluar wilayah kabupaten/provinsi]. Ada surat saja kami masih memberi ‘uang rokok’.”
Wagino menolak aktivitasnya itu dianggap ilegal. Ia beralasan tak ada larangan khusus ataupun sosialisasi terkait hal tersebut. Sementara, peminat olahan daging anjing tetap ada. “Kepercayaan orang beda-beda. Tidak makan babi tapi makan anjing juga ada. Kalau dilarang, ya pemerintah harus menyediakan solusi agar kami tidak kehilangan pekerjaan. Bayangkan berapa rantai dan pekerja yang menganggur jika usaha ini dilarang,” tuturnya.
Ihwal perlakuan, Wagino menganggap tidak ada yang salah jika anjing-anjing itu dimasukkan karung dan diikat mulutnya. Karena, bagian kepala tetap di luar sehingga masih bebas bernapas. Pakan dan minum pun tetap diberikan sepanjang perjalanan dari kota asal ke Solo. “Meski begitu tetap ada penyusutan bobot. Entah 300 gram atau 500 gram, bobot turun dari timbangan awal,” kata dia.
Penyedia lain, Sukamto, juga meyakini tak ada anjing curian di antara dagangannya. Hal itu dibuktikan dengan kondisi fisik sehat anjing-anjing itu saat diangkut ke Solo. Jika anjing itu curian, jamaknya sudah dalam kondisi tidak sehat atau bahkan diracun sebelum ditangkap.
“Kalau ada anjing agresif saja kami suntik bius. Artinya tidak dibunuh atau digebuki. Pengepul juga sudah paham mana anjing agresif dan tidak. Moncong yang diikat bertujuan mencegah gigitan,” kata dia.
Badan Organisasi Dunia (WHO) mengindentifikasi perdagangan daging anjing merupakan penyumbang utama penyebaran penyakit rabies di Indonesia. Data dari Dinas Peternakan Jawa Barat menyebut daerah (rawan) tertular rabies di Jawa Barat, di antaranya adalah Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Cianjur, Kabupaten Bandung, Garut, dan Tasikmalaya. Sementara, Jogja dan Solo sebagai daerah tujuan para pemasok sudah bebas rabies.
Data dari Animal Friends Jogja (AFJ) menyebut ada 12.840 anjing yang disembelih di Solo tiap bulan pada 2017. Penggerak Dog Meat Free Indonesia (DMFI) Solo, Go Mustika, menyebut perilaku rantai perdagangan daging anjing sudah melanggar animal welfare (kesejahteraan hewan).
Selain rantai yang panjang saat distribusi, dari penangkap, pengepul, distributor sampai warung diyakini tidak menggunakan aturan-aturan kesejahteraan hewan. Saat dijagal, anjing biasanya di potong di area yang terbuka dan disaksikan oleh anjing yang masih terikat mulut dan kakinya. ”Sudah menunggu berhari-hari, belum disembelih, tidak diberi makan, dan menyaksikan teman-temannya dibunuh. Kasihan sekali,” ucapnya.
Dia juga terus meminta kepada masyarakat untuk bersama mendorong pemerintah melarang total konsumsi daging anjing. Upaya yang dilakukan di antaranya adalah dokumentasi sebagai bukti pelanggaran animal welfare. Mereka juga mengumpulkan tanda tangan petisi bertajuk 1.000.000+ Signatures From Around The World United In Calls For A Dog and Cat Meat Free Indonesia. (JIBI)