Rumpun Bambu Roboh Timpa 3 Rumah

SOLO—Rumpun bambu roboh dan menimpa tiga rumah di Kampung Dipotrunan RT 003/RW 012, Kelurahan Tipes, Solo, Kamis (29/11) malam. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Petugas mengevakuasi rumpun bambu itu Jumat (30/11).
Pantauan Koran Solo, Jumat pagi, warga Dipotrunan dibantu warga RT 001/RW 017, Ngruki, Cemani, Grogol, Sukoharjo, dan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, Petugas Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) Kelurahan Tipes memotongi bambu itu.
Rumpun bambu tumbang menimpa rumah Indra Permana, Sholihin, dan Sarasto. Ketiganya berada di wilayah Dipotrunan. Sedangkan rumpun bambu itu berada di pinggir Kali Jenes yang berbatasan dengan wilayah Ngruki. Kondisi rumah tersebut tidak mengalami kerusakan parah, hanya beberapa genting yang tertimpa dan tembok rumah yang retak-retak.
Indra Permana menjelaskan pada pukul 20.30 WIB, tembok rumahnya seperti dihantam sesuatu. Indra lalu naik ke lantai II rumahnya dan melihat bambu yang ambruk tersebut mengenai seng rumah. ”Saya lalu memutar ke belakang rumah, melihat bambu yang tumbang sekitar pukul 20.30 WIB. Pada waktu itu bambu masih berayun-ayun akan ambruk. Bambu tidak segera ambruk karena tertahan tembok rumah saya. Pada pukul 21.00 WIB bambu langsung tumbang,” kata Indra.
Indra lalu melaporkan kejadian bambu yang tumbang tersebut ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solo, Kamis malam dan RW di RT 001/RW 017, Ngruki, Cemani, Grogol, Sukoharjo, karena kebetulan RT di desa tersebut tidak ada. Kerugian yang diderita Indra hanya genting-genting di rumahnya rusak. ”Paling kerugian genting rusak. Korban jiwa tidak ada,” jelas Indra.
Dia berharap bantaran Kali Jenes dibersihkan. Setiap banjir, ada bambu kintir dan tersangkut di jembatan. ”Sampah juga banyak dibuang ke sungai,” ungkap Indra.
Tanpa Ada Hujan
Warga RT 003/RW 012 Kampung Dipotrunan, Musino, mengaku mendengar suara gemuruh saat rumpun bambu itu tumbang menimpa rumah adiknya, Sholihin, dan dua tetangganya, Indra Permana dan Sarasto. Rumpun bambu tersebut tumbang setelah terjadi longsor tanpa ada hujan maupun kejadian alam lainnya. ”Adik saya kaget saat kejadian. Awalnya adik saya mendengar suara gemuruh seperti pohon yang akan tumbang. Untungnya adik saya enggak apa-apa saat kejadian. Kalau sampai terkena pohon itu kan bisa repot,” jelas Musino.
Ketua RT 003/RW 012 Kampung Dipotrunan, Dasman Niyanto, menjelaskan kejadian pada Kamis malam langsung dilaporkan ke BPBD Sukoharjo dan BPBD Solo.
Mereka melakukan kerja bakti pada Jumat pagi. Warga membawa gergaji, arit, dan bendo untuk memotongi bambu dan menyingkirkannya. Menurut Dasman, tempat terdampak bambu tumbang itu sulit diakses karena berada di pinggir sungai.
Akar rumpun bambu juga tergerus sehingga bambu itu tumbang. Dasman menjelaskan lokasi terdampak hanya bisa diakses dari Ngruki. Dari Kelurahan Tipes, lokasinya terhalang rumah warga di pinggir kali. ”Harapan kami bambu-bambu yang masih tertanam dan tidak ikut ambruk bisa dikurangi. Bambu-bambu yang tertanam itu sudah melebihi kapasitas. Karena kalau kerja bakti enggak sekalian merepotkan juga. Paling tidak bisa dua atau tiga hari bisa selesai kerja bakti,” jelas Dasman.
Dasman mengatakan tanah di pinggir sungai tergerus air. Sedang­kan rumpun bambu ber­kembang terus. Soal sampah-sampah yang ikut ambrol bersama bambu, Dasman mengatakan itu bukan ulah warga sekitar. Dia mengklaim RT-nya memiliki gerobak pengangkut sampah sendiri agar tidak membuang di sungai. ”Saya buatkan gerobak mandiri. Sampah juga berasal dari luar Kampung Dipotrunan,” jelas Dasman.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Solo, Eko Prajudhy Noor Aly, pembersihan bambu yang tumbang akan dilakukan pada Minggu (2/12). Kegiatan itu melibatkan BPBD Solo dan Sukoharjo, sukarelawan, warga, maupun petugas Satuan Linmas dari dua kelurahan. “Direncanakan pada Minggu [2/12] dilakukan pembersihan lagi,” kata Eko saat dihubungi Koran Solo. (Ratih Kartika)