KEMBANGKAN PRODUK HERBAL Perbanyak Rilis Bahan Baku

JAKARTA—Pemerintah diminta menambah rilis tentang tanaman dan biotua laut yang telah lolos uji toksisitas. Hal itu untuk memperkuat industri herbal di Indonesia.

Anggara Pernando
redaksi@koransolo.co

Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Indonesia, Irwan Hidayat, menjelaskan saat ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru merilis sekitar 350 lebih jenis tanaman yang diperkenankan sebagai bahan baku. Padahal Indonesia saja memiliki lebih dari 30.000 jenis tanaman dan biota laut yang potensial dijadikan produk herbal.
”Regulator pemerintah sekarang sangat responsif. Setiap tahun mereka merilis tanaman yang telah rampung uji toksitasnya untuk dibagikan ke industri. Sehingga semakin banyak bahan yang dapat digunakan, maka produk herbal akan semakin menjadi patner kesehatan masyarakat,” ujar Irwan kepada Bisnis, pekan lalu.
Dia menjelaskan tiap tahun BPOM merilis 30 sampai 50 jenis bahan baku baru yang diizinkan menjadi bahan baku industri. Jika pemerintah dapat meningkatkan kecepatan uji, Irwan memperkirakan akan lebih banyak produk yang hadir di pasar.
Irwan yang juga Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.,  itu menyebutkan peluang produk jamu dan herbal diterima di masyarakat juga semakin besar. Gaya hidup yang ingin kembali ke alam serta peningkatan pendapatan.
”Kami di Sido Muncul menargetkan dapat tumbuh 10% di 2019,” kata Irwan.
Irwan menjelaskan meningkatnya pengakuan industri herbal terlihat dengan semakin banyaknya produsen yang hadir. Bahkan para produsen farmasi besar telah masuk ke bisnis gaya hidup sehat ini.
Modernisasi
Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Achmad Sigit Dwiwahjono menjelaskan pihaknya mendorong riset dan pengembangan untuk memperkuat industri jamu dan herbal.
Menurut dia, moderenisasi menjadi kunci mendorong industri jamu dan herbal tumbuh besar. Terutama mengubah proses produksi yang relatif tradisional menjadi modern.
Berdasarkan catatan Kemenperin, terdapat 1.247 produsen jamu, 129 di antaranya merupakan industri obat tradisional (IOT). Selebihnya termasuk dalam usaha kecil obat tradisional (UKOT) dan usaha mikro obat tradisional (UMOT). (JIBI)