Polemik Sirkus Hidung Botol

Lumba-luma yang dijadikan objek pertunjukan dalam sirkus kerap mengundang polemik. Kelompok pembela hak-hak binatang menjadi yang terdepan untuk menolak lumba-lumba dijadikan tontonan dalam sirkus dengan alasan utama, eksploitasi dan kekejaman terhadap lumba-lumba. Berikut laporan yang dihimpun wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.
redaksi@koransolo.co

Berbagai praktik sirkus lumba-lumba masih terjadi di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Kota Jogja, salah satunya di gelaran Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) 2018. Surat protes dari Animal Friends Jogja (AFJ) sempat muncul terhadap pertunjukan lumba-lumba di sekaten.
Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY menyatakan perusahaan penyelenggara sirkus satwa yang ada di Sekaten 2018 telah mengantongi izin sampai 2019. “Pertunjukan itu sudah mengantongi izin,” kata Kepala BKSDA DIY, Junita Parjanti, awal bulan ini.
Bagi para pendukung hewan, praktik sirkus lumba-lumba termasuk di antara bentuk-bentuk kekejaman dan eksploitasi terburuk untuk lumba-lumba. Bertahun-tahun, lumba-lumba diletakkan dalam kurungan secara terus menerus. Perampasan makanan dan suara keras selama pertunjukan diyakini membahayakan kesehatan fisik dan mental mereka.
Apalagi mereka, si hidung botol, julukan lumba-lumba, dipaksa kelaparan sebelum sirkus, agar saat sirkus dapat dipaksa membuat atraksi demi mendapatkan makanan dari pelatih. Hal ini mengakibatkan stres, agresi dan kematian dini bagi mereka, si hidung botol.
Tak hanya saat sirkus saja lumba-lumba mengalami penderitaan. Setiap kali pasukan sirkus berpindah lokasi, lumba-lumba diletakkan di atas tandu dan dikurung dalam tangki selama 10-20 jam. Sebagian besar dari mereka diangkut dari kota ke kota sambil diangkut di belakang truk, sama seperti hewan-hewan pertunjukan lain seperti beruang madu, berang-berang dan kakaktua.
Sirkus lumba-lumba dan sirkus hewan lainnya juga marak terjadi di Jakarta dan cenderung menjadi virus yang susah dihilangkan. Pemandangan angkut mengangkut lumba-lumba seperti yang telah disebutkan menjadi hal yang wajar dalam arena kebun binatang dan pasar malam. Pendiri Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Femke Den Haas, mengatakan setelah diangkut, lumba-lumba mengalami penderitaan saat di dalam kolam kecil.
Menurut Den Haas, lumba-lumba adalah hewan yang sangat cerdas, sosial, dan akustik. Mereka menggunakan sonar mereka untuk bernavigasi di lautan. Namun. ketika mereka terjebak di kolam kecil, suara mereka terus memantul kembali ke arah mereka.
Kontroversi
Mereka pun bisa menjadi gila karena itu. Meskipun begitu, bagi pemerintah, perjalanan pertunjukan lumba-lumba masih dianggap sebagai alat konservasi efektif yang menghibur dan mendidik masyarakat tentang hewan yang terancam. Bagi mereka, selama kebutuhan kesehatan mereka terpenuhi, acara dapat dilanjutkan.
Setahun lalu, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih mengeluarkan izin konservasi yang memungkinkan sektor swasta untuk menjaga lumba-lumba liar di luar habitat alami mereka untuk konservasi. Legalitas pertunjukan satwa liar keliling juga masih diakui.
Indonesia diyakini sebagai satu-satunya negara di dunia yang masih menggunakan lumba-lumba dalam pertunjukan keliling. Selain Sekaten Jogja, ada WSI dan Pembangunan Jaya Ancol (PJA). Kedua perusahaan adalah badan konservasi berlisensi yang juga memiliki taman hiburan besar, tempat lumba tawanan dilatih untuk melakukan trik dan berenang bersama pengunjung.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dari 92 lumba-lumba yang disimpan di penangkaran di tempat-tempat wisata, setidaknya 70 dari mereka ditangkap dari alam liar oleh nelayan. Sisanya diyakini telah dibesarkan di penangkaran oleh tujuh lembaga konservasi yang juga menggunakan lumba-lumba untuk pariwisata.
Berdasarkan hukum Indonesia, sebenarnya ilegal untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, merawat, mengangkut, dan memperdagangkan hewan yang dilindungi dalam kondisi hidup. Selain itu, ilegal hukumnya mentransfer hewan yang dilindungi dari satu tempat ke tempat lain di dalam atau di luar negeri.
Namun, ada pengecualian. Tindakan-tindakan yang disebutkan di atas dapat dilakukan secara sah jika tujuannya adalah untuk penelitian, sains atau melindungi hewan yang dilindungi. Undang-undang juga mewajibkan pelestarian dilakukan dalam bentuk perawatan manusia atau pembibitan di penangkaran oleh institusi yang ditunjuk. Di sinilah kontroversi muncul.
Menunggu Dibebaskan
Pasalnya, tidak jelas bagaimana alurnya lumba-lumba yang ditangkap berakhir di tempat wisata, meskipun mereka dianggap sebagai lembaga konservasi oleh pemerintah. Konservasi lumba-lumba tetap menjadi wilayah abu-abu di Indonesia. Selama program rehabilitasi dan pemuliaan mereka, banyak lumba-lumba harus melakukan trik, berenang bersama turis, atau menghabiskan waktu mereka melakukan sirkus. Apalagi karena pariwisata lumba-lumba terus berkembang, penggunaan hewan untuk hiburan telah menyebar ke hotel dan resort.
Di Bali, ada resort yang memungut bayaran sekitar Rp1,5 juta untuk berenang selama 45 menit dengan lumba-lumba di kolam yang diklorinasi dan Rp1 juta untuk menyaksikan lumba-lumba melakukan trik. Pengunjung juga dapat bergabung dengan terapi lumba-lumba, yaitu pengobatan yang diklaim resor akan membantu pengobatan anak-anak dengan down syndrome, autisme dan gangguan mental. Lumba-lumba itu mereka disimpan di kolam renang berukuran 10×20 meter di tepi laut.
Meskipun begitu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mempertahankan setiap badan konservasi lumba-lumba berlisensi dan badan yang memiliki daya tarik asal memenuhi standar resmi. Menurut Direktur Konservasi KLHK Bambang Dahono Adji, evaluasi secara teratur dilakukan untuk memastikan fasilitas lumba-lumba disimpan tidak berbahaya bagi mereka. “Itu juga sekalian pemuliaan, di tempat itu mereka [lumba-lumba] bisa berkembang biak,” kata Adji.
Namun, aktivis hewan mempertanyakan keefektifan dan transparansi program, dengan alasan kurangnya bukti ilmiah untuk membuktikan lumba-lumba yang benar-benar ditangkarkan. Kekhawatiran telah dikemukakan tentang kemungkinan pencucian hewan liar melalui pusat penangkaran karena tidak ada lumba-lumba yang tertangkap yang memiliki microchipped.
“Sangat sulit melacak asal mereka atau kapan mereka tiba di pusat konservasi. Ini juga sangat mudah bagi pemilik acara untuk bermain-main dengan data ini dan berbohong kepada pihak berwenang, ”kata Den Haas. (JIBI/harianjogja.com/channelnewsasia.com/onegreenplanet.org/independent.co.uk)